banner
Foyer
. HOME
JARGON ROHANI
F.A.Q
GAMBAR ROHANI

Kontak Pengunjung

 

SYAIR LAGU ROHANI

 


INNER LINK
KATA BIJAK  
PELUANG dan LOWONGAN  

 
 

 

.

Last Update :

 

 

 

 

Google

Jika Aku Lemah, Aku Kuat
Khotbah oleh: Pdt.Dr.Eka Darmaputera (Alm)
dikutip oleh Eddy Sriyanto


Paul Tournier—seorang dokter, konselor, dan penulis berkebangsaan Swiss;dalam bukunya Creative Suffering, sebagaimana dikutip oleh Philip Yancey, mengungkapkan rasa ”surprise”nya setelah membaca sebuah artikel yang berjudul ”Orphans Lead the World” atau ”Para Yatim Piatu (yang) Memimpin Dunia”.
Artikel ini melakukan survai atas 300an tokoh, yang dinilai mempunyai dampak besar dalam perjalanan sejarah dunia. Setelah melakukan studi perbandingan yang mendalam, para peneliti itu menemukan adanya persamaan yang sangat menarik di antara tokoh-tokoh itu.
Yaitu, bahwa semua mereka telah dibesarkan sebagai yatim piatu. Baik secara aktual atau pun secara emosional. Maksudnya, mempunyai pengalaman buruk di masa kanak-kanak mereka. Termasuk dalam daftar tersebut, adalah nama-nama besar seperti Alexander Agung, Julius Caesar, Maximilien Francois Marie Isidore de Robespierre, George Washington, Napoleon Bonaparte, Ratu Victoria, Golda Meir, Adolf Hitler, Vladimir Ilyich Lenin, Jozef Stalin, dan Fidel Castro.
Tournier sendiri adalah seorang yatim piatu. Bahkan setelah kematian istrinya, ia berkata, ia kembali merasa sebagai yatim piatu lagi di usia tuanya. Tapi kali ini, pengalaman duka tersebut telah membawa perubahan besar baik dalam kepribadian, sikap, maupun pandangan hidupnya. Perubahan yang positif.
Sebelumnya ia menilai setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya—apakah itu keberhasilan atau kegagalan—, sebagai baik atau jahat, pada dirinya. Terserang influenza, misalnya, dengan sendirinya, adalah buruk. Sebaliknya, makan enak adalah baik. Kini ia menyadari, bahwa secara moral peristiwanya sendiri adalah netral. Tidak baik atau buruk pada dirinya. Terserang influenza lalu terpaksa tinggal di rumah, yang ternyata membuat ia terhindar dari kecelakaan kereta api yang fatal, adalah baik. Sebaliknya, makan enak tapi kemudian membuat kadar kolesterol naik drastis, adalah buruk. Iya, kan? Sesuatu itu baik atau buruk, tidak tergantung pada peristiwanya, melainkan pada manusia-nya.

TOURNIER juga menulis, ”Langka sekali kita menjadi tuan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Sering sekali, hal-hal yang tidak kita maui dan tidak kita sukai, itulah yang justru terjadi. Dan kita hanya bisa menerimanya. Namun begitu, bagaimana kita menyikapi dan meresponi peristiwa-peristiwa yang tidak kita pilih itu, adalah tanggungjawab kita sepenuhnya. Penderitaan an sich pada dirinya tidaklah bermanfaat. Apakah ia kemudian bermanfaat atau tidak, tergantung dari sikap kita. Di situlah tes yang sesungguhnya!
Apakah reaksi yang dikembangkan adalah reaksi positif, aktif, kreatif? Bila demikian, kelemahan bisa diubah menjadi sumber kekuatan. Kegagalan bisa dijadikan titik awal keberhasilan. Dan kesakitan tubuh menjadi wahana bagi pertumbuhan rohani.
Sebaliknya bila responnya negatif, maka kesakitan akan memadamkan semangat dan mematikan vitalitas. Pertolongan yang tepat serta diberikan pada saat yang tepat, akan amat menentukan perjalanan hidup yang bersangkutan selanjutnya. Tournier melihat tugasnya yang utama adalah menolong orang agar mampu memanfaatkan kesakitan menjadi pendorong perubahan yang positif.

ANDA pasti kenal buah durian. Orang baru dapat menikmati manfaat dan kelezatan buahnya, setelah membelah kulitnya yang tebal. Tindakan itu pasti amat ”menyakitkan”, tetapi tidak membinasakan. Sebaliknyalah! Ia membantu buah durian itu mempersembahkan segenap potensinya.
Martin Luther King Jr. juga berulang-ulang mengatakan hal yang serupa. ”Apa yang tidak menghancurkanku, menguatkanku”, katanya. Dan pasti begitu pula sikap para tokoh besar dunia. Gandhi, Solzhenitsyn, Sakharov, Tutu, Mandela.
Dengan sengaja MLK, Jr. memilih Alabama, yang terkenal dengan gubernur dan sheriff-nya yang amat rasialis, sebagai pusat perjuangannya melawan diskriminasi. Di situ, ia dipukuli, dipenjarakan, dan diperlakukan amat tidak manusiawi. Tapi ia menerimanya dengan sadar dan sabar. Ia yakin, bahwa hanya bila orang melihat dan mengalami sendiri jahatnya rasialisme dalam bentuknya yang paling ekstrem, mereka akan tergerak untuk berjuang. Tapi tidak, selama keadaan masih bisa ditolerir.
”Kekristenan,” katanya, ”menekankan bahwa salib selalu mendahului mahkota. Orang Kristen sejati mesti mau memikul salib. Kalau perlu, sampai salib itu meninggalkan parut luka yang perih. Sebab kota kebahagiaan cuma dapat dimasuki melalui jalan penderitaan”.

PENGALAMAN-PENGALAMAN kongkret para tokoh iman tersebut. membuat saya mampu melihat ajaran Yesus yang ”aneh” itu – ”Kotbah di Bukit” – dalam terang yang baru. Dulu saya berfikir bahwa kata-kata Yesus, ”Berbahagialah mereka yang miskin, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang teraniaya”, dan sebagainya itu, adalah kata-kata penghiburan bagi pengikut-pengikut-Nya yang nasibnya kurang beruntung di dunia ini.
Seolah-olah Yesus ingin mengatakan, ”Sebab kalian miskin, kesehatan kalian buruk, dan hati kalian selalu berduka, maka Aku bermaksud menghibur kamu. Aku juga menjanjikan berkat untuk hidup kalian di masa mendatang. Mudah-mudahan kalian lebih lega dan merasa ”enakan” sekarang”.
Tapi, saudara, Yesus tidak menjanjikan sesuatu untuk masa yang akan datang saja. Ia berkata, ”Berbahagialah yang …” ; bukan ”Berbahagialah nanti …”. Paulus juga mengalami paradoks iman itu sekarang, bukan baru nanti. ”Justru dalam kelemahanlah kuasa (Tuhan) menjadi sempurna ”. ”Jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:9-10).
Adalah reaksi yang normal dan wajar, bila orang menerima kesakitannya dengan rintihan, kegetiran, bahkan kegeraman. Karena itu, bila respon dan reaksi orang justru sebaliknya, tentu kita bertanya-tanya kepingin tahu. Apa sebabnya? Apa rahasianya?
Teologi Kotbah di Bukit, kadang-kadang disebut orang sebagai ”Teologi Jungkir Balik” (= Theology of Reversal). Bagi yang sinis, sering diejek sebagai ”Teologi Terbalik-balik”. Tapi bukan cuma di sini Yesus mengajarkan hal-hal yang menjungkir-balikkan norma-norma yang lazim. Ia juga mengatakan, ”Yang pertama akan menjadi yang terakhir” (Matius 19:30); ”Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Lukas 14:11); ”Yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling muda; dan yang memimpin menjadi pelayan” (Lukas 22:26). Dan sebagainya.

MENGAPA ini? Apa sih istimewanya ”orang-orang miskin” dan ”orang-orang menderita”, sehingga memperoleh tempat dan perhatian khusus dari Allah? Seorang biarawati Katolik, Monica Hellwig, sebagaimana dikutip oleh Philip Yancey, mendaftarkan ”nilai lebih” penderitaan dan kesakitan, tanpa memuja penderitaan dan kesakitan itu sendiri.
Ada sepuluh. :

  1. Penderitaan membuat orang menyadari kebutuhannya akan penebusan. Membuat ia terbuka untuk Injil.
  2. Kesakitan membuat orang sadar akan tergantungannya kepada Allah dan kepada sesamanya yang sehat. Tapi juga saling ketergantungannya dengan saudara-saudaranya senasib.
  3. Penderitaan membuat orang tidak mempertaruhkan pengharapan mereka kepada benda-benda, yang cuma memberikan kepuasan semu dan sementara.
  4. Penderitaan mendidik orang untuk tidak melebih-lebihkan kemandiriannya, melainkan belajar bersikap rendah hati.
  5. Penderitaan membuat orang lebih menekankan ko-operasi (= kerjasama) ketimbang kompetisi (= persaingan).
  6. Penderitaan memampukan orang membedakan kebutuhan dari kemewahan.
  7. Penderitaan mengajarkan kesabaran.
  8. Penderitaan memungkinkan orang mengenali perbedaan antara ketakutan yang wajar dan yang berlebihan.
  9. Penderitaan membebaskan orang untuk merealisasikan pangilan jiwanya.
  10. Karena tidak mempunyai banyak, yang bersangkutan tidak takut kehilangan banyak.

SADARLAH saya, mengapa tokoh-tokoh iman harus dan telah melampaui begitu banyak kesakitan dan penderitaan. Sebabnya adalah, karena ketergantungan kepada Tuhan, kerendahan hati, kesederhanaan, kerjasama, ketidak-tergantungan kepada kemuliaan dunia, adalah unsur-unsur mutlak bagi spiritualitas. Kualitas yang sulit diperoleh dari mereka yang bergelimang dalam kelebihan dan kemewahan bendaniah..
Masyarakat Korintus adalah masyarakat yang memuja penampilan eksternal luar ketimbang kualitas internal. Tapi masyarakat mana yang tidak demikian? Toh Paulus bangga dengan ”kelemahan”nya. Menjadikan salib sebagai pusat pemberitaannya—salib, yang dianggap ”kebodohan” dan ”kelemahan”.
Sejarah hidupnya sendiri telah mengajar dia mengalami, betapa kesakitan dan penderitaan adalah wahana yang efektif bagi anugerah Allah. Jika aku lemah, maka aku kuat. Semakin kita menyadari kelemahan kita, semakin kita akan mencari Allah. Dan semakin kita bergantung kepada-Nya, semakin kuat Ia akan mendekap kita. ***


RELIGIUS SEMU
Di antara empat belas perumpamaan yang ada dalam injil Lukas, perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai ini sangatlah unik karena dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus sepertinya ingin menonjolkan orang Farisi padahal selama Dia mengajar, figur orang Farisi ini jarang sekali disinggung selain itu, Tuhan Yesus juga memakai pemungut cukai dalam perumpamaan-Nya. Pada jaman itu, kedudukan orang Farisi di tengah masyarakat Yahudi sangatlah terpandang bahkan dianggap sebagai kelompok orang kudus sedangkan seorang pemungut cukai dipandang sangat hina dan dibenci oleh masyarakat Yahudi. Akan tetapi, dalam perumpamaan ini kedudukan orang Farisi di hadapan Tuhan sangatlah hina sedangkan pemungut cukai dianggap sebagai orang yang dibenarkan. Mengapa Tuhan Yesus menggunakan dua kelompok masyarakat yang mempunyai kedudukan bertolak belakang dalam perumpamaan-Nya?
Kita telah memahami bahwa dalam pelayanan Tuhan Yesus, kita selalu menjumpai dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama adalah sekelompok orang yang mendukung pelayanan Tuhan Yesus yang mengikuti kemanapun Tuhan Yesus pergi dan ikut terlibat di dalam pelayanan-Nya sedang kelompok yang kedua adalah sekelompok orang yang seolah-olah menghambat pelayanan Tuhan Yesus, mereka selalu mencari cara untuk menyalahkan dan menangkap Tuhan Yesus, salah satunya adalah kelompok orang Farisi. Apakah ini berarti Tuhan Yesus menggunakan figur orang Farisi dalam perumpamaan dilatar belakangi motif balas dendam karena orang Farisi ini selalu menghambat pelayanan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus adalah Allah yang mengasihi manusia berdosa maka Tuhan Yesus tidak mungkin menggunakan perumpamaan ini untuk balas dendam! Apakah hanya karena orang Farisi menganggap dirinya benar maka Tuhan Yesus “memojokkan“ orang Farisi di dalam perumpamaan-Nya di hadapan orang banyak? Tidak, sebab ada suatu kebenaran yang lebih dalam yang hendak diungkapkan Tuhan Yesus.
Seorang penafsir mengungkapkan bahwa perumpamaan Tuhan Yesus itu merupakan pencerminan dari sesuatu yang disebut sebagai religiusitas semu, yakni suatu religiusitas yang secara fenomena kelihatan benar namun sesungguhnya di hadapan Tuhan, semua itu palsu. Gordon Allport mengamati bahwa religiusitas adalah tindakan agamawiah. Berdoa, berpuasa, memberikan persepuluhan merupakan wujud dari tindakan agamawiah belaka dimana dalam berbagai bentuknya ada dua kemungkinan, yakni semu atau sejati. Coba bandingkan dengan Mat. 23, bagaimana Tuhan Yesus mengkritik para ahli Taurat dan orang Farisi maka jelaslah perumpamaan ini hanyalah salah satu contoh kasus dimana Tuhan Yesus ingin menunjukkan ada suatu sikap yang lebih dalam dan lebih penting daripada sekedar memandang remeh orang lain yang ditunjukkan orang Farisi.
Untuk membedakan barang yang asli dan palsu itu gampang-gampah susah karena sepintas kelihatan sama sehingga kalau tidak kita perhatikan dengan teliti maka kita akan mudah tertipu. Itu barulah sekedar barang maka dapatlah dibayangkan, bagaimana kesulitan membedakan antara religiusitas yang semu dan palsu. Hanya Tuhan yang tahu apakah religiusitas yang kita lakukan tersebut asli atau palsu. Kadang-kadang kita merasa tertipu dengan suatu fenomena yang nampak baik di depan orang banyak tetapi sesungguhnya di hadapan Tuhan tidaklah berarti apa-apa. Ada tiga ciri yang dimiliki oleh orang Farisi yang menunjukkan suatu religiusitas yang semu yang membuat orang tertipu, suatu religiusitas yang sangatlah mencengangkan di dalam perumpamaan ini.
1. Religiusitas semu: tindakan agamawiah hanya alat mencapai status terhormat.
Merupakan suatu kebiasaan bagi orang Farisi berdoa di perempatan jalan raya supaya orang lain menganggap mereka sebagai orang yang rohani dan kudus (Mat 6:5). Seorang sejarahwan Yahudi bernama Josephus mengungkapkan jumlah orang Farisi tidak lebih dari 6000 orang. Namun di antara berjuta-juta orang Yahudi, orang Farisi ini memiliki pengaruh sangat besar dan memiliki kedudukan yang terhormat, lebih besar dari statistik angka 6000 itu. Pengaruh orang Farisi tidak dapat dipandang remeh. Sejarah membuktikan bahwa pada jaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ada seorang Raja yang bernama Raja Alexander Yannaeus membuat suatu kebijakan yang menurut orang Farisi tidak benar, maka orang Farisi ini membuat suatu gerakan yang menjatuhkan Raja Alexander. Raja lain yang dijatuhkan, Raja Arestobulus II sampai harus melarikan diri karena adanya pemberontakan rakyat yang digalang oleh orang-orang Farisi. Namun apa yang dilakukan oleh orang Farisi lebih dari sekedar itu, ia juga mengkaji dan menambah peraturan-peraturan tertentu dalam hukum Taurat sehingga hukum Taurat yang tadinya hanya tertulis a sampai e, kini berubah menjadi a sampai k bahkan sampai z, dengan ditambah peraturan secara lisan.
Kedudukan terhormat yang dimiliki orang Farisi ternyata tidak ditunjukkan dalam sikapnya. Ketika berdoa, orang Farisi ini justru membandingkan dirinya dengan pemungut cukai yang ada di sebelahnya dengan kata lain ia ingin menonjolkan dirinya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain (Mat. 18:12). Dia sengaja membandingkan warna putih dengan warna hitam agar orang melihat sifat warna putih tersebut. Memang, apa yang diungkapkan oleh orang Farisi ini dalam doanya adalah benar tetapi Tuhan melihat hati. Tuhan melihat ada motivasi lain dari orang Farisi ini, Tuhan melihat hidupnya tidak merefleksikan statusnya. Dia tidak mengaitkan doanya dengan kehendak Tuhan, dia tidak mengaitkan dirinya yang adalah manusia ciptaan berdosa dengan Allah yang kudus. Tidak! Ia justru membandingkan dirinya yang seolah-olah lebih benar dengan orang lain yang ia anggap tidak benar. Melalui perumpamaan ini Tuhan ingin membukakan pada kita, inilah religiusitas semu yang ada dalam diri manusia berdosa. Bayangkan, kalau tidak ada kalimat Tuhan Yesus (Mat. 18:14) maka kemungkinan besar orang akan semakin mengagungkan orang Farisi dan menghina pemungut cukai. Doa, perpuluhan, puasa dan ibadah yang dilakukan orang Farisi adalah palsu belaka. Doa dan ibadah yang dilakukan tidak membuatnya semakin baik tetapi justru semakin menunjukkan keberdosaannya, menyeretnya semakin jauh dari Tuhan.


2. Religiusitas semu: Tindakan agamawiah hanya merupakan suatu kebiasaan buruk.
Setiap orang menyadari bahwa manusia pasti mempunyai kebiasaan dalam hidupnya, ada yang baik namun ada pula kebiasaan yang buruk. Sebagai contoh, setiap hari kita selalu bangun pagi untuk berolah raga maka itu menjadi suatu kebiasaan baik. Ada pula orang yang mempunyai kebiasaan buruk, yaitu lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Pertanyaannya sekarang adalah apakah mungkin tingkah laku religiusitas keagamaan dapat menjadi suatu kebiasaan yang buruk? Dalam konteks perumpamaan ini, bagaimana mungkin orang Farisi ini bisa mempunyai kebiasaan yang buruk, bukankah ia berada di dalam rumah Allah, bukankah ia sedang berdoa dan bukankah ia sedang beribadah?
Dalam Lukas 18:12, Lukas mencatat bagaimana orang Farisi dengan yakin berkata: “...aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari penghasilanku.“ Kebiasaan yang mereka lakukan memang baik, tetapi kebiasaan ini menjadi buruk karena ada motivasi buruk di dalamnya, ia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya lebih baik; kebiasaan yang mereka lakukan tidak membuat ia semakin dekat pada Tuhan. Inilah kebiasaan-kebiasaan yang dipandang baik oleh orang Farisi. Namun dilakukan dengan adanya nada kesombongan bahkan berani menantang dan membandingkan dengan kehidupan orang lain. Tuhan Yesus mengetahui kebiasaan buruk yang mereka lakukan tersebut maka dengan tegas dan kontras, Tuhan Yesus menyamakan mereka seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya tampak bersih namun sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran (Mat. 23:27-28). Ada lagi kebiasaan buruk lain yang dilakukan oleh orang farisi, yaitu menambah hukum demi hukum dalam hukum Taurat padahal hukum yang mereka buat itu tidak dapat mereka jalankan sendiri. Akibatnya, ketaatan yang nampak dalam diri mereka hanyalah ketaatan yang bersifat harafiah belaka. Tindakan agamawiah yang dilakukan oleh orang Farisi (Luk. 18:9-14) mungkin di hadapan manusia menjadi sesuatu hal yang begitu agung tetapi di hadapan Tuhan semua itu hanyalah kesia-siaan. Religiusitas semu semakin menggerogoti hidup mereka, semakin menjauhkan hidup mereka dari Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan diri kita, sampai seberapa jauhkah disiplin rohani yang kita lakukan seperti perpuluhan, puasa, berdoa dan pelayanan kita membuat kita semakin dekat dengan Tuhan atau justru menjauhkan kita dari Tuhan?


3. Religiusitas semu: Tindakan agamawiah hanya merupakan suatu ritual belaka.
J. Sidlow Baxter (yang terkenal di Indonesia dengan bukunya Menggali Isi Alkitab) menyebut orang-orang Farisi ini sebagai suatu kaum ritualis, yakni kaum yang sangat mementingkan detail-detail ritual, formalitas-formalitas ibadah, aturan-aturan hitam di atas putih yang mengatur segala kehidupan orang Yahudi pada saat itu khususnya yang menyangkut kehidupan beragama. Bahka ada orang yang mengatakan bahwa orang Farisi mempunyai hak begitu besar sehingga dia dapat menambahkan hukum demi hukum dalam hukum Taurat secara lisan. Di jaman modern ini, masih kita lihat contoh salah satu universitas di Amerika mempunyai motto: we are not just learn about the law of economics but we write it on, kami tidak hanya belajar mengenai hukum-hukum ekonomi dunia tetapi kami juga membuat hukum ekonomi itu sendiri. Dengan kata lain universitas ini ingin membanggakan dirinya. Demikian juga halnya dengan orang-orang Farisi ini berani menambahkan peratura-peraturan dalam hukum Taurat. Tingkah laku agamawiah hanya terikat sebagai ritual, tanpa adanya pemahaman terhadap esensi tingkah laku itu sendiri. Orang Farisi tidak menyadari arti puasa dan doa serta perpuluhan! Mereka justru menggunakannya sebagai cara untuk membenarkan diri dan bukan membawa diri semakin mengenal Allah dan kekudusan-Nya.
Bagaimana akibat diungkapkannya perumpamaan ini? Seorang penafsir mengatakan bahwa perumpamaan ini menimbulkan shock bagi orang pada jaman itu. Perumpamaan ini merombak paradigma orang tentang orang-orang Farisi, kalau sebelumnya orang menganggap orang Farisi sebagai orang yang terhormat kini orang mulai dibukakan kalau ternyata anggapan mereka selama ini terhadap orang Farisi adalah salah. Orang-orang Farisi telah terpaku pada hukum yang tertulis tanpa mengerti esensi dari hukum itu sendiri akibatnya mereka selalu mengkritik tindakan yang dilakukan Tuhan Yesus dan para murid-Nya seperti: makan pada saat orang Farisi berpuasa, melakukan sesuatu pada hari Sabat, dan masih banyak lagi. Mereka telah terjebak dengan suatu ritualitas belaka. Mereka tidak pernah mencari apa yang menjadi maksud dan kehendak Allah, mereka hanya mencari huruf-huruf dari hukum Allah. Religiusitas semu yang dilakukan oleh orang-orang Farisi sungguh berakibat fatal maka dengan tegas, Tuhan Yesus kembali mengecam mereka (Mat. 23:16). Orang Farisi tidak mengerti kebenaran tetapi ironisnya, mereka berani menambahkan hukum-hukum dalam hukum Taurat. Penambahan hukum itu hanya menjadi kuk yang memberatkan oran-orang! Lebih ironis lagi, mereka sendiri membuat hukum tetapi tidak pernah mau menyentuhnya (Mat. 23:4).
Lebih jauh lagi, apa akibat bagi orang Farisi yang melakukan religiusitas semu ini? Tuhan Yesus memandang mereka sebagai pemimpin buta (Mat. 23:16, 19, 24). Bahkan, orang Farisi tidak hanya terjebak dalam ritual semata. Mereka bersekongkol dengan para imam-imam kepala untuk bersepakat membunuh Tuhan Yesus (Yoh. 11:53). Ironis, bukan? Bagaimana mungkin orang yang berani menambahkan sesuatu ke dalam hukum Tuhan justru bersepakat membunuh Tuhan? Tindakan demikian tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang katanya “beragama.“ Biarlah kita mengevaluasi diri kita, ketika kita beribadah, berdoa dan melayani, apakah itu menjadikan kita lebih dekat dengan Tuhan ataukah justru menjauhkan diri dari Tuha? Apakh semua yang kita lakukan dalam kehidupan berjemaat ini akan membawa suatu keharuman bagi nama Tuhan ataukah tindakan itu hanya merupakan arogansi diri? Hati-hati, jangan sampai kita terjebak dalam ritualitas semu seperti yang dilakukan oleh orang Farisi. Biarlah kita menyadari keberadaan diri kita yang sesungguhnya seperti halnya pemungut cukai, mengaku bahwa diri adalah manusia berdosa di hadapan Tuhan dan akhirnya Tuhan berkenan pada kita. Tidak peduli berapa lama kita hidup tetapi yang perlu kita pedulikan adalah berapa dan bagaimana makna hidup kita? Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya tetapi ingatlah, biarlah semua itu menjadikan kita semakin dekat pada-Nya dan biarlah segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Amin. ?


Ringkasan Khotbah : 5 Juni 2005

Esensi atau Fenomena
Nats: Mat. 9: 14-17Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno


Sebagai warga Kerajaan Sorga sejati maka kita harus taat – hidup seturut dengan hukum Kerajaan Sorga yang disusun oleh Kristus Yesus, Sang Raja, hukum itu dikenal dengan “Khotbah di atas Bukit“ (Mat. 5-7). Jadi, seorang Kristen bukanlah orang yang sekedar mempunyai atribut Kristen tetapi harus berpaut dan terkait dengan status dan naturnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Hukum Kerajaan Sorga itu haruslah terimplikasi dalam hidupnya sehingga orang dapat melihat bahwa hukum yang Kristus tegakkan tersebut bukanlah sekedar teori belaka. Implikasi hukum Kerajaan Sorga oleh Matius dibagi dalam empat sub tema dan setiap sub tema terdiri dari 17 ayat (Mat. 8:1-17; 18-34; 9:1-17; 18-34) dan setiap sub tema memuat tiga cerita. Adapun dari keempat sub tema kita telah sampai pada sub tema ketiga dan cerita ketiga maka ada baiknya kita mengingat kembali sub tema yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu: Pertama, the Lordship of Christ, Kristus bukan sekedar Juruselamat tetapi Dia adalah Tuhan (baca: Tuan) berarti kita adalah budak-Nya. Seorang Kristen sejati seharusnya berorientasi pada Kristus yang adalah Tuan atas hidupnya. Orang yang mengaku warga Kerajaan Sorga tetapi hidupnya tidak mencerminkan hidup seorang Kristen sejati, tidak mengakui Kristus sebagai Tuannya maka ia bukan warga Kerajaan Sorga tetapi ia lebih cocok disebut sebagai seorang pengkhianat Kerajaan Sorga.
Kedua, the discipleship, pemuridan; kata “murid“ berkait dengan mengikut Kristus dan mengikut disini bukan bersifat sementara tetapi mengikut Tuhan Yesus harus totalitas tanpa syarat apapun. Menjadi murid Kristus berati kita belajar dari Kristus, dibentuk oleh Dia sehingga hidup kita menjadi hidup yang dikenan oleh-Nya.
Ketiga, separated, pemisahan; pengikut Kristus harus hidup kudus. Kudus berasal dari kata Qadosh (bahasa Ibrani) artinya dipisahkan dari dunia karena kita sedang mewakili atau memancarkan sifat khusus yang berbeda dengan dunia dan salah satunya adalah kesucian dimana sifat suci hanya ada dalam diri seorang anak Tuhan yang sejati. Jadi, kudus berbeda artinya dengan suci. Dan dalam sub tema ini, Matius memberikan tiga peristiwa dan orang seringkali terkecoh dengan ceritanya sehingga gagal menangkap esensi yang sesungguhnya.
Pada kisah yang ketiga, seperti kejadian sebelumnya, kali inipun orang Yahudi tidak puas dengan “kelakuan“ murid-murid Tuhan Yesus karena hari itu mereka puasa sedang murid-murid Tuhan Yesus tidak. Perlu diketahui, pengikut Yohanes Pembaptis bukan pengikut Tuhan Yesus. Para pengikut Yohanes Pembaptis masih menggunakan konsep Yudaime begitu juga dengan orang Farisi bahkan mereka termasuk dalam golongan orang yang paling keras dan fanatik dalam menjalankan ritual agama, salah satunya ritual puasa. Konsep puasa ini sudah muncul sejak perjanjian lama dimana puasa dimulai dari pagi hingga matahari terbenam sebagai tanda berakhirnya hari dalam satu hari. orang Yahudi berpuasa selama sehari penuh dan keesokan harinya barulah mereka makan. Perhitungan hari orang Yahudi dimulai dari jam 6 petang hingga jam 6 petang. Puasa dilakukan pada setiap hari pendamaian, the day of atonnement, yaitu tanggal 7 bulan 10 namuan dalam perkembangannya puasa berubah menjadi ritual agama. Orang Yahudi beranggapan bahwa Allah berkenan pada orang yang puasa Senin – Kamis. Dan hukum puasa ini mulai dibakukan. Berarti orang Yahudi minimum berpuasa selama dua kali seminggu atau 104 hari dalam setahun.
Hal puasa inilah yang diributkan oleh pengikut Yohanes Pembaptis. Dan jawaban yang Tuhan Yesus berikan sepertinya tidak menjawab apa yang menjadi pertanyaan mereka (Mat. 9:15) namun jawaban itu sangatlah kita mengerti sebaliknya ilustrasi yang diceritakan Tuhan Yesus (Mat. 9:16-17) ini sangat dimengerti oleh orang Yahudi tapi tidak dimengerti oleh kita sekarang. Jawaban Tuhan Yesus ini menjadi tanda sekaligus memposisikan diri dan membedakan diri-Nya dengan orang lain. Dengan puasa itu, orang Yahudi merasa dirinya “beragama“ dan “saleh.“ Tidak hanya puasa, orang Yahudi juga menjalankan aturan lain seperti disunat pada hari ke delapan, menjadi anak Taurat pada usia 12 tahun, mereka juga harus menjalankan aturan-aturan Sabat dan masih banyak aturan lain demi untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia adalah seorang Yahudi tulen.
Aturan puasa pertama kali dibakukan dalam kitab Imamat dan mempunyai konsep:
Pertama, kerendahan hati, orang merasa kalau dirinya adalah orang yang papah, yakni miskin secara keberadaan menggambarkan dirinya tidak mempunyai nilai apapun, Kedua, orang yang membutuhkan belas pengasihan dan rahmat dari Allah atas dosa-dosa mereka maka hidup itu mutlak karena anugerah Tuhan. Daud menyadari akan konsep ini, dia berpuasa ketika ia menyadari kalau anak hasil perbuatan dosanya harus mati namun reaksi yang ditunjukkan Daud berbeda ketika anaknya sudah mati, yaitu ia mengakhiri puasanya. Reaksi Daud ini berada di luar dugaan orang-orang terdekat Daud sebab disangkanya Daud akan marah pada Tuhan karena doanya tidak dijawab. Daud berpuasa bukan untuk memaksa supaya anaknya tidak mati. Konsep mereka tentang puasa ternyata tidak beda dengan kita pada hari ini, yaitu dengan puasa maka Tuhan harus menuruti apa yang menjadi kehendak kita. Puasa bukanlah mogok makan supaya keinginan kita dituruti. Tidak! Daud puasa karena ia tahu bahwa ia adalah orang berdosa yang membutuhkan belas pengasihan Tuhan, Ketiga, sesudah pembuangan, puasa mempunyai tambahan makna, yaitu menyadari bahwa diri adalah orang yang rapuh yang mudah terterpa oleh godaan dosa. Maka puasa adalah usaha manusia untuk berperang melawan godaan-godaan iblis yang membelenggu hidup manusia.
Sayangnya, konsep puasa tersebut telah mengalami penggeseran. Andaikata, orang berpuasa karena ia mengerti esensi puasa pertanyaannya masihkah ia protes pada Tuhan Yesus karena pengikut-Nya tidak berpuasa? Jadi jelaslah mereka berpuasa karena aturan dan lama kelamaan puasa menjadi hal yang rutinitas dan kehilangan makna. Puasa seharusnya menjadikan orang rendah hati namun kini, orang menjadi sombong karena merasa dirinya lebih “saleh“ dibanding orang lain. Sayang, inti iman begitu dalam telah bergeser menjadi kesombongan rohani. Mungkinkah hari ini kita juga jatuh pada hal yang sama dimana ritual agama sudah menggeser esensi agama? Inti iman justru hilang dan digantikan dengan aplikasi agama. Hati-hati, bukan karena kita pergi kebaktian tiap minggu atau saat teduh setiap hari atau aktif melayani berarti kita orang saleh. Tidak! Kesalehan tidak diukur dari seberapa banyak kita menjalankan ritual agama.
Puasa menjadi mekanis karena ada aturan yang mengharuskan kita untuk berpuasa padahal sesungguhnya orang tidak suka menjalankan puasa. Celakanya, kita sudah capek-capek puasa, tapi orang lain tidak puasa maka timbullah rasa iri hati. Puasa seharusnya menyangkal diri supaya tidak berdosa tapi kini menjadikannya semakin berdosa. Makna puasa telah bergeser menjadi ritual. Kalau kita mengerti makna pelayanan maka rasa iri hati itu tidak akan timbul ketika melihat orang lain tidak melayani, saat itu kita justru menjadi berdosa dan tidak diperkenan Tuhan. Praktek-praktek ritualitas ini telah mencengkeram agama dunia karena itu kita perlu dimerdekakan oleh Tuhan Yesus. Sebagai warga Kerajaan Sorga yang beriman di dalam Kristus maka hidup kita tidak sama dengan tatanan agama yang ada di dunia. Kita telah dipisahkan dari dunia dengan demikian orang dapat melihat perbedaan orang yang hidup dan menjadi warga Kerajaan Sorga dengan orang yang hidup menurut dunia, yaitu:
I. Esensi – Fenomena
Seperti telah dipaparkan sebelumnya, seseorang menjadi penganut agama tertentu karena ia telah menjalankan aturan yang diberlakukan dalam agama tersebut, seperti membaca kalimat tertentu, melakukan aturan yang berlaku maka barulah orang tersebut sah menjadi penganut agama tersebut. Akan tetapi dalam Kekristenan, ritual agama seperti baptisan tidak menjamin keselamatan. Sayangnya, ajaran ini pun mulai diselewengkan maka tidaklah heran kalau kemudian orang ramai-ramai minta dibaptiskan demi untuk memperoleh keselamatan. Penjahat yang berada di samping Tuhan Yesus tidak pernah dibaptis namun ia bertobat dan ia diselamatkan. Keselamatan tidak tergantung dari ritual apapun. Iman Kristen meminta kita menjadi warga Kerajaan Sorga karena esensi diri kita dalam hubungan dengan Kristus sebagai Raja. Apalah artinya seluruh pelayanan kita kalau tidak men-Tuhankan Kristus dalam hati kita, apalah artinya persembahan kita kalau hati kita tidak berpaut pada Kristus. Gejala bisa menjadi implikasi dari esensi bukan sebaliknya. Semua anak Tuhan sejati pasti dibaptis, pasti melayani, pasti menjadi saksi, ia pasti taat menjalankan semua hukum Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang apakah orang yang dibaptis, orang yang aktif melayani, orang yang menjalankan semua ritual itu beriman pada Krsitus? Jawabnya: tidak sebab apa yang menjadi fenomena tidak mewakili apa yang esensi. Allah tidak melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati. Sudahkah hati kita berpaut pada Kristus?
II. Iman – Ritual
Orang benar hidup oleh iman, dari iman, oleh iman dan berakhir dengan iman. Kekristenan melihat iman di atas ritual sebaliknya dunia melihat ritual lebih dari pada iman. Perbedaan ini menjadi suatu pemisahan. Orang yang ingin melihat bukti terlebih dahulu baru kemudian ia mau beriman maka itu bukan iman tetapi ritual. Kalau sudah ada bukti lalu untuk apa lagi kita percaya? Iman justru karena tidak ada bukti maka kita percaya. Kegagalan dunia dalam religiusitas adalah menggunakan tatanan dunia yang dikenakan dalam tatanan iman. Alkitab menegaskan orang benar adalah hidupnya karena percaya. Kristus Yesus adalah satu-satunya obyek iman sejati yang menjadi subyek yang menata seluruh hidup kita. Percaya berarti percaya. Orang yang berkata percaya tetapi masih penuh dengan segala pertanyaan berarti ia masih ragu-ragu. Thomas sadar akan hal ini, ia datang dan meminta ampun pada Tuhan Yesus ketika ia mulai meragukan kebangkitan Tuhan Yesus. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Kekristenan melihat iman di titik kulminasi dalam hidup kita. Saat kita beriman maka hidup kita akan menjadi kuat sebaliknya agama yang didasarkan pada ritual maka orang pasti mati-matian mempertahankannya karena takut tergoncangkan dan hancur. Bagaikan sebuah kain yang belum susut ditambalkan pada sebuah kain tua maka kain tua itu akan rusak. Orang Yahudi tahu bahwa yang dimaksud dengan kain tua dan kantong kulit tua adalah dirinya, mereka mati di dalam aturan yang mereka buat sendiri.
III. Teosentris – Antroposentris
Iman sejati haruslah bersifat teosentris, yakni berpusat pada Allah bukan berpusat pada diri, antroposentris. Hampir sebagian besar agama-agama di dunia berpusat pada diri. Orang berpuasa karena ingin supaya orang lain melihat bahwa ia adalah seorang yang saleh, ia adalah seorang yang baik dengan demikian layak mendapat Kerajaan Sorga. Perhatikan, orang yang merasa dirinya baik justru menunjukkan kalau dirinya bukan orang baik. Segala sesuatu kalau berpusat dari Allah maka disanalah pondasi imanmu menjadi kuat berbeda halnya kalau segala sesuatu kita kerjakan berpusat pada diri maka akibatnya akan timbul iri hati. Di jaman modern ini pelayanan buat Tuhan dijadikan sebagai ambisi pribadi maka tidaklah heran kalau gereja dijadikan sebagai ajang bisnis. Ingat, ketika orang hendak memulai suatu gerakan back to the Bible maka hendaklah kita mengevaluasi diri benarkah memang Tuhan yang menginginkan gerakan itu ataukah itu hanya menjadi ambisi pribadi kita? Ketika orang mulai menyelewengkan kebenaran Firman maka itulah waktunya bagi kita harus melawan dan “berteriak“ keras supaya orang kembali pada kebenaran Firman dengan demikian gereja Tuhan dimurnikan. Di saat kehendak diri bertentangan dengan kehendak Tuhan maka kita harus taat menjalankan-Nya bahkan meski untuk itu kita harus berkorban karena itulah yang menjadi kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bukan mengerjakan apa yang menjadi kesukaan dan ambisi pribadi. Bukan! Biarlah kita mengerti apa yang bersih, apa yang benar dan melawan orang-orang yang telah melawan kebenaran Firman dan menjadikan gereja sebagai bisnis. Gereja bukanlah tempat bagi kita untuk mencari keuntungan, gereja bukanlah tempatnya pekerjaan yang berpusat pada manusia tetapi berpusat pada Kristus yang adalah Raja.
Inilah separasi, pemisahan, dimana sistem Kerajaan Allah berbeda dengan sistem kerajaan dunia. Pertanyaannya sekarang adalah sebagai warga Kerajaan Sorga sudahkah kita menyangkal diri, menyadari ketidakberdayaan kita lalu menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan? Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Kerjakanlah semuanya itu di dalam anugerah Tuhan bukan menurut kesombongan diri. Biarlah kita sebagai warga Kerajaan Sorga dipakai oleh Tuhan menjadi saksi-Nya dan mendatangkan kemuliaan bagi Kristus Sang Raja. Amin. ?

Saving Faith
Nats: Mat. 9:18-26Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Pendahuluan
Kita telah memahami bahwa Kristus adalah Tuhan dan hanya kepada-Nya kita harus taat, ketika kita telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus maka pengikutan itu bersifat terus menerus bukan sementara dan sebagai anak Tuhan yang sejati kita harus hidup kudus dengan demikian kita beda dengan dunia maka sub tema yang keempat adalah bagaimana hidup beriman di dalam Kristus. Sub tema keempat ini merupakan klimaks dari seluruh implikasi Kerajaan Sorga. Pada bagian pertama ini ada dua kejadian yang terjadi bersamaan, yaitu: pertama, anak perempuan dari Yairus, seorang kepala rumah ibadat sedang sakit keras dan akhirnya meninggal namun dalam situasi demikian iman Yairus tidak bergeser, ia tetap beriman pada Kristus. Fokus iman inilah yang hendak ditekankan oleh Matius, itulah sebabnya ia menyisihkan bagian-bagian lain yang dianggap tidak perlu sehingga dapat menggeser inti cerita; kedua, iman seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Setiap orang di dunia tidak pernah tahu akan hari esok maka iman itulah yang melandasi seluruh langkah hidup kita. Hati-hati, kalau kita salah memilih obyek iman maka akan berakibat fatal yakni membawa kita pada kehancuran. Manusia menyadari hal ini namun ironisnya, manusia tidak mau kembali pada Kristus Sang Kebenaran yang sejati. Cornelius Van Till mengungkapkan bahwa di dunia ini manusia terbagi dalam dua golongan, yaitu: pertama, manusia yang beriman pada Kristus, kedua, orang yang beriman pada diri sendiri dan semua ekstensi yang ada pada dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah apakah diri layak untuk dipercaya? Kalau memang benar, kenapa muncul istilah “kurang percaya diri,“ hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya, diri tidak layak untuk dipercaya. Untuk menutupi kenyataan ini orang membuat alasan lain, yakni kalau sesuatu tidak dapat diterima logika maka orang tidak akan mau percaya. Perhatikan, kalau sebelumnya orang sudah tidak percaya maka semua yang masuk akal tidak akan dapat diterima akal sebaliknya kalau orang sudah percaya maka semua yang tidak masuk akal akan masuk di akal. Jadi, masalah ada pada percaya atau logika? Jelaslah bahwa segala sesuatu harus dimulai dari rasa percaya dulu barulah segala sesuatu akan dapat diterima akal.
Bukanlah hal yang mudah mengatakan pada seseorang yang tidak percaya bahwa hanya melalui Kristus Yesus saja kita diselamatkan karena baginya: jalan keselamatan melalui Kristus tidaklah dapat diterima akal. Begitu juga kalau kita mengatakan pada seorang atheis bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan sebab baginya hal itu tidak masuk akal. Kepercayaan seseorang itulah yang menentukan apakah sesuatu itu masuk akal ataukah tidak masuk akal maka logika itu tergantung dari percaya. Seorang yang sudah tidak percaya bahwa Allah itu ada maka semua hal tentang Allah menjadi tidak masuk akal. Ada orang yang mau percaya kalau ia telah melihat terlebih dahulu, pertanyaannya adalah apa yang mau dipercaya kalau ia sudah melihat? Sesungguhnya, melihat itupun tergantung dari apa yang ia pikir, tergantung dari imannya dan itupun akan menghasilkan interpretasi yang berbeda, sebagai contoh, seorang dokter dengan seorang ahli hukum melihat suatu kejadian kecelakaan lalu lintas misalnya akan mempunyai pandangan yang berbeda.
Manusia lebih suka ditipu daripada kita mengatakan kebenaran tentang dirinya; orang akan menjadi sangat marah ketika kita mengatakan tentang keburukannya. Kalau begitu, sebenarnya manusia itu pintar atau bodoh? Ingat, memiliki banyak pengetahuan bukanlah jaminan bahwa ia adalah seorang yang pandai sebab ia tidak mengerti esensi, contohnya Saulus, seorang yang sangat pandai sekaligus sangat bodoh sampai kemudian ia bertobat barulah disadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya tidak lebih dari sekedar sampah. Manusia seharusnya mengakui bahwa kepandaiannya tidak dapat menyelamatkan hidupnya. Orang pandai tidak identik dengan orang bijak. Hendaklah kita takut akan Tuhan sebab itulah permulaan pengetahuan dan orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Ams. 1:7).
I. Teguhkanlah Hatimu
Orang sulit menerima realita bahwa suatu hari kelak manusia berdosa harus berhadapan dengan pengadilan Tuhan dan upah dosa adalah maut. Hanya anugerah Tuhan kalau kita dapat terlepas dari hukuman dosa. Tidak ada cara atau usaha apapun yang dapat membebaskan kita dari hukuman dosa, semua usaha adalah sia-sia belaka. Demikian juga halnya dengan perempuan yang sakit pendarahan ini, segala cara dan usaha pastilah sudah ia tempuh, seluruh tenaga dan uang sudah ia habiskan demi untuk kesembuhannya namun semua sia-sia, sakitnya tidak menjadi sembuh tetapi justru semakin parah. Pada saat tidak ada pengharapan itulah, ia bertemu Tuhan Yesus, ia percaya dengan menjamah jubah-Nya saja maka akan sembuh. Tuhan Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau“ (Mat. 9:22). Tidak ada satu katapun yang keluar yang menyinggung tentang kesembuhan sebab Tuhan Yesus hendak membereskan konsep iman yang sifatnya esensi dan jawaban ini sekaligus menjawab pergumulan Yairus.
Orang yang menaruh kepercayaannya pada obyek iman yang tepat maka seluruh pola pikirnya yang kacau akan diubahkan menuju pada esensi iman yang sejati. Perubahan ini bukanlah perubahan yang bersifat fenomena. Tidak! Francis Shaeffer mengungkapkan I do what I think and I think what I believe, apa yang kita lakukan merupakan hasil dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita pikir merupakan hasil dari kepercayaan kita dari sini nampak jelas bahwa radian hidup kita yang paling luar adalah do atau tindakan, barulah think atau pikiran dan kemudian believe atau iman. Sesungguhnya, pola pikir kita dipengaruhi oleh: kesatu, apa yang kita pikirkan itu merupakan hasil dari seluruh informasi yang kita dapatkan seperti, budaya, pengalaman hidup, genetik, lingkungan sosial, dan lain-lain; kedua, apa yang kita pikirkan merupakan hasil filsafat hidup kita (Rm. 12:2) dimana filosofi hidup menjadi main set atau pola pikir kita. Karena itu, orang yang mempunyai pengalaman sama maka hasil yang didapatkan atau cara mereka menanggapi pengalaman itu tidak akan sama karena pola pikir antara satu orang dengan orang yang lain berbeda. Main set ini sekaligus adalah believe atau imannya yang mengendalikan seluruh hidupnya. Bagian terdalam inilah yang biasa disebut orang dengan perasaan atau hati; rasa sakit, rasa sedih, rasa gembira yang kita rasakan itu sesungguhnya dikendalikan oleh otak.
Jadi, segala sesuatu yang kita pikir dan kita rasakan sesungguhnya berasal dari pusat yang sama yakni otak. Pikiran dan perasaan kita dikendalikan oleh inti hidup dan inti hidup manusia sudah menjadi mati ketika manusia jatuh dalam dosa. Secara fenomena, memang manusia tidak mati, manusia masih bernafas namun itu hanya bersifat sementara sebab secara esensi, dia sudah mati. Ketika hati manusia sudah mati maka itu berarti seluruh hidupnya telah mati. Hanya Tuhan, Sang Sumber Kehidupan yang dapat menghidupkan hati manusia yang telah mati, yaitu dengan memberikan hati yang baru dan roh yang baru (Yeh. 36:26). Tanpa hati dan roh yang baru maka manusia tidak akan dapat hidup. “Teguhkanlah hatimu“, Tuhan Yesus ingin mengajak kita melihat bahwa inti daripada iman sejati adalah kembali kepada Tuhan; bukan usaha atau kemampuan kita yang membuat kita dapat beriman kepada Tuhan, tidak, tetapi semua karena anugerah Tuhan semata. Hanya Tuhan Sang Sumber Hidup itu yang dapat menghidupkan kita kembali, hanya Tuhan yang dapat memberikan hati yang baru. Perempuan yang sakit pendarahan ini hanya berorientasi di permukaan, dia hanya melihat sebuah tindakan tetapi dia tidak mengerti esensi karena itu Tuhan langsung mengkoreksi inti iman. Janganlah kita terkecoh dengan hal-hal yang sifatnya fenomena tetapi hendaklah iman kita itu muncul dari kesadaran kita sebagai manusia berdosa dan hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kekuatan hidup pada kita yaitu di dalam Kristus Yesus.
II. Iman yang Menyelamatkan
Kalau hati kita sudah dihidupkan oleh Kristus maka iman yang keluar dari hati yang dikuatkan itu adalah iman yang menyelamatkan. Perempuan ini pastilah tidak pernah berpikir akan keselamatan jiwa, kemungkinan dia hanya memikirkan hasil, yaitu kesembuhan. Hari inipun banyak orang yang memikirkan tentang hasil, orang hanya berorientasi pada kesembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang masih terikat dengan hal yang sifatnya fenomena; orang hanya melihat hasil iman tanpa ia mengerti akan apa arti esensi iman. Iman seharusnya menghasilkan “hasil“ tetapi celakanya, sekarang iman kita kepada “hasil.“ Pada tahap ini, iman perempuan hanya kepada “hasil atau kesembuhan“ saja. Celakanya, sampai hari inipun orang masih beriman pada “hasil“, maka tidaklah heran kalau seringkali kita mendengar ungkapan: orang baru mau percaya kepada Tuhan Yesus kalau ia disembuhkan. Berarti ia beriman pada “hasil atau sembuh“, kalau ia tidak sembuh maka dengan mudah dan cepat imannya akan berpindah pada obyek iman yang lain yang dapat memberikan “hasil“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan ingin menyadarkan kita bahwa iman itu bukanlah digeser ke “hasil“ tetapi iman harus kembali pada obyek iman, yaitu iman yang menyelamatkan, saving faith. Memang, iman dapat memberikan “hasil“ tetapi iman yang menyelamatkan ini tidak mengacu pada hasil; memang, iman itu memberikan kekuatan tetapi kita tidak beriman pada “kekuatan“ itu. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus tidak menyinggung sedikitpun tentang kesembuhan meskipun hasilnya, perempuan ini disembuhkan karena Tuhan Yesus tidak ingin iman itu bergeser pada kesembuhan. Iman yang sejati adalah iman yang menyelamatkan, iman yang bersifat esensial yang membawa kita memandang pada Kristus Sang Kebenaran Sejati. Melalui kisah ini, Matius ingin supaya orang terbuka dan menyadari bahwa iman sejati bukanlah pada hal yang tampak secara fenomena tetapi iman sejati hanya ada dalam Kristus.
Pada dasarnya, setiap manusia pasti berjalan dengan iman tetapi pertanyaannya adalah iman kepada siapa? Apakah kita mau mempertaruhkan hidup kita dengan beriman pada sesuatu yang sifatnya fenomena dan mudah berubah? Ingat, hari ini, mungkin kita sembuh tetapi besok kita mati. Iman sejati haruslah terarah pada Kristus, satu-satunya oknum yang posisinya lebih tinggi dari manusia. Janganlah kita salah dengan mempercayakan diri kita pada sesuatu yang posisinya berada di bawah kita atau sejajar kita, yaitu:
kesatu, materi, celakalah kalau kita menyandarkan iman kita pada sesuatu yang bersifat materi yang posisinya berada di bawah manusia karena itu berarti kita telah merendahkan eksistensi hidup kita. Ingat, materi tidak bersifat kekal sebab suatu hari nanti materi itu dapat hilang lenyap, kedua, janganlah menyandarkan dirimu pada orang lain yang posisinya sejajar dengan kita sebab manusia sangatlah terbatas dan berdosa sehingga manusia pun dapat mengecewakan kita, ketiga, ketika orang lain sudah mengecewakan maka orang mulai tidak percaya lagi dan ia berbalik meletakkan kepercayaan itu pada dirinya sendiri, keempat, orang tidak menyandarkan imannya pada materi, orang lain atau diri lagi tapi ia bersandar pada iblis yang posisinya justru ada di bawah kita. Iblis memang mempunyai kemampuan lebih yang tidak dapat dilakukan oleh manusia tetapi jangan samakan kemampuan dengan posisi.
Segala sesuatu yang mempunyai kekuatan besar tidak berarti ia mempunyai posisi atau ordo lebih tinggi dan bukan berarti pula kita harus tunduk padanya. Tidak! Sebagai contoh, gajah mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti kita harus tunduk pada gajah, bukan? Binatang mempunyai ordo atau urutan di bawah manusia. Begitu juga setan, setan adalah malaikat yang dicipta Tuhan dan jatuh dalam dosa; malaikat dicipta Tuhan untuk melayani Allah dan manusia. Manusia dicipta sebagai makhluk tertinggi dalam ordo ciptaan karena manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka urutan atau posisi yang benar berdasarkan ordo ciptaan adalah: manusia – malaikat – setan. Jadi, kalau manusia menyembah kepada setan itu berarti menyalahi ordo. Betapa bodohnya manusia! Memang, iblis mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti manusia harus tunduk pada setan. Manusia yang beriman pada Kristus mempunyai hak untuk mengusir setan. Tuhan memberikan hak pada anak-Nya untuk mengusir setan karena Tuhan sendiri tidak ingin anak-Nya berkompromi dengan iblis. Hati-hati, sekali kita berkompromi dengan iblis maka sukar sekali bagi kita untuk dapat lepas kecuali Tuhan beranugerah maka Dia akan membebaskan kita dari ikatan dan belenggu iblis.
Materi, manusia, diri sendiri dan iblis tidak layak untuk dijadikan sebagai obyek iman karena semua itu tidak membawa kita pada keselamatan. Hanya iman pada Kristus saja yang membawa kita pada keselamatan; kita akan merasakan sukacita dan damai sejahtera ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan. Kita tidak tahu hari esok namun kita tahu satu hal yang pasti pimpinan Tuhan tidak akan pernah salah. Kita tidak tahu esok akan terang atau gelap tapi kita tahu Tuhan selalu berjalan disisi kita, Dia akan menolong ketika kita dalam kesusahan. Banyak hal yang tidak kita tahu di dunia ini namun satu hal yang pasti Tuhan telah menyelamatkan kita dan Dia telah menyediakan tempat bagi kita di Sorga kekal. Amin. ?

The Metaphore of the Kingdom
Nats: Mat. 9: 14-17Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno


Adalah tugas setiap kita, anak Tuhan yang sejati untuk menyatakan kebenaran sejati di tengah dunia yang kacau; terang adalah terang dan gelap adalah gelap, terang dan gelap tidak dapat bersatu. Namun posisi ini menjadi paradoks sebab dunia tidak suka adanya perbedaan, dunia ingin mempersatukan segala hal yang bertentangan. Maka pada awal abad ke-20 muncul aliran filsafat yang menentang Kekristenan, yakni humanis materialis dimana manusia adalah pusat dari segala sesuatu dan mencari materi itu sebagai sasaran hidup. Dalam bukunya, Robert Tiyosaki menegaskan sekolah tidak terlalu penting sebab apalah artinya sekolah atau menuntut ilmu tinggi kalau orang tidak dapat mencari uang dan akhirnya hidup miskin. Inilah dunia berdosa dimana dunia lebih menghargai orang kaya tapi hidupnya tidak karuan daripada orang yang miskin tapi hidupnya benar. Ironis, bukan? Dunia materialis telah mencengkeram hidup manusia sedemikian hebatnya dan tanpa sadar intelektualitas kita dimatikan, makin lama manusia menjadi makin bodoh.
Semangat humanis materialis telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dan utama yang harus kita kerjakan yang menyangkut kekekalan, ada kebahagiaan sejati yang bisa kita dapatkan lebih daripada kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia, ada hal yang lebih bernilai daripada uang, yaitu kalau kita hidup bersama Kristus di dalam Kerajaan Sorga. Untuk hal itulah, Kristus datang menyatakan keagungan dan kualitas Kerajaan Sorga namun dunia tidak suka dengan hal ini maka dengan segala cara dunia mencoba menghancurkan iman Kristen, yakni dengan menggunakan dua macam pendekatan:
1. Humanis Materialis Rasional
Sejak jaman Tuhan Yesus, di kalangan orang Yahudi sendiri sudah ada perbedaan; ada orang yang menamakan diri sebagai pengikut Saulus, ada orang yang menamakan diri sebagai pengikut Paulus, dan masih banyak lagi. Pengikut Saulus berbeda dengan pengikut Paulus; pengikut Saulus akan dimusuhi ketika mereka berbalik menjadi pengikut Paulus. Pertanyaannya adalah kalau gereja itu bersatu bisakah gereja itu mempunyai kesamaan doktrin, mengutamakan Firman di atas semua kebenaran? Ternyata tidak, keesaan gereja yang dibangun hanya nampak secara fenomena saja, sebab di dalamnya Firman tidak menjadi yang utama. Kebenaran Firman merupakan kebenaran mutlak, namun dunia modern telah menyelewengkan kebenaran Firman. Karena itu, Kristus menegaskan kain yang belum susut tidak dapat ditambalkan pada baju yang tua karena akan mencabik baju yang tua itu sehingga makin besarlah koyaknya begitu juga dengan anggur baru tidak dapat diisikan pada kantong kulit atau kirbat tua karena kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur (Mat. 9:16-17).
Konsep ini sangat penting untuk kita mengerti, menjadi “baru“ di sini artinya bukan reparasi tetapi dicipta ulang, new creation. Orang menjadi Kristen melalui pertobatan dan ada kelahiran baru sehingga ada perubahan esensi dalam diri kita, yakni merekonstruksi seluruh pola pikir kita. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). Pembaharuan disini adalah pembaharuan total dalam seluruh pola berpikir kita. Jiwa inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap anak Tuhan dan menjadi dasar kesatuan. Namun, faktanya tidaklah demikian hari ini gereja justru bersatu dengan dunia.
2. Humanis Materialis Emosional
Perbedaan teologi di kalangan Kekristenan sendiri masih ada dan sulit dihilangkan sebab masing-masing gereja mengklaim dirinya yang paling benar maka muncullah suatu pandangan bahwa kita adalah satu sehingga tidak perlu melihat orang berasal dari gereja manapun sebab kita merupakan satu kesatuan oikumene. Gereja memakai pendekatan emosional salah satunya melalui puji-pujian. Kebenaran sejati tetaplah kebenaran sejati yang harus diberitakan. Perbedaan seharusnya tidak membuat kita saling memusuhi antara saudara seiman tetapi perbedaan itu justru memotivasi kita untuk lebih memahami kebenaran sejati dan memacu kita untuk belajar Firman lebih dalam lagi. Hari ini orang tidak mau belajar Firman tetapi berani berkhotbah. Sebagai contoh, kata “kasih“ dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani ada empat istilah dimana keempatnya mempunyai pengertian berbeda: 1) eros atau exclusive love, 2) storge atau posessive love, 3) filia atau brotherly love, 4) agape atau unconditional love. Itu baru satu kata, yaitu “kasih“ padahal di Alkitab akan kita jumpai kata-kata yang memerlukan penjabaran karena tidak sesuai dengan bahasa aslinya, misalnya kata “kebenaran“ mempunyai dua pengertian, yakni: truth dan righteousness. Teologi mempengaruhi keseluruhan konsep berpikirnya.
Tanpa disadari hal itu telah menjadikan orang telah menjadi bidat; orang ingin mencampur hitam – putih, terang – gelap, kebenaran sejati – kebenaran dunia. Ingat, pencampuran ini tidak akan menjadikan dunia menjadi lebih baik, tidak, sebab justru akan berakibat pada kehancuran. Kain baru tidak mungkin untuk menambal kain lama begitu juga dengan anggur baru tidak dapat ditaruh pada kirbat tua. Ironisnya, humanis materialis ini berkembang pesat dan menjadi mayoritas tapi meski mayoritas toh mereka menjadi takut melihat kebenaran yang minoritas. Melalui ilustrasi kain lama – kain baru, kirbat tua – anggur baru, Kristus ingin memaparkan suatu kebenaran, yaitu adalah mustahil mencampurkan segala hal yang harmoni atau serasi dengan semua hal yang sifatnya disharmoni atau tidak serasi. Gerakan ini muncul kembali di awal abad ke-20 yang disebut dengan gerakan postmodernisme, jiwa pemberontakan itulah yang menjadi ciri dari gerakan ini, segala sesuatu yang teratur rapi dan harmoni mulai diacak-acak. Salah satunya di bidang seni lukis, Picasso yang tadinya seorang pelukis aliran naturalis – impresionis maka pada tahun 1907 terjadi perubahan drastis, lukisan yang tadinya indah kini berubah bentuk menjadi acak-acakan, aliran ini dinamakan aliran cubisme. Dalam perkembangannya, cubisme membuat orang masuk dalam dunia abstrak. Orang-orang humanis mulai merasa tidak puas dengan semua yang mereka capai dan mereka mulai menuju pada dekonstruksi awal. Tak terkecuali dengan ajaran Kekristenan orang merasa hidupnya mulai diatur, orang tidak suka ketika hidup diatur untuk menjadi indah maka tidaklah heran kalau orang kemudian menentang kebenaran Firman. Kebenaran yang seharusnya bersifat obyektif kini berubah menjadi subyektif.


I. True Matching Konsep disharmoni telah menguasai manusia dan ini menjadi cita-cita manusia berdosa. Tuhan mencipta dari disharmoni menjadi dunia dengan indah dan harmoni namun iblis tidak suka dengan hal ini maka ia mulai menggoda manusia dan manusia melawan Tuhan. Disharmoni menyebabkan kehancuran maka sebagai anak Tuhan kita harus berani menyatakan kebenaran Kristus sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat dicampur dengan kebenaran dunia. Harmoni adalah true matching dalam esensi sehingga membentuk suatu keutuhan yang bersinambung. Hati-hati, iblis mencoba untuk menggoda kita supaya masuk dalam konsep disharmoni. Ketika orang Yahudi menanyakan pada Tuhan Yesus kenapa mereka puasa sedang murid-murid Yesus tidak puasa sesungguhnya mereka menuntut adanya suatu kesamaan konsep namun yang mereka lihat sebagai kesamaan sesungguhnya itu hanya bersifat fenomena belaka karena esensi sesungguhnya tidaklah sama. Sama-sama kain tetapi kain yang lama dan kain yang baru tidak sama karena justru akan merusak. Kalau sifat dasar dari dua atribut ini tidak sama maka itu akan menimbulkan perpecahan. Manusia lebih suka hal-hal yang secara fenomena sama karena hal itu mudah dicapai namun juga mudah hancur berbeda halnya kalau orang harus menyamakan esensi pastilah banyak terjadi benturan tetapi justru itu nantinya akan menjadi kuat. Harmoni mencapai suatu titik maximum ketika kita mencapai true matching.


II. True Container
Anggur baru tidak dapat ditaruh ke dalam kirbat tua, jadi, wadah itu sangat penting karena wadah menentukan isinya. Wadah yang tidak tepat akan menyebabkan pencemaran atau kerusakan pada isinya begitu pula kalau isi sudah busuk akan sayang, kalau ditaruh ke dalam wadah yang bagus. Seorang yang mempunyai pengertian doktrin teologi dengan baik dan benar namun lingkungan tempat ia berada rusak maka seperti kirbat tua yang itu akan sukar menyesuaikan dengan anggur baru. Orang yang mengerti kebenaran Firman haruslah berada di tempat yang benar dengan demikian terjadi matching position dengan mengharmoni-sasikan semuanya. Ajaran Yudaisme yang memegang prinsip Perjanjian Lama tidak akan dapat langsung berubah menjadi Kristen, yakni dengan menambah Perjanjian Baru sebab isinya memang beda. Tuhan Yesus sudah membukakan hal ini melalui ilustrasi yang ia kisahkan itulah sebabnya Kekristenan harus berdiri sendiri. Tuhan Yesus tetap berdoa, Ia tetap pergi ke synagoge tapi Ia tidak bergabung dalam kumpulan orang Yahudi dan orang Farisi karena ada separasi. Iman yang sejati membutuhkan wadah yang sejati. Di dalam gereja Tuhan hal ini perlu kita sadari. Ingat, gereja bukanlah tempat kita untuk mencari keuntungan tetapi gereja adalah tempat dimana iman kita dipertumbuhkan, gereja adalah tempat kita taat kepada Allah. Pertanyaannya adalah siapa yang berhak mendirikan wadah baru? Para bidat menyadari hal ini, mereka membentuk wadah yang baru dan semangat ini berkembang pesat namun ironis, anak Tuhan sejati tidak berani menegur mereka yang menyelewengkan kebenaran Firman. Ketika ada seorang bidat kembali pada kebenaran sejati maka terjadilah separasi. Ada disharmoni dalam harmoni dunia lalu harmonisasi dunia yang disharmoni mencoba melawan harmoni yang asli menjadi disharmoni yang baru.
Tuhan Yesus mempunyai keabsahan membentuk harmonisasi yang baru karena:
1. Etika Kerajaan Sorga lebih agung dari etika dunia. Kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus mempunyai nilai yang tinggi dari dunia sebab semua yang bernilai rendah tidak berhak menegakkan sesuatu yang baru. Maka hari ini, dunia menciptakan sesuatu yang baru dengan kualitas yang lebih rendah dari yang sebelumnya dan hal ini sangat disukai oleh mayoritas pada umumnya. Orang demi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dan menarik minat mayoritas maka degradasi kualitas diturunkan. Dunia modern telah rusak, orang hanya berpikir secara pragmatis, yaitu mementingkan diri sendiri dengan mendapatkan keuntungan. Anak Tuhan harusnya menjadi terang Kristus yang bercahaya di tengah dunia yang gelap ini dengan demikian dunia disadarkan dan kembali pada jalan kebenaran sejati. Kekristenan seharusnya mempunyai jiwa dan kualitas yang berbeda dari dunia. Seorang yang mengaku Kristen tetapi hidupnya serupa dengan dunia maka ia tidak layak disebut Kristen.
2. Sifat dinamis positif. Kekristenan memberikan dinamis positif yang berbeda dari semua terpaan negatif dunia. Kristus harus menegakkan Kekristenan karena iman Yahudi sudah menegasi seluruh prinsip kebenaran Firman. Orang Yahudi tidak taat pada Firman tetapi taat pada aturan yang mereka buat. Dunia bergerak dengan cepat namun bersifat negatif maka sebagai anak Tuhan, kita berbeda kita juga harus berproses tapi harus menuju ke arah yang positif. Celakanya, hari ini banyak anak Tuhan yang ikut ke dalam arus dunia yang negatif, orang lebih suka hal-hal yang berkualitas rendah, orang lebih suka mendengar cerita ilustrasi dan lelucon daripada kebenaran Firman yang agung, musik gerejawi yang agung mulai ditinggalkan dan orang lebih menyukai musik-musik yang berkualitas rendah. Tuhan menegaskan anak Tuhan haruslah hidup suci, jujur dan harus berbeda dengan dunia namun hari ini banyak orang yang mulai menyepelekan moralitas dan menurunkan sampai ke tingkat yang rendah dan akhirnya menjadi sama dengan dunia. Kristus ingin supaya kita bergerak secara dinamis menuju ke arah yang positif, menuju pada titik tertinggi, yakni menjadi serupa Kristus. Janganlah engkau merasa lelah untuk mau terus diproses dan dibentuk dan untuk mencapai pembentukan yang sempurna ini kita harus rela berkorban. Jangan pernah kalah oleh dunia sebab dunia tidak akan pernah merasa lelah untuk menggoda kita agar menjadi serupa dengan dirinya. Jangan kita membodohkan diri dengan menurunkan kualitas iman Kristen. Orang Kristen justru harus berkualitas tinggi beda dengan dunia dan harus dinamis bergerak menuju arah yang positif.
Kita telah memahami sekarang bahwa separasi yang Kristus ajarkan memang tidak dapat dicampur dengan dunia. Orang Kristen berbeda dengan dunia namun hal itu jangan menjadikan kita menjadi sombong dan membenci orang lain yang berbeda, tidak, justru tugas kita membawa mereka masuk ke dalam kebenaran iman sejati. Amin. ?


Persembahan yang Terbaik
Nats: 1 Taw 18:6-8,11 ; 29:1-9, 11-15Pengkhotbah : Pdt. Amin Tjung

Di dunia ini setiap manusia pasti ingin mengerjakan hal-hal penting di dalam hidupnya. Orang belumlah merasa cukup dengan lulus meski lulus dengan predikat sangat memuaskan, summa cum laude. Orang pasti akan menyusun rencana-rencana jangka panjang yang menyangkut masa depannya, mungkin ia akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi kemudian menikah, mempunyai anak, mendidik anak dan kalau mungkin akan menyekolahkan anak ke luar negeri lalu tua dan akhirnya mati. Ternyata, hanya sampai sebatas itulah kehidupan manusia, berhenti sampai di kematian, lebih dari itu orang tidak dapat berbuat apa-apa. Memang tidak salah kalau kita berpikir yang menyangkut tentang masa depan hidup kita tapi ingat, semua yang kita kerjakan di dunia hanya bersifat sementara, ada hal yang lebih penting yang harus kita kerjakan dan itu bersifat kekal.
Orang pasti akan kagum melihat kehidupan Alexander Agung, di usianya yang masih muda ia telah berhasil menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia dan ia juga menjadi murid dari seorang filsuf besar seperti Aristotle maka budaya Yunani itu begitu kental ada di konsep pemikirannya dan budaya Yunani itu juga diterapkan di seluruh wilayah yang ia taklukkan. Maka tidaklah heran pada masa pemerintahan Raja Alexander Agung bahasa Yunani berkembang pesat padahal bangsa Yunani itu sendiri ditaklukkan oleh bangsa Romawi. Menurut sejarah, Alexander Agung meninggal di usia yang sangat muda, 33 tahun dan sebelum meninggal dunia ia berpesan: kalau ia mati, ia ingin supaya peti matinya didesain sedemikian rupa yakni memperlihatkan tangannya yang hampa dengan demikian dunia dapat melihat bahwa ia pergi tanpa membawa apa-apa. Seperti halnya Ayub yang berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya“ (Ayb. 1:21).
Hidup di dunia ini hanya sementara, tujuh puluh tahun sampai delapan puluh tahun dan paling lama sembilan puluh tahun karena itu sadarlah, lakukanlah sesuatu yang bermakna yang bersifat kekal di dalam hidup ini. Daud sangat menyadari akan hal ini bahwa di dalam dunia, tidak ada hal lain yang lebih penting daripada ketika kita masuk dalam rencana Allah yang kekal dan menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. Allah menciptakan alam semesta dan diciptakan-Nya manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Kepada manusia itu, Allah berfirman: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu...“ (Kej. 1:28). Sejak dari pertama, Allah sudah mempunyai rencana kekal atas manusia dan rencana itu dimulai dari taman Eden. Namun iblis ingin menggagalkan rencana Allah yang kekal ini, iblis menggoda manusia sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Akan tetapi manusia selalu berusaha untuk kembali masuk dalam rencana Allah yang kekal itu.
Kitab Tawarikh adalah kitab yang berisi tentang kehidupan bangsa Israel sekembalinya mereka dari pembuangan dimana bangsa Israel hendak membangun Bait Allah. Menurut konsep teologi Perjanjian Lama, orang selalu berpikir tentang suatu tempat dimana Kerajaan Allah dibangun dan menguasai bumi. Tuhan sendiri yang menunjukkan dan memilih bukit Sion di Yerusalem supaya bangsa Israel mendirikan Bait Allah dan menjadi pusat Kerajaan Allah untuk kemudian menjangkau seluruh dunia. Banyak riset dilakukan untuk mengetahui dengan jelas letak taman Eden seperti yang dituliskan dalam kitab Kejadian dan secara tidak langsung, mereka menyimpulkan taman Eden itu terletak di daerah Yerusalem. Dan sampai detik ini pun orang masih mempunyai pemikiran untuk membangun kembali Bait Allah.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa gereja itu bukanlah gedungnya tapi gereja adalah orangnya yaitu jemaat yang telah dipersatukan dalam iman kepada Kristus Yesus. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa kita membutuhkan suatu wadah, yakni tempat dimana orang-orang yang telah dimenangkan itu dapat dididik akan kebenaran dengan demikian mereka dapat meluaskan Kerajaan Allah dan tidak terjebak dalam godaan iblis. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilih komunitas dan pergaulan yang baik, pilihlah suatu komunitas dimana imanmu dapat bertumbuh di dalamnya. Untuk itu dibutuhkan suatu wadah dimana anak-anak Tuhan dapat bertumbuh dalam iman, kita dapat menyembah dan memuji Dia, dan bersama-sama memikirkan pekerjaan Tuhan untuk menaklukkan bumi maka disini kita melihat, gedung gereja itu juga penting. Kita pun harus turut membangun Kerajaan Sorga seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Doa “Bapa Kami“: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. Dan, kelak setelah dunia ini berakhir, kita pun akan pergi ke suatu tempat, yaitu Sorga. Kristus naik ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi kita, Kristus membangun kota itu dimana suatu hari kelak, kota Yerusalem yang baru itu akan turun dari Sorga, kita bersama di dalam langit bumi baru, di dalam persekutuan dengan Allah (Why. 21:1-2).
Salah satu tulisan Marthin Luther yang ada dalam gereja Wittenberg berbunyi: Biarlah di tempat ini, umat Tuhan boleh memuji dan berdoa pada Tuhan, melalui tempai ini Tuhan berbicara pada umat-Nya dan biarlah melalui tempat ini nama Tuhan dipermuliakan. Maka gereja ini sangat penting sebagai sarana untuk memuji-muji dan memuliakan nama Tuhan, umat Tuhan dapat bersekutu dan bertumbuh dalam iman dan menjadi kesaksian. Ketika kita memberitakan Injil dan jiwa itu boleh dimenangkan maka kita membutuhkan suatu tempat dimana mereka boleh dididik dan mengerti akan kebenaran. Bait Allah yang megah dibangun bukan untuk keperluan atau kebanggaan manusia tapi Bait Allah dibangun untuk Allah si empunya Bait. Allah pun turut melengkapi orang-orang yang membangun Bait-Nya. Dalam peperangan, Tuhan menyertai Daud dan memberikan kemenangan padanya. Dari kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan itulah Daud peroleh kekayaan dan sungguh, Daud mempunyai hati yang berpaut pada Tuhan, ia memakai harta itu untuk membangun Bait Allah.
Kita patut bersyukur pada-Nya sebab kalau sampai hari ini Tuhan memimpin dan menyertai hidup kita sehingga tidak kekurangan suatu apapun dan itu bukanlah suatu kebetulan tapi Tuhan berkenan melimpahkan anugerah-Nya atas kita. Ingat, semua berkat yang kita terima asalnya dari Tuhan dan biarlah kita pergunakan semua berkat yang Tuhan sudah beri itu untuk pekerjaan Tuhan untuk sesuatu yang bernilai kekal untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia. Orang-orang Kristen membutuhkan suatu tempat dimana pekerjaan Tuhan di dunia ini boleh dikembangkan dengan demikian orang boleh disadarkan akan kebenaran dan kembali pada kebenaran Firman. Daud menyadari bahwa apapun yang ia kerjakan haruslah untuk Tuhan dan bernilai kekal, ia tidak saja mengumpulkan harta dari kerajaan-kerajaan lain yang ia taklukkan namun ia juga memakai semua hartanya untuk membangun Bait Allah. Di dunia ini masih banyak jiwa-jiwa yang tersesat namun biarlah kita mempunyai hati yang rindu dan menangisi jiwa-jiwa yang tersesat itu dan biarlah kita juga mempunyai kerinduan untuk membangun Kerajaan Allah di muka bumi ini. Cobalah renungkan, siapakah kita sehingga Tuhan masih berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Kita seharusnya bersyukur untuk anugerah Tuhan yang begitu besar karena itu, ingat, kalau Tuhan telah memberikan berkat penuh melimpah pada kita maka pergunakanlah berkat itu untuk sesuatu yang bersifat kekal.
Semua harta kekayaan kita bukanlah milik kita, semua itu asalnya dari Tuhan, kita datang dengan telanjang maka dengan telanjang pula kita akan kembali (Ayb. 1:21)maka pergunakanlah waktu, tenaga dan hartamu untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan suatu kebetulan kalau kita berada di suatu tempat dimana Tuhan hendak membangun kerajaan-Nya. Tuhan telah tempatkan kita di sana dan Tuhan ingin kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Ingat, seluruh hidup kita ada di dalam tangan-Nya bukan di harta kita. Karena itu jangan bergantung dan bersandar pada harta dunia yang sebentar lenyap hilang tak berbekas tapi bersandarlah hanya pada Dia sang pemilik hidup kita. Kalau kita dapat memberi persembahan untuk Tuhan maka ingatlah, itu berarti berkat Tuhan – kemurahan hati Tuhan telah terlebih dahulu dicurahkan atas hidup kita. Jangan coba bermain-main dengan Tuhan dengan memberikan persembahan 10% dan berharap mendapatkan 100%. Jikalau anda termasuk orang yang demikian maka segeralah bertobat!
Betapa sukacita ketika kita melihat pekerjaan Tuhan – Kerajaan Sorga dibangun di dunia, kita dapat memuji-muji Tuhan seperti halnya Daud memuji-muji nama Tuhan sebab segala pujian, hormat, kuasa dan kemuliaan hanya bagi Tuhan sebab Dialah pemilik semua itu. Sadarlah kalau hari ini, kita tidak kekurangan suatu apapun, kita dapat bekerja, kita diselamatkan, kita mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya, kita melayani turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan maka itu semua itu adalah anugerah. Kita adalah orang-orang berdosa dan tidak layak namun Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dalam Kerajaan-Nya. Jangan buang waktu, tenaga dan hartamu hanya untuk sesuatu yang bersifat sementara tapi marilah kita pakai semua talenta, harta, tenaga, pikiran kita dipakai untuk pekerjaan Tuhan yang bersifat kekal. Ingat, hidup kita di dunia hanya sementara, kita tidak akan membawa apa-apa ketika kita dipanggil menghadap pada-Nya. Apalah artinya harta banyak di dunia kalau kita kehilangan nyawa.
Kita seharusnya selalu bersyukur karena Tuhan masih bermurah hati pada kita dengan menjadikan kita kawan sekerja-Nya – bersama Dia kita turut membangun kerajaan-Nya. Biarlah kita mempunyai beban dan kerinduan untuk meluaskan Kerajaan Tuhan di bumi dan kita mulai dengan memberitakan Firman yang adalah kebenaran sejati. Kalau Tuhan sudah menggerakkan umat Israel sehingga mereka dengan kerelaan dan dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada Tuhan (1Taw. 29:9). Biarlah kita mohon pada Tuhan kiranya Ia memberikan hati yang rela memberi dan mohonlah kiranya Tuhan terus menerus peliharakan sehingga senantiasa kita mempunyai hati yang rela. Ingat, semua yang ada pada kita adalah milik kepunyaan-Nya, kita tidak berhak atasnya maka jangan memberikan sisa pada Tuhan tapi berilah yang sepantasnya untuk Tuhan karena hanya Dia yang memang layak menerima semua itu. Dan biralah kita juga dipakai Tuhan untuk menjadi saksi, membawa jiwa-jiwa yang tersesat dan terhilang kembali pada-Nya. Amin. ?

The Spirit behind the Reality Nats: Yohanes 14: 8-14Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Ketika mengetahui prinsip pelayanan dan management Kristen, orang dunia menilainya sebagai yang terbaik namun ia tak mampu menjalankan, kecuali bertobat terlebih dahulu. Jikalau orang tak bertobat menyusup ke dalam pelayanan, ia pasti merusak segalanya. Memang, pelayanan Kristen seharusnya dijalankan oleh para anak Tuhan sejati yang setia dan taat pada pimpinan Kristus, lalu porsi kerohanian semestinya menjadi inti seluruh pekerjaan Tuhan dimana setiap jemaat harus dipertumbuhkan. Calvin dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang berani merusak pelayanan harus dihukum. Jikalau Gereja melibatkan atau membiarkan orang tak rohani mendapat hak terutama berpendapat dalam pelayanan, tindakan itu akan menghancurkan Gereja.
Yoh 13:31 hingga Yoh 16 merupakan pengajaran Kristus yang sangat exclusive. Jikalau murid palsu atau orang non-rohani mempelajari bagian tersebut yang mengajarkan essensi iman Kristen terdalam maka: (1)ia tak mungkin mengerti secara tepat; (2) pasti terjadi ekses negatif dan kekacauan. Ia takkan mampu memahaminya tanpa Tuhan beranugerah karena pengajaran tersebut mengandung inti yang tinggi, agung, mulia, kudus dan benar hingga sangat berlawanan total dengan pemikiran dunia serta sifat manusia berdosa yang materialis, egois dan humanis. Sebelumnya, tak ada konsep tentang kehidupan kekal.
Tuhan Yesus datang ke dunia dan melayani cukup lama. Para murid dan orang awam mendengar pengajaranNya, antara lain etika, jiwa pelayanan, teladan hidup dan sebagainya. Selain itu, Ia melakukan banyak mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit. Tapi, hanya para murid sejati yang akhirnya mengetahui bahwa kedatanganNya untuk menebus dosa lalu kembali ke rumah Bapa dan menyediakan tempat, kemudian suatu saat kembali lagi ke dunia dan mengangkat umat pilihanNya ke sana. Tak semua orang berhak menerima keselamatan kekal melainkan hanya bagi mereka yang percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Ketika mendengarnya, orang berdosa pasti marah dan tak suka, kecuali Tuhan telah menyentuh hati dan menyadarkannya.
Dalam Yoh 15, Tuhan mengajarkan mistical union (kesatuan mistis) yang sangat indah bersamaNya. Ketika mendengarnya, orang non-percaya langsung menggunakan konsep duniawi yaitu pantheisme karena sebenarnya memang tak dapat bersatu dengan Kristus secara utuh. Ketika bersekutu denganNya, Tuhan menuntut orang Kristen sejati harus menghasilkan banyak buah rohani bagi orang lain.
Yoh 14:12-13 mencatat, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Inilah doktrin providensia (pemeliharaan) Allah. Ketika dengan taat menjalankan pekerjaan Bapa, orang Kristen tak perlu takut karena adanya jaminan bahwa semua keperluan pasti Tuhan sediakan. Tetapi oleh orang dunia, pernyataan tersebut malah dijadikan alat egoisme untuk memanipulasi Tuhan.
Ketika mempelajari bagian yang sangat exclusive ini, biarlah Tuhan memakai dan merubah kehidupan orang Kristen hingga menjadi anak Tuhan sejati. Dunia telah memproses manusia menuju kebinasaan. Sedangkan anak Tuhan telah dibukakan kebenaran sejati.
Dalam Yoh 14:8-14 terdapat perbandingan antara pemikiran dunia dan Kekristenan. Ketika Kristus hendak membukakan kebenaran yang sangat sulit, diperlukan sikap rohani. Tapi, para murid justru baru belajar dari konsep dunia masuk ke konsep anak Tuhan. Maka Filipus yang pragmatis berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8). Tuhan Yesus menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya.” (Yoh 14:9-10).
Beberapa commentary membahas pernyataan Filipus yang menunjukkan who a man is (siapa manusia itu sesungguhnya). Mungkin, pernyataan tersebut juga muncul dalam diri banyak orang. Prinsip, filsafat dan cara berpikir dunia telah merusak manusia sehingga ketika hendak mengajarkan kebenaran, Kristus mengalami kesulitan. Filipus yang sangat empiris sebenarnya tak pernah mengerti Bapa sebagai Allah rohani. Demikian pula Tomas dan mungkin semua murid. Kemungkinan, ia membayangkan Bapa sebagai orangtua berumur sekitar 80 tahun karena Tuhan Yesus sendiri berusia 33 tahun. Konsep Tuhan dan para murid sangat berlawanan namun mereka tetap bertahan bahkan mencoba mempengaruhiNya. Inilah jiwa keagamaan palsu yaitu empirical religion (jiwa religiusitas yang bersifat empiris atau menuntut bukti).
Orang empiris tak pernah berpikir untuk kembali kepada Allah sejati karena tak bersedia menghancurkan pemikirannya dan mulai mendengarkan Firman serta belajar mengerti kehendakNya. Maka orang yang berperilaku religius belum tentu beragama sejati melainkan masuk ke dalam humanisme. Dengan kata lain, hanya untuk memenuhi tuntutan keagamaan dalam dirinya. Tiap orang pasti memiliki sense of divinity (perasaan keagamaan) yang memang Tuhan tanamkan. Tapi, dosa telah mencengkeramnya hingga sulit dikembalikan pada konsep pengenalan Allah yang sejati. Sebaliknya, ia telah terjebak dalam format duniawi hingga seluruh orientasinya bukan kepada Tuhan melainkan kembali ke diri sendiri.
Untuk memiliki kerohanian sejati, anak Tuhan selalu mengalami banyak kesulitan karena diperlukan adanya pendobrakan konsep berpikir. Ini merupakan masalah besar karena adanya pemahaman yang sangat sulit antara masuk ke nuansa rohani dan terjebaknya manusia dalam realita yang tak dapat ditangkap dengan pengertian tepat. Ia mengalami kesulitan dalam memahami penafsiran realita dengan tepat. Itulah the problem of knowledge (problematik pengetahuan).
Rm 1:18-23 menggambarkan orang rohani sejati diperbandingkan dengan orang berdosa yang merasa rohani. Manusia mampu mengerti karena Allah menyatakannya dan bukan dengan pikirannya sendiri. Namun Filipus dan para murid justru menolak pemikiran dan pengajaranNya. Akibatnya, pemikiran terbuang sia-sia dan hati mereka mulai tertutup dan menjadi gelap. Mereka tak menyadari kebodohan diri. Sebaliknya, mereka justru merasa penuh hikmat.
Dunia sebenarnya dipenuhi dengan kebodohan walaupun banyak orang berpendidikan dan bergelar tinggi, kecuali mereka bersedia kembali kepada Tuhan. Ketika mendengar pernyataan ini, mereka pasti marah dan tindakan tersebut membuktikan kebodohan. Dulu, kepandaian ditentukan oleh IQ (Intelligence Quotient). Kemudian, ditentukan oleh EQ (Emotional Quotient). Ternyata, keduanya tak membuktikan apapun maka diganti dengan SQ (Spiritual Quotient). Orang dunia sungguh tak mengerti bahwa the problem of knowledge is to understand the reality. Maka Alkitab mengatakan bahwa kriteria dasar pengetahuan adalah takut akan Tuhan.
Paulus mengatakan bahwa semakin merasa pandai dan bijaksana, manusia malah menunjukkan kebodohannya. Ketika baru bertobat, ia menyadari kebodohannya dengan menyiksa dan membunuh banyak orang Kristen. Maka ia menulis, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Rm 1:21-22). Manusia yang mengaku diri pandai malah merusak dunia dan spiritualitasnya, kecuali para anak Tuhan sejati ikut mengatur dan memimpin. Puncak kebodohan manusia tertulis dalam Rm 1:23, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” Dunia iman telah diubah dari essensi realita sejati menjadi realita yang diisi dengan interpretasi palsu. Problemnya adalah pikiran manusia yang tak ditundukkan dalam kondisi kerohanian.
Filipus dan Tomas mengalami kesulitan dalam memahami kebenaran karena sebenarnya mereka hanya menginginkan segala yang bersifat fenomena. Padahal, Mat 16:24 mencatat, “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Inilah standard kerohanian sejati yang seharusnya sanggup mempertobatkan manusia.
Pdt. Stephen Tong berulangkali menegaskan bahwa orang Kristen sejati adalah mereka yang telah mati terhadap pujian dan kritik. Ketika ia merasa diri nothing maka Tuhan menjadi something. Tapi, orang yang anti pujian adalah paranoid dan mereka yang tak bersedia menerima kritik adalah sombong. Yang mati sebenarnya adalah sikap dan keberadaannya. Jadi, kepribadiannya tak mudah tersentuh oleh pujian. Orang yang mati terhadap pujian hanya dapat menerima data atau fakta aktual dan objektif. Setelah itu, ia mampu mempergunakan kelebihannya sesuai kehendak Tuhan. Demikian pula dengan kritik tak membuatnya terganggu dan bergeming. Kritik harus dipelajari kebenarannya. Setelah itu, ia harus berusaha memperbaiki diri. Orang yang merasa diri hebat biasanya mudah tersinggung oleh kritik. Ia akan sulit belajar menjadi rohani. Jikalau ikut dalam pelayanan, yang dilayaninya bukanlah Tuhan melainkan hanya diri sendiri.
Orang Kristen tak mungkin dapat mengerti kebenaran sejati kalau masih occupied (sibuk) dengan diri sendiri. Orang keras kepala juga sulit untuk diberi pengajaran. Dalam banyak hal, manusia seringkali tidak teachable di hadapan Tuhan. Maka kualitas rohani dimulai dengan penyangkalan diri. Setelah itu, barulah berhak melayani Tuhan.
Setelah penyangkalan diri, Tuhan menghendaki orang Kristen berani dan rela berkorban menanggung resiko, kesulitan serta dunia berdosa. Dunia membutuhkan orang yang kembali berpegang pada prinsip Tuhan dan melayaniNya dengan sungguh. Orang dunia selalu tak dapat menerima konsep ini.
Memang mudah sekali menjalankan segala yang cocok dengan dunia. Dan agama yang selalu mengabulkan permintaan jemaatnya pastilah high demanded.
Standard terakhir kerohanian sejati adalah jiwa yang tunduk mutlak mengikut Tuhan secara terus-menerus, konsistent dan tanpa syarat. Sedangkan arti dari phrase ‘mengikut Aku’ yang pertama adalah sebagai pilihan bertanggung jawab yang tak dapat diganti. Amin.

 

Back to home
Google
 
Kembali ke menu    
Kembali ke induk halaman    

© 2008-2011 EDDY SRIYANTO  Telp.:(021) 935.200.99 / 0812.2525.268 ; : kirim email

 


SELANJUTNYA (Part Two): Seteguk Madu Bagian 2
.