Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]
Bijaksanan merencanakan masadepan

Bijaksanan merencanakan masadepan

Sayangilah keluarga Anda dengan memilih asuransi jiwa yang benar-benar menjamin kesehatan dan masa depan Anda dan keluarga. Banyak asuransi yang mengiming-imingi keuntungan, namun pengelolaannya tidak jelas dan ujung-ujungnya nasabah yang dirugikan. More »

Preparing His path

Preparing His path

Time is nearest. More »

Beritakanlah Firman

Beritakanlah Firman

Beritakanlah Firman, baik atau tidak baik waktunya More »

This is default featured slide 5 title

This is default featured slide 5 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Artikel

2macam pengenalan terhadap Tuhan Yesus

Dua Macam Pengenalan Terhadap Tuhan Yesus

Ayat Alkitab:

Yohanes 20:11-18;  Lukas 24:13-16, 25-32; Yohanes 21:1-14

Sejak Tuhan Yesus bangkit dari kematian hingga hari ini, pengenalan orang terhadap-Nya dapat digolongkan menjadi dua macam, yakni:

  1. Pengenalan dalam tubuh daging / Pengetahuan yang berasal dari Alkitab
  2. Pengenalan dalam Roh Kudus / Pengetahuan yang diberi oleh Tuhan demi membuka matanya

Beberapa contoh yang konkret dari Alkitab :

  1. Pengenalan Maria Terhadap Tuhan                                             : Yohanes 20:11-18
  2. Pengenalan Dua Murid yang Menuju Emaus Terhadap Tuhan  : Lukas 24 : 13-35
  3. Pengenalan Tujuh Murid Terhadap Tuhan                                  : Yohanes 21 : 1-14

Tatkala Maria Magdalena berdiri di dekat kubur Tuhan Yesus sambil menangis, dan “Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu, mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.’” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Mata dan telinga Maria saat itu sudah tidak berguna lagi.

Kemudian kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” Sungguh aneh! Begitu Tuhan menyebut namanya, Maria segera mengenal Dia. Itulah wahyu. Apakah wahyu? Wahyu bukan berarti Tuhan berdiri di depannya lalu berkata, “Aku inilah Yesus,” melainkan dengan ajaib membuat seseorang tahu, bahwa Dia itulah Tuhan.

Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, di antara murid-murid-Nya ada dua orang yang hendak pergi ke Emaus. Ketika itu Tuhan datang menghampiri mereka, tetapi mata mereka kabur, tertutup sehingga tidak mengenal Tuhan yang telah bangkit itu. Kemudian Tuhan berbicara dengan mereka, bahkan dijelaskan-Nya tentang diri-Nya sesuai dengan Alkitab dari kitab Musa dan para nabi. Ketika mereka hendak makan, Tuhan Yesus memecahkan roti yang telah diberkati-Nya dan membagi-bagikannya kepada mereka, saat inilah mata mereka terbuka, dan baru mengenal Dia.

Ketika hari mulai siang, berdirilah Yesus di pantai, tetapi murid-murid itu tidak mengetahui bahwa Dia adalah Yesus. Kemudian Tuhan berkata kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menarik lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Tadi mereka telah mendengar dan melihat Dia, namun tidak mengenal bahwa Dia itulah Tuhan; kini dengan tiba-tiba mereka mengetahui dengan ajaib sekali. Pengenalan yang demikian mustahil digoncangkan, karena itu merupakan pengenalan batini yang menimbulkan kekuatan batini.

Ada orang yang sangat hafal Alkitab, bahkan dapat mengajarkannya kepada orang lain, namun ia tidak mengenal Tuhan Yesus. Ada orang selain memahami ajaran Alkitab, juga telah dicelikkan matanya oleh Tuhan sehingga ia dapat mengenal Tuhan. Ketahuilah, dalam kekristenan tidak hanya ada Alkitab, tetapi juga ada wahyu pribadi. Memang tanpa Alkitab, mustahil ada ajaran kekristenan. Tetapi ingatlah, tanpa wahyu kita pun takkan memiliki Kristus secara pribadi.

Justru di kalangan anak-anak Allah terdapat kesukaran yang demikian. Banyak pengetahuan yang merupakan pengetahuan turunan; dari mulut seseorang kepada telinga seseorang; dari pengertian otak seseorang kepada pengertian otak orang lain. Semuanya merupakan turunan, maka semuanya hanya merupakan doktrin-doktrin atau pengetahuan-pengetahuan belaka. Kita harus ingat, hanya memiliki pengetahuan Alkitab tetapi tidak mengenal Tuhan, itu tidak ada gunanya. Dua orang murid yang menuju ke Emaus itu sudah memiliki pengetahuan Alkitab sejak dulu, dan tatkala Tuhan menjelaskan Alkitab di tengah jalan, mereka pun merasa berkobar-kobar di dalam hati, namun mereka belum juga mengenal Dia. Terhadap Tuhan, kita wajib memiliki pengenalan yang batini.Pengenalan yang demikian barulah pengenalan yang sejati. Sudahkah Anda memiliki pengenalan yang batini terhadap Tuhan?

Setelah mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Maka berkatalah Tuhan Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tetapi tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.

Apakah Anda tidak merasakan bahwa perkataan di atas saling bertentangan?

Secara lahir mereka tidak tahu, akan tetapi secara batin mereka sudah tahu. Secara lahir mereka masih heran dan ajaib, tetapi dalam batin mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.

Wahyu berarti jelas dalam batin; wahyu berarti mengetahui dalam batin. Berbahagialah orang yang berjalan dalam wahyu! Berbahagialah orang yang mengenal Tuhan demi wahyu! Sebab hanya orang yang demikianlah yang bisa memperoleh kekuatan. Pengetahuan lahiriah sekali-kali tidak dapat menggantikan wahyu batiniah.

Hai, saudara-saudari, terhadap pengenalan yang batini, terhadap wahyu ini, bahkan orang-orang yang telah melayani bertahun-tahun belum tentu memilikinya. Tapi justru pengenalan yang batini ini bisa didapatkan oleh siapa saja, baik mereka yang baru percaya atau yang sudah lama di dalam hidup gereja. Ini tergantung pada belas kasihan Tuhan. Kita perlu terus berlatih di dalam hidup kita, melatih roh kita, terus berdoa, membaca Alkitab dengan doa, belajar dengan berdoa, bekerja dengan berdoa, juga terus setia di dalam hidup gereja mengasihi Dia dan pengaturan-Nya mengharapkan pengenalan yang batini ini yang tidak bisa didapatkan dari manusia atau dunia ini, hanya bisa didapatkan dari Tuhan sendiri. Karena itulah pengenalan yang batini ini tidak ternilai.

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah, aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. ( Fil. 3:8 )

Penulis: Watchman Nee

Kepercayaan yang tidak sia-sia, kisah Charlie Riggs

Charlie Riggs

ChELIE

 

Apakah Anda pernah mendengar kisah Charlie Riggs? Lebih dari lima puluh tahun lalu, dia menyerahkan hidup pada Kristus. Dia lalu dimuridkan oleh orang muda bernama Lorne Sanny, yang pernah dimuridkan oleh Dawson Trotman, pendiri Navigator.

Charlie rindu sekali bertumbuh dalam Kristus, tetapi kemajuannya sangat lambat dan tidak cocok menjadi pemimpin. Suatu saat Lorne menulis surat pada Dawson Trotman. Dia mengeluh karena hanya punya Charlie Riggs sebagai rekan kerja, dan menilai bahwa Charlie tidak punya bakat. Trotman membalas surat,“tetaplah bersama dia.  Anda tidak tahu rencana Tuhan bagi dia.” Maka Lorne Sanny tetap bekerja bersama Charlie Riggs.

Beberapa tahun kemudian, ada seorang pengkotbah muda bernama Billy Graham yang namanya mulai terkenal. Tahun 1952, Navigator “meminjamkan” Charlie Riggs pada tim Billy Graham untuk melakukan pelayanan follow-up dari setiap KKR yang diadakan Billy Graham. Charlie mempunyai rencana untuk segera kembali ke Navigator begitu tugasnya di tim Billy Graham sudah selesai. Namun rupanya dia dinilai bekerja dengan baik, sehingga diminta tetap bergabung.

Tahun 1957, Billy Graham akan mengadakan KKR di tempat yang sangat terkenal di New York, yaitu di Madison Square Garden.  Tiba-tiba ketua panitia KKR harus diganti. Siapa yang bisa menggantikannya? Ketua jemaat menyarankan agar posisi itu diserahkan pada Charlie Riggs, tetapi Billy Graham masih ragu-ragu. “Yang bisa dia lakukan adalah berdoa dan mengutip ayat Alkitab,” kata Billy Graham.

Tapi ketua jemaat berhasil meyakinkan Billy Graham, sehingga Charlie Riggs dipercaya mengisi posisi itu. Charlie tidak menyia-siakan kepercayaan itu. Dia bekerja dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, acara KKR di  New York itu berlangsung sukses, bahkan menjadi model bagi penyelenggaraan acara KKR di tempat-tempat lain selama bertahun-tahun. Billy Graham berkata, “Saya semula tidak menyangka dia  bisa melakukannya.  Tetapi saya yakin-bahwa Charlie sangat bergantung pada Roh Kudus, yang saya tahu Tuhan melakukannya melalui Charlie.”

Charlie Riggs pensiun setelah puluhan tahun melayani Tuhan secara efektif. Apa rahasianya? Bagaimana mungkin orang yang hanya punya sedikit pendidikan formal bisa mencapai posisi setinggi itu dan demikian lama?

Charlie Riggs berkata, “Saya selalu minta Tuhan masuk ke dalam kepala saya. Itulah sebabnya, ketika saya mendapat tugas, kalau tidak ditolong oleh Tuhan maka saya tidak bisa apa-apa.”

Sekilas Sexual Biblicomedic

LATAR BELAKANG

Dewasa ini banyak disadari bahwa Iblis banyak menyerang keluarga-keluarga Kristen, dan serangan yang paling sering terjadi adalah dalam hal hubungan pernikahan suami-isteri. Kenyataannya banyak hamba Tuhan tidak pernah atau sangat jarang mengajarkan pemahaman seksualitas kepada orang yang dilayaninya. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal ini terjadi. Pertama, kemungkinan mereka tidak pernah dibekali secara memadai ketika mereka dalam masa pendidikan. Kedua, kemungkinan mereka sedang terjebak dalam pergumulan pribadi yang terkait dengan dosa seksual. Sangat disadari, ada kebutuhan akan materi pengajaran tentang seksualitas yang komprehensif. Yang bukan saja Alkitabiah tetapi sekaligus Ilmiah. Bukan saja bermanfaat untuk menolong jemaat yang dilayani, tetapi sekaligus bermanfaat untuk menolong diri hamba Tuhan sendiri, agar menang dari berbagai macam jebakan dosa seksual dalam kehidupan pribadi mereka.

Biblicomedic Sexology adalah Integrasi Seksologi Medis dengan prinsip-prinsip kekudusan seksual yang bersumber dari Firman Tuhan.

Pendapat masyarakat tentang seks mengalami perubahan dari masa ke masa. Rollo May menulis, “Masyarakat zaman Victoria mencari cinta tanpa harus terlibat dengan seks; sementara masyarakat modern mencari seks tanpa harus terlibat dengan cinta”. Dari pandangan masyarakat Puritan yang mengatakan seks sebagai sarana kejahatan bagi prokreasi, kita beralih pada pandangan populer Playboy yang mengangap seks sebagai sarana rekreasi.

Kedua pandangan ekstrim tersebut tidak benar dan tidak menunjukan fungsi seks yg sesuai dengan maksud Tuhan. Pandangan negatif membuat pasangan yang telah menikah merasa bersalah saat berhubungan seks; sementara pandangan yang bebas membuat manusia menjadi seperti robot yang melihat seks dalam arti sempit dan hanya berfungsi untuk kepuasan.

Bagaimana seorang Kristen memahami seks? Apa yang Alkitab katakan tentang seksualitas? Tujuh prinsip dibawah ini diharapkan dapat membantu orang Kristen yang mempercayai Alkitab memahami seks.


Prinsip 1: Alkitab mengatakan bahwa seksualitas manusia sebagai sesuatu yang baik
.

Mari kita mulai dari awal: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27) Setelah penciptaan sebelumnya dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,18,21,25), tapi setelah penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, Allah melihat bahwa “segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31). Awal pengertian secara ilahi bahwa seksualitas manusia itu ‘sungguh amat baik’ menunjukan perbedaan seksual pria dan wanita sebagai bagian dari kebaikan dan kesempurnaan dari ciptaan Tuhan yang pertama.

Perhatikan juga bahwa perbedaan jenis kelamin pria dan wanita berhubungan dengan kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut peta Allah. Karena Kitab suci membedakan manusia dengan ciptaan yang lain, para ahli teologi berpendapat bahwa pengertian peta Allah mengaju pada kemampuan rasional, moral, dan spiritual yang Tuhan berikan kepada pria dan wanita.

Namun demikian, masih ada cara lain bagi kita untuk memahami pengertian dari peta Allah, berdasarkan apa yang tertulis dalam Kej 1:27: “menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.” Jadi kepriaan dan kewanitaan manusia mencerminkan peta Allah dalam pengertian bahwa pria dan wanita mempunyai kemampuan untuk memiliki kesatuan hubungan yang sama dengan kesatuan hubungan yang ada dalam konsep Trinitas. Tuhan dalam pengertian Alkitabiah bukanlah Sesuatu yang sendiri dalam singularitas abadi melainkan berada dalam hubungan tiga Oknum yang secara misterius disatukan sehingga kita menyembahnya sebagai satu Tuhan. Kesatuan yang misterius dalam konsep Trinitas ini dicerminkan melalui gambar ilahi dalam manusia, dalam dua jenis kelamin yang berbeda; pria dan wanita; yang juga secara misterius disatukan dalam perkawinan menjadi ‘satu daging’.

Prinsip 2: Seksualitas manusia adalah satu proses dimana dua menjadi ‘satu daging’.

Hubungan intim antara seorang pria dan wanita diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Istilah ‘satu daging’ mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh diantara pasangan yang telah menikah. Penyatuan utuh ini dapat dialami khususnya melalui hubungan seksual yang merupakan tindakan dari pengekspresian cinta sejati, rasa hormat, dan komitmen.

Istilah ‘menjadi satu daging’ menunjukan rencana Tuhan tentang seks dalam perkawinan. Hal ini menjelaskan bahwa Tuhan melihat seks sebagai media bagi suami istri untuk mencapai kesatuan. Harus diperhatikan bahwa pengandaian ‘satu daging’ tidak diterapkan untuk mengambarkan hubungan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang laki-laki akan ‘meninggalkan’ orang tuanya untuk menjadi ‘satu daging’ dengan istrinya. Hubungan dengan istrinya berbeda dengan hubungan dengan orang tuanya karena hubungan dengan istri merupakan kesatuan baru yang diperoleh melalui penyatuan seksual.

Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan dari kegiatan seksual yang tidak hanya sebagai prokreasi (untuk memperoleh keturunan) tetapi juga psikologi (memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai satu hubungan kesatuan). Kesatuan menunjukan keinginan untuk mengetahui sisi paling khusus dari pasangan secara emosi, fisik dan intelektual. Ketika mereka saling memahami dengan cara yang paling khusus, mereka akan mengerti arti dari menjadi satu daging. Hubungan seksual tidak secara otomatis memberikan pengertian kesatuan. Lebih jauh lagi setiap pasangan harus memahami betul arti saling berbagi dalam hubungan suami-istri.

Prinsip 3: Seks adalah memahami satu sama lain melalui cara yang paling intim.

Hubungan seksual diantara pasangan yang telah menikah membuat mereka dapat saling memahami melalui cara yang paling khusus. Hal ini tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Berhubungan seksual tidak hanya membiarkan pasangan kita melihat tubuh kita tapi juga kepribadian kita. Inilah sebabnya mengapa kitab suci sering menggambarkan hubungan seksual sebagai ‘memahami’, kata kerja yang sama digunakan dalam Ibrani yang mengacu pada memahami Tuhan.

Adam tentu saja sudah mengenal Hawa sebelum mereka berhubungan seksual, namun ia mengenal Hawa lebih jauh lagi melalui cara yang paling khusus tersebut. Dwight H. Small mengemukakan, “pengungkapan rahasia diri melalui hubungan seksual merupakan pengungkapan diri yang paling tinggi dari semua tingkat dalam keberadaan satu pribadi. Ini adalah satu cara unik yang eklusif. Mereka saling mengenal seolah mereka tidak pernah mengenal orang lain. Pengetahuan yang unik ini merupakan satu rasa memiliki yang sejati… keadaan telanjang merupakan satu simbol bahwa tidak ada yang tersembunyi diantara pasangan suami istri.”

Proses menuju hubungan seksual adalah satu proses pertumbuhan. Mulai dari sekedar mengenal, kemudian berkencan, bertunangan, menikah, dan berhubungan seksual, pasangan belajar mengenal satu sama lain. Hubungan seksual merupakan puncak dari proses pertumbuhan tersebut.Seperti yang dikemukakan oleh Elizabeth Achtemeier: “Kami merasa seolah kedalaman diri yang paling tersembunyi muncul kepermukaan dan terungkap sebagai satu ekspresi cinta kami yang murni”.

Prinsip 4: Alkitab mengecam hubungan seks diluar nikah.

Karena seks melambangkan hubungan antar pribadi yang paling intim dan mengekspresikan penyatuan ‘satu daging’ berdasarkan komitmen total, seks tidak boleh dilakukan dalam satu hubungan biasa yang hanya berlandaskan kesenangan. Penyatuan dalam hubungan semacam itu merupakan tindakan amoral.

Hubungan seks diluar nikah adalah masalah yang serius karena membawa pengaruh yang lebih dalam dari dosa-dosa yang lain. Seperti yang rasul Paulus nyatakan :”Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18). Sebagian orang berpendapat bahwa minuman beralkohol juga berpengaruh terhadap diri seseorang. Tetapi pengaruhnya tidak bersifat permanen seperti yang ditimbulkan oleh dosa seksual.

Kebiasaan makan makanan yang dilarang dapat ditiadakan, barang yang dicuri dapat dikembalikan, kebohongan dapat diganti dengan kebenaran, namun perbuatan seksual tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Ini bukan berarti bahwa dosa seksual tidak bisa diampuni. Kitab suci mengatakan bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan ‘menyucikan kita dari segala kejahatan.’ (I Yoh 1:9) Ketika Daud bertobat karena telah melakukan perzinahan dan pembunuhan, Tuhan memaafkannya. (lihat Mazmur 32 dan 51)

Prinsip 5: Seks tanpa komitmen membuat manusia sama seperti benda.

Seks diluar nikah adalah seks tanpa komitmen. Hubungan semacam ini menghancurkan integritas seseorang dengan merendahkannya menjadi satu obyek yang digunakan untuk kepuasan pribadi. Seseorang yang merasa terhina setelah berhubungan seksual bisa saja menjadi trauma karena takut hanya akan dimamfaatkan atau justru menjadi tidak menghargai tubuhnya lagi sehingga melakukan hubungan seksual secara sangat bebas. Ia telah kehilangan kesempatan untuk mengunakan seks sebagai cara untuk mengekspresikan rasa cinta dan merusak pengertian seksualitas manusia yang sesungguhnya.

Seks tidak dapat digunakan sebagai cara untuk bersenang-senang dengan seseorang sementara disaat yang sama digunakan untuk menunjukan cinta sejati dan komitmen dengan orang lain. Pandangan alkitab tentang kesatuan, keintiman, dan cinta sejati tidak ditunjukan melalui seks diluar nikah atau seks dengan lebih dari satu orang pasangan.

Pasangan yang telah bertunangan mungkin mengatakan bahwa mereka mengekspresikan cinta yang sejati saat mereka melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah. Dari sudut pandang Kristen, pasangan yang bertunangan harus saling menghormati dan melihat pertunangan sebagai persiapan menuju pernikahan, bukan sebagai pernikahan itu sendiri. Sampai janji pernikahan diucapkan, kemungkinan pertunangan itu putus tetap ada. Jika pasangan itu telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, mereka telah melanggar komitmen. Dan bila dikemudian hari hubungan ini putus, akan meninggalkan bekas luka emosi yang permanen. Hubungan seksual yang sah hanya bisa dilakukan bila seorang pria dan wanita bersedia untuk menjadi satu tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis dengan memikul tanggung jawab terhadap masing-masing pasangannya.

Kecaman terkeras dari sudut pandang Kriten memang ditujukan kepada tindakan amoral seks diluar nikah. Kecaman tersebut jelas terdapat dalam Alkitab. Alkitab menolak menggunakan ‘istilah yang lebih lunak’. Contohnya seks pra-nikah dengan tekanan pada ‘pra’ dan bukan pada ‘nikah’. Perzinahan diartikan sebagai ‘seks diluar nikah’. Homoseksualitas digambarkan dengan istilah yang lebih lunak sebagai satu ‘variasi gay’ dan bukan disebut sebagai ‘penyimpangan’.

Orang Kristen saat ini mulai mempertimbangkan satu alasan bahwa ‘cinta membuat seks diluar nikah sesuatu benar’. Jika seorang pria dan wanita jatuh cinta, mereka berhak mengekspresikan cinta mereka walaupun melalui hubungan seks diluar nikah. Beberapa pendapat mengatakan bahwa seks sebelum nikah membebaskan mereka dari tradisi kuno dan memberikan mereka satu kebebasan emosi. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa seks pra-nikah menimbulkan tekanan emosi karena mengartikan cinta sekedar hubungan fisik tanpa satu komitmen total diantara pasangan yang menikah.

Prinsip 6:Seks merupakan sarana prokreasi dan relasi.

Sampai awal abad ini, orang Kristen percaya bahwa fungsi utama seks adalah untuk prokreasi. Pertimbangan lain, seperti aspek kesatuan, relational, dan kesenangan, dianggap sebagai fungsi sampingan. Namun keadaan tersebut mulai berubah diabad 20.

Dari sudut pandang Alkitab, kegiatan seksual dalam perkawinan merupakan sarana prokreasi dan relasi. Sebagai orang Kristen kita perlu menjaga keseimbangan antara kedua fungsi seks ini. Hubungan seks adalah kegiatan menyenangkan yang menimbulkan rasa saling memiliki dan menjadi satu sementara menciptakan satu kemungkinan untuk membawa satu kehidupan baru ke dalam dunia ini. Kita harus menyadari bahwa seks adalah anugerah ilahi yang hanya dapat dinikmati dalam perkawinan.

Paulus menganjurkan pada suami-istri “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” (I Kor 7:3-5; lihat juga Ibrani 13:4)

Prinsip 7: Seks memampukan pria dan wanita untuk mencermikan peta Allah dengan turut serta dalam kegiatan kreatifNya.

Dalam Alkitab, seks tidak hanya berfungsi dalam proses penyatuan roh yang misterius tetapi juga menciptakan kemungkinan untuk membawa anak-anak lahir kedunia ini. “Beranak cuculah dan bertambah banyak”, perintah Tuhan dalam Kej 1:28.

Tentu saja tidak semua pasangan dianugerahi anak. Usia tua, kemandulan, ataupun penyakit genetik adalah beberapa dari faktor yang menyebakan seseorang tidak mungkin mempunyai anak. Namun bagi sebagian besar pasangan yang menikah, mempunyai anak adalah hal yang wajar dalam kehidupan perkawinan. Hal ini tidak berarti bahwa setiap tindakan dari kesatuan seks harus mengacu pada konsep tersebut.

“Kita tidak bermaksud memisahkan seks dari kemungkinan untuk mempunyai anak,” tulis David Phypers, “dan mereka yang melakukan hal itu dengan alasan-alasan pribadi, sesungguhnya tidak memahami tujuan Tuhan terhadap hidup mereka. Mereka mengambil resiko untuk tidak mengindahkan perkawinan mereka dan kegiatan seksual dalam perkawinan hanyalah demi kepuasan semata. Mereka tidak bersedia turut serta dalam satu proses kreatif untuk membawa kehidupan baru anak-anak mereka ke dalam dunia ini, membesarkan dan mendidik mereka hingga sampai pada kedewasaan.”

Kita tidak akan menemukan jawaban yang gamblang dalam Alkitab. Kita telah melihat bahwa seks memiliki sarana prokreasi dan relasi. Kenyataan bahwa fungsi seks dalam perkawinan tidak hanya untuk meneruskan keturunan tetapi juga untuk mengekspresikan cinta dan komitmen, menunjukan adanya keterbatasan dalam fungsi seks sebagai sarana reproduksi. Dengan kata lain bahwa fungsi relasi merupakan fungsi yang lebih dinamis dibandingkan fungsi reproduksi.

Hal ini memicu pertanyaan: apakah kita berhak campur tangan dalam proses reproduksi yang direncanakan Tuhan? Jawaban dari Gereja katolik Roma adalah Tidak!. Apa yang harus dilakukan oleh umat katolik telah dijelaskan Paus Paulus VI dalam suratnya Humane Vitae (29 Juli 1968), yang mengakui moralitas kesatuan seksual antara suami dan istri, walaupun tidak memiliki anak. Dalam suratnya Paus tidak menyeujui penggunaan alat kontrasepsi buatan dan menganjurkan mengunakan cara alamiah ‘metode ritme’ untuk mengontrol kelahiran. Dalam metode ini hubungan seksual hanya boleh dilakukan pada saat istri dalam masa tidak subur.

Usaha Humane Vitae untuk membedakan antara kontrasepsi ‘buatan’ dan ‘alami’ kemudian menimbulkan masalah baru. Penolakan untuk menggunakan kontrasepsi buatan menjalar pada penolakan untuk menggunakan vaksin, hormon, atau obat-obatan yang tidak diproduksi secara alami dalam tubuh manusia.

“Seperti penemuan manusia yang lain,” tulis David Phypers,”kontrasepsi dipandang sebagai sesuatu yang netral dari segi moral; masalahnya terletak pada apa yang akan kita lakukan dengan kontrasepsi itu. Jika kita menggunakannya untuk melakukan hubungan seks diluar nikah atau demi keegoisan kita, atau jika kita menggunakannya untuk merusak perkawinan orang lain, kita akan dipersalahkan karena tidak mematuhi kehendak Allah dan karenanya kita menghancurkan arti perkawinan. Namun apabila kita menggunakannya dengan tepat untuk kesehatan dan demi kesejahteraan keluarga kita, kontrasepsi justru akan membantu kita memperoleh rumah tangga yang bahagia. Dengan kontrasepsi kita dapat melindungi keluarga kita dari masalah fisik, emosi, ekonomi, dan psikologi yang mungkin ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak direncanakan, sementara diwaktu yang sama kita dapat mencurahkan perhatian kita untuk menumbuhkan cinta yang dapat memperkuat ikatan perkawinan.

Kesimpulan

Seksualitas manusia adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Tidak ada jejak dosa didalamnya. Namun, sama seperti anugerah Tuhan yang lain bagi manusia, seks juga digunakan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari kehendak Tuhan. Seks berfungsi sebagai sarana untuk menyatukan dan memperoleh keturunan, dalam hubungan pria dan wanita untuk menjadi ‘satu daging’. Ketika hubungan itu rusak, baik oleh seks pra-nikah atau seks diluar nikah, kita telah melanggar hukum ketujuh. Kita telah berbuat dosa, dosa terhadap Allah dan dosa terhadap diri sendiri.

Tapi Alkitab tidak meninggalkan kita tanpa harapan. Alkitab memperkenalkan kita kepada kasih Allah yang bersedia mengampuni segala dosa, termasuk dosa seksual. Walaupun dosa seksual meninggalkan bekas dalam kesadaran kita dan dapat menyakiti orang lain, pertobatan yang sungguh-sungguh mampu membuka pintu maaf Allah. Tidak ada dosa yang sangat besar sehingga kasih Allah tidak dapat membawa penyembuhan dan perbaikan. Yang harus kita lakukan adalah meraih kasih itu, karena hanya kasih yang membuat kita menyadari potensi kita masing-masing yang telah diberikan oleh Pencipta kita.

Kita juga harus menerapkan hal itu dalam kehidupan seksual kita. Pada saat orang-orang mulai memperbolehkan seks bebas, saat itulah menjadi peringatan bagi kita sebagai orang Kristen untuk kembali memperkuat komitmen kita tentang seks menurut pandangan Alkitab sebagai satu anugerah ilahi yang hanya boleh dilakukan dalam perkawinan.

(Dikutip dari tulisan Samuele Bacchiocchi)

Kelirumologi dalam mengartikan isi Alkitab

APAKAH MARIA MAGDALENA YANG MENGURAPI KAKI YESUS?

Dalam Bible, jelas disebutkan: Markus 16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
Luk. 8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,
Tidaklah mungkin, seorang yang dimasuki tujuh roh jahat, menjadi seorang pelacur. Pria hidung belang paling nekadpun tidak akan gegabah bercinta dengan wanita yang dirasuki setan. Dalam adat Yahudi, angka tujuh menunjukkan /melambangkan kesempurnaan. Jadi Maria yang mengurapi kaki Yesus, adalah Maria saudara Martha dan Lazarus, sedang Maria Magdalena adalah tokoh lain.

GALILEA atau TIBERIAS
Dewasa ini, banyak pihak yang lebih merasa keren menggunakan nama “Tiberias” dibandingkan “Galilea”. Bahkan konyolnya, beberapa biro perjalanan holyland menggembor-gemborkan ” perjalanan ke danau Tiberias”. Sikap demikian adalah sikap beberapa oknum Kristen yang kurang bertanggung jawab. Nama Tiberias baru muncul pada Injil Yohanes, itupun hanya 3 kali, yaitu:

Yoh. 6:1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
Yoh. 6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
Yoh. 21:1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut

Sedangkan nama Galilea muncul 75 kali, mulai dari Perjanjian Lama.
Kesimpulannya: Tiberias adalah bagian dari danau Galilea, ini dapat diumpamakan sebagai berikut: Samosir adalah bagian dari danau Toba. Jadi sangat naif dan konyol; jika nama Tiberias digunakan untuk untuk menggantikan nama Galilea. Tidak diketahui apa motivasi mengganti nama seenaknya ini, tetapi pada dasarnya ada beberapa dugaan:
1. Sifat vandalisme, ingin mengukir sejarah dalam satu bidang , dalam hal ini yang menjadi korban adalah Kitab Suci dan kebenaran.
2. Sifat kultus individu.
3. Sifat imperial dari penjajah Romawi, yang kemudian dijiplak mentah mentah. Beberapa pihak di Eropa kerap menafsirkan nama Galilea sebagai daerah yang penduduknya memiliki sifat pemberani tetapi konyol. Dalam kisah komik Asterix dan Obelik digambarkan bahwa tokoh-tokoh tersebut yang konyol namun heroik tersebut berasal dari daerah “Galia” yang diyakini pemberian nama Galia ini terinspirasi dari nama “Galilea”.

Dalam P.L, dikatakan “Roh Jahat yang daripada Allah?”
1 Samuel 16:14
Roh Tuhan mundur dari Saul. Ketika Daud diurapi sebagai raja kedua bangsa Israel, Alkitab mencatat suatu perbedaan yang menyolok. Pertaman,kita membaca “Berkuasalah Roh Tuhan atas Daud.” (1 Samuel 16:13). Kalimat ini kemudian dilanjutkan dengan pernyataan yang mengejutkan yang berlawanan,”Tetapi Roh Tuhan telah mundur dari pada Saul.” Peristiwa ini sangat menyolok.Jarang sekali kita baca dalam PL, di mana Tuhan menarik mundur RohNya dengan sengaja dari orang yang telah diurapiNya. Gangguan roh jahat itu membuat Saul kehilangan penguasaan dirinya, dan keadaan ini makin lama makin parah.Pulpit Commentary mengatakan,”Mula-mula, mungkin, serangan-serangan kegilaan ini datang kepada Saul hanya pada jarak waktu yang jauh,tetapi setelah itu menjadi makin sering, dan dengan kehilangan penguasaan diri sedemikian rupa sehingga ia lebih dari satu kali berusaha membunuh Daud,dan bahkan Yonatan,anaknya sendiri.” Karena Roh Tuhan telah meninggalkan Saul,maka roh jahat otomatis menggantikan kedudukan Roh Tuhan itu.
Adam Clarke mengatakan,”Tuhan kelihatannya mengambil karunia apa pun yang ia punyai, dan menyerahkannya kepada Daud; lalu roh jahat datang kepada Saul; karena apa yang tidak diisi oleh Tuhan,akan diisi oleh Setan.”

Penyembahan yang benar

PENYEMBAHAN YANG BENAR

Oleh: Robert Colman

A.W. Tozer beberapa dasawarsa lalu pernah mengatakan, bahwa penyembahan merupakan mutiara yang sudah hilang dalam Gereja Kristen. Sejak pernyataan Tozer ini, selama tiga puluh tahun lebih telah terjadi revival dalam gereja Tuhan dengan proses ajaib yang memperbarui pemahaman banyak orang Kristen di pelbagai tempat tentang arti makna penyembahan, tujuan dan manfaat penyembahan. Hal ini semakin menambah kerinduan bagi orang Kristen untuk dapat menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Menyembah Allah merupakan kewajiban yang harus dilakukan dalam hidup ini, dan setiap orang mempunyai hasrat untuk menyembah. Hasrat keinginan untuk menyembah itu hakiki bagi setiap manusia, sehingga jika manusia itu tidak menyembah Allah, maka ia akan menyembah pribadi lain, suatu ujud tertentu,sesuatu yang ada di dunia ini, atau bahkan diri sendiri.

Kesulitan terbesar adalah kita sering “mengintelektualkan Allah”. Maksudnya adalah : kita memikirkan kehadiran Allah, tetapi menolak setiap jamahan Allah pada emosi jiwa,roh atau tubuh kita. Mengapa kita sering membatasi emosi dan pikiran kita dalam penyembahan? Ketika Adam sebagai manusia pertama jatuh dalam dosa, timbullah rasa malu, kesadaran diri Yesus Kristus sebagai Adam terakhir telah mati di kayu salib,Ia juga telah mematikan rasa malu yang menahan kita dalam perbudakan kesadaran diri yang salah .Kristus telah membawa kita memiliki kebebasan total dalam tubuh,jiwa dan roh kita.

William Temple, teolog Gereja Anglican pernah mengatakan :”Penyembahan adalah penundukan seluruh keberadaan kita kepada Allah. Penyembahan adalah kebangkitan kesadaran akan kekudusanNya; pemuasan pikiran oleh kebenaranNya; pengudusan imajinasi oleh keindahanNya, membuka hati pada kasihNya, menyerahkan kehendak pada maksudNya; dan saya perlu menambahkan: dan penyerahan diri kita kepada kebebasanNya secara total.”. Penyembahan yang benar hanya terjadi kalau kita mengijinkan Allah tidak hanya bertahta di pusat alam semesta, tetapi juga bertahta di dalam pusat hati kita.

Karya penebusan Kristus yang begitu mulia dalam menyelamatkan umat manusia dan memulihkan sukacita kita untuk melakukan penyembahan yang benar, sebagaimana Adam dan Hawa yang benar-benar menikmati hadirat Allah dalam keindahan Taman Eden sebelum jatuh dalam dosa. Masalah vital penghalang dalam penyembahan adalah pemusatan pada diri sendiri. Dosa juga termasuk usaha menahan diri sendiri di pusat hidup kita, dimana seharusnya Allah berada. Jika Allah tidak lagi menempati pusat hidup kita, maka diri kita sebagai pusat hidup kitalah yang menjadi ‘Allah’ atau ilah lain itu !

Jika Allah tidak menempati dan memelihara pusat hidup kita, maka tidak ada lagi fokus penyembahan kita. Untuk menjadi pribadi yang dikehendaki Allah kita harus berhenti berperang dengan ego diri sendiri dan menyerah kepada Allah, sehingga Ia dapat masuk, mengambil tempat (yang merupakan hakNya) dalam hidup kita dan memerintah sebagai Allah. Bila tidak ada penyerahan diri kepada Allah secara total, akan terjadi konflik dan ketidak harmonisan internal. Ego manusiawi kita jika selaras dengan kehendak Allah akan berfungsi dengan baik, jika tidak akan menjadi kekuatan yang membahayakan dan merusak.

Jadi, apa sebenaarnya yang Allah inginkan ? Jawabanya mudah dan maknaaanya sangat dalam, yaitu penyeraaahan diri. Ini telah menukar hidup yang berpusat pada diri sendiri yaaang penuh dosa pada hidup yang sepenuhnya berpusat pada Allah.Ini pertukaran yang nyata, hidup kita bagiNya dan hidupNya bagi kita. Paulus dalam Roma 12:1 menegaskan:”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati”.

(Robert Colman adalah Worship Leader di Blackburn Baptist Church,Melbourne)

Kasih-Nya berlimpah ruah

RENUNGAN


Para Pembaca yang budiman dan berbahagia

Kasih Allah, berkatnya yang melimpah, kesejahteraan dan kesembuhan /pemulihan yang luar biasa oleh Yesus Kristus, sebagaimana Anda setia dan bertekun dalam mencari wajah Allah.

Saya berpegangan pada prinsip “Kuasa Penyembuhan dari Firman Allah” dan saya menekankan pentingnyaof our “giving voice to God’s Word.” This subject is still very much on my heart at this writing, karena saya melihat begitubanyaknya sakit penyakit dalam kehidupan kaum percaya, and I know this is not the will of God. The Christian believer should be the healthiest people on their block. Mazmur 107:20 said that “God sent His Word and healed them and delivered them from their destruction.” Jesus Christ, the living Word finished the complete work of healing and deliverance for all who will believe.

I Peter 2:24… says, “by whose [Jesus Christ’s] stripes [beatings] ye were healed.” I Corinthians 5:7… says, “For even Christ our Passover is sacrificed for us”. Jesus Christ was the final Passover for ALL God’s people [not just Israel] and Jesus Christ brought with his complete work of redemption and salvation, a “New Covenant called, Holy Communion.” Within the communion are the two elements of the “Roti dan Cawan Anggur.” Cawan berbicara tentang darah Kristus dan roti berbicara tentang tubuh Kristus yang tersayat. The blood of Christ has redeemed us and brought us from death unto everlasting life. Tubuh Yesus yang berbilur telah membuat para pengikutnya, physical healing wholeness. The Christian Believer seems to readily claim his redemption through the shed blood of Jesus Christ, and I have heard many make bold claim of this reality; But what about the broken body of Jesus and the healing that came with it? Was Jesus Christ’s body beaten and broken that we should be sick and diseased? No, when God delivered Israel out of Egypt he did a complete job. It says in Psalms 105:31, that there was not one feeble person among the tribes of Israel. Their lives were saved and they stayed physically healthy too. God had promised them in:

Exodus 23:25.. “And ye shall serve the Lord your God, and He shall bless thy bread, and water; and I will take sickness away from the midst of thee.

Deuteronomy 7:15..”And the Lord will take away from thee ALL sicknesses

Psalm 91:10..” There shall no evil befall thee, neither shall any plague come nigh thy dwelling.”

These are promises God had made to Israel, as they were about to go into the Promised Land. PEOPLE, Jesus Christ, our Joshua, our Savior, have brought us into “the promised land and the land of promises.” Now it is our time to manifest all that he has given by laying our claim to what is rightfully ours. Israel had to take action and stick together to claim what was given them. Were there enemies before them to try and stop them and hinder them from receiving what was theirs? Yes! Do we have an enemy to hinder us? Yes! But can he stop us? No, only if we let him.

It’s high time we get some holy boldness to VOICE our claims with believing confidence and trust in the Living God and His Living Word.

If you are taking medication don’t stop, but don’t forget to take God’s medicine either. Then give voice to the Healing Word and tell your body it is healed by the stripes of Jesus Christ. Keep voicing it until it happens, and claim God’s protection from the flu and other plagues. Also, help one another by voicing God’s healing Word to them.

Penebusan dan penyembuhan melalui Tuhan Yesus Kristus membuat saya sangat bersyukur!

Tak sekedar hidup

 

dari
semua orang jahat, orang
jahat relijius adalah yang
terburuk dan berbahaya , –G.S Lewis

Judul artikel ini saya ambil dari judul buku
yang ditulis oleh Ron Jenson. Hemat saya , judul buku Ron Jenson
ini cukup jelas untuk berbicara untuk irinya sendiri, sehingga
saya tak perlu bersusah payah memikirkan judul yang lebih tepat
untuk percakapan kita. Implikasi dari judul tersebut di atas,
hemat sayaaa, sangatlah merangsang untuk apa yang pernah dinamakan
“pahlawan tanpa tanda jasa”, yaitu para guru. Para
pakar, mereka yang berkedudukan tinggi, para elit politik, siapa
saja yang termasuk para peraih nobel, pasti telah mengalami
dan merasakan sentuhan tangan pendiodikan dan atau suara teguran
keilmuan dari seorang guru. Tanpa guru sayaaa tidak bisa membayangkan
bagaimana wujud dunia kita ini. Oleh sebab itu pekerjaan seorang
guru adalah sebuah “panggilan”, bukan sebuah pekerjaan
biasa. Kalau para guru menyadari hal ini, maka dasar pertama
yang sangat bermanfaat dan berhasil telah diletakkan.

Saya lalu teringat kepada sebuah sekolah swasta
sebelum Indonesia merdeka yang terletak di sebuah pulau terpencil,
Saparua, lebih kurang satu jam perjalanan laut dengan “speedboat”
dari pulau Ambon. Pemimpin sekolah ini begitu berjiwa nasionalistik
sehingga tidak mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda
pada waktu itu, meskipun diancam dengan “wilde scholen
ordonnantie”. Sekolah swasta kecil ini bernama “Particuliere
Saparuasche School” dipimpin oleh nyonya C.A. Sahetapy
Tomasowa, yang pada waktu itu harus bersaing dengan sekolah
Belanda dan sekolah milik gereja. Kedua sekolah terakhir ini
berbahasa Belanda.

Particuliere Saparuasche School (disingkat P.S.S)
juga berbahasa Belanda, dan dengan bantuan dan kerjasama dari
W.A.Lokollo, juga seorang nasionalis berhasil mengungguli kedua
sekolah tadi. P.S.S melayani rakyat kecil dan orang tua murid
yang acapkali tidak mampu membayar uang sekolah dan cukup memberi
hasil kebun sebagai pengganti uang sekolah. Banyak murid dari
rakyat kecil yang “drop out” dari dua sekolah lainnya
seperti tersebut diatas, bisa dididik kembali berkat tangan-tangan
guru yang berdedikasi dari P.S.S karena semboyan mereka adalah
“MAKE A LIFE, NOT JUST A LIVING”.

Setelah proklamaasi kemerdekaan, lembaga-lembaga
dan atau pranata-pranata Kristiani, termasuk gereja-gereja dari
berbagai-bagai denominasi seperti tidak dapat membaca tanda-tanda
jaman. Mereka yang menggantungkan diri pada Belanda seperti
mengalami suatu gejolak psikologis akibat problematik finansial.
Yayasan-yayasan pendidikan yang mewarisi gedung-gedung pendidikan
Belanda bisa “survive” untuk sementara waktu, tetapi
karena ketiadaan visi dan misi, tidak dapat mengatasi problematik
managerial, dan terutama karena faktor KKN, maka lama kelamaan
sekolah-sekolah asal atau warisan Belanda itu berpindah tangan.
Contoh yang paling “frapant” dalam hal ini di Jakarta
adalah sekolah Kristen di Jalan Salemba yang “nota bene”
ketua yayasannya adalah seorang pendeta, dijual kepada lembaga
non-Kristiani.

Orang-orang dan tokoh-tokoh Kristen yang bermandikan
uang dan kekuasaan pada waktu itu, juga tidak memiliki visi
dan misi.Suatu wadah gereja nasional pun para pemimpinya mengalami
semacam “malaise” atau “fiasco” secara moral
dan etika. Perguruan -perguruan tinggi Kristen yang seharusnya
belajar dari sejarah yang rancu dari partner mereka di luar
negeri, menjadi ajang perebutan pengaruh dan entah apa lagi.
Mungkin komunitas Kristiani sudah begitu tercemar sehingga mereka
hanya terobsesi dengan kata KASIH yang sudah diracuni mereka
sendiri. Mendiang Professor Allan Boom, begitu tulis Philip
Yancey dalam bukunya “The Bible Jesus read” (2001),
tampaknya mahasiswa strata satu di Universitas Chicago tidak
bisa melukiskan atau mendeskripsikan orang jahat. Ketidak mampuan
untuk mengenali dan menjelaskan kejahatan, kata Bloom, adalah
tanda bahaya dalam masyarakat modern. Secara mutatis mutandis
bisa dikatakan itu juga berlaku terhadap komunitas gereja di
Indonesia.

Kejahatan terstruktur dalaaam komunitas Kristen
di Indonesia sudah demikian parah, sehingga kalau tokoh gereja
seperti pendeta berselingkuh didiamkan saja, padahal ia harus
memimpin sebuah organisasi gereja yang mewakili umat Kristiani
di Indonesia. Untuk meminjam kembali ungkapan Philip Yancey,
barangkali kita harus membacakan atau mendoakan “mazmur
kutukan” sebagai motivasi “kemarahan suci”.

Pendekatan yang sekarang ini dilakukan oleh sekelompok
orang yang taku akan Tuhan, mungkin ingin “membersihkan”
segala dosa kita semua dengan merintis suatu trase baru; entahlah.
Saya sendiri, terus terang , akhir-akhir ini sedang terus bergumul
dengan perasaan dari pikiran yang sedang terpasung oleh kondisi
politik bangsa dan negara ini. Seperti terpanah oleh kata-kata
Philip Yancey yang bukunya saya belum selesai membaca, tetapi
apa yang ia tulis perlu kita semua merenungkannya, menyimaknya
dan barangkali meskipun tidak mengucapkannya sebagai mazmur
kutukan, toh perlu untuk dikemukakan juga bahwa: “Dalam
hal apakah kita berbeda dengan hewan? Lebih pintar dari semut,
pasti, tetapi jauh lebih payah dalam kerjasama.” Kerja
sama, mungkin ini kata kunci yang harus ditemukan dan digunakan
untuk membuka pikiran-pikiran kita yang begitu kotor, begitu
egois, begitu arogan, begitu rasional tanpa emosional atau sebaliknya,
sampai melupakan eksistensi kita “vis-a-vis” Sang
Mesias Kita, Yesus Kristus. Mungkin untuk itu dengan memperhatikan
kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih harus banyak belajar
dari Ayub dan Habakuk.

MAKE A LIFE NOT
JUST A LIVING

Kehidupan
Kristiani Yang Bertanggung Jawab

Artikel Rohani oleh :
Prof.Dr.JE.Sahetapy, SH,MA

dikutip dari Pelita Kasih
vol.4 thn 2001

Apakah Injil Yudas itu?

SEDIKIT MENGUPAS INJIL YUDAS
Sumber: Pat Zukeran, Manna Sorgawi, 2006
dan berbagai sumber lainnya


Sesudah marak pemberitaan tentang Injil Barnabas, Injil Petrus, Da Vinci Code, umat Kristen sedunia kini coba digoyang dengan wacana ditemukannya injil Yudas, yang katanya menyamai hebohnya penemuan skrip-skrip Gnostik di Nag Hamadi pada tahun 1945.”
Injil Yudas ditemukan pada tahun 1978 oleh seorang petani di sebuah gua berdekatan El Minya ,yaitu Jebel Qarara -di Mesir tengah. Tepatnya 60 km sebelah utara Al Minya dan 300 km sebelah utara Nag Hamadi. Para arkeolog dan sejarawan memprediksi penulisan teks qibli (Coptic text) ini di antara 300 T.M. dan 400 T.M. Kebanyakkan cendikiawan percaya teks asal ini ditulis dalam bahasa Yunani dan manuskrip asalnya ditulis di pertengahan abad kedua.

Kumpulan skrip yang disebut Kodeks Tehacos itu berisi Surat Petrus kepada Filipus, Wahyu Pertama Yakobus, Injil Yudas, Kitab Allogenes.

Oleh penemunya, skrip ini dijual kepada kolektor benda antik bernama Hanna, namun sebelum Hanna sempat merawatnya, apartemen Hanna tempat menyimpan naskah kuno ini dibobol pencuri. Diantara barang berharga yang dicuri terdapat juga naskah-naskah Kodeks Tehacos ini.

Beberapa tahun kemudian, naskah ini dapat ditebus kembali oleh Hanna , yaitu pada tahun 1982.Sesudah beberapa kali berpindah tangan dari kolektor satu ke kolektor lain, kodeks ini direservasi dan diterjemahkan oleh Maecenas Foundation pada tanggal 19 Pebruari 2001. Naskah terjemahan diserahkan ke Museum Koptik di Kairo, Mesir. Pada tanggal 1 Juli 2004 dalam Kongres ke 8 dari International Association for Coptic Studies di Paris, kodeks ini mulai dipublikasikan. Tahun 2005 naskah ini mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa. Di Indonesia, terjemahan naskah ini diterbitkan oleh P.T.Gramedia Pustaka Utama pada bulan Juni 2006.

Meski tidak diketahui penulisnya, tapi menilik jaman kepenulisannya maupun isinya jelas bukanlah Yudas Iskariot atau pengikut Yesus lainnya yang mengarangnya. Skrip ini merupakan bahan ajaran Gnostik yang mula berkembang pada zaman itu. Irenaeus adalah yang merintis ajaran Gnostik pada 180 SM.
Injil Yudas ini adalah sama dengan bahan-bahan risalah Gnostik yang dijumpai di sepanjang Nil termasuklah set Nag Hammadi yang berisi 45 teks Gnostik yaitu Injil Maria, Injil Petrus dan teks-teks lain.

Sedikit Tentang ajaran Gnostik
Ajaran Gnostik berkembang mulai abad kedua sampai abad keempat. Kata Gnostik berasal dari bahasa Yunani yaitu gnosis ialah pengetahuan (knowledge)/ilmu yang merujuk kepada mistik atau ilmu rahasia dari Tuhan dan penyatuan diri sendiri dengan Tuhan. Berikut adalah ringkasan falsafah Gnostik.

  • Pertama, Gnostik mengajar ilmu rahasia dualisme iaitu kebendaan duniawi/propan adalah jahat dan alam rohani adalah sakral/suci.
  • Kedua, Tuhan tidak mendekati manusia tetapi manusialah mendekati Tuhan, yang pada dasarnya bersifat ketuhanan. Tuhan adalah roh dan cahaya dalam setiap individu. Bila seseorang itu mengenali dirinya, dia akan memahami kesemuanya.
  • Ketiga, masalah asas dalam ajaran Gnostik bukanlah dosa tetapi kejahatan. Cara untuk menyatukan dirinya dengan Tuhan ialah mencapai ilmu mistik. Keempat, keselamatan dicapai dengan memperoleh ilmu atau gnosis diri dan alam semulajadi yang sebenarnya. Kelima, dasar prinsip ajaran Gnostik ialah penyatuan dengan Tuhan. Ini dicapai dengan membebaskan diri dari tubuh yang tidak suci ini supaya perjalanan jiwa individu melalui angkasa mengelakkan diri dari setan-setan dan menyatukan dirinya dengan TuhanGnostik mengajar Yesus tidak berbeda dari para pengikutNya. Mereka yang memperoleh persepsi Gnostik akan menjadi Kristus seperti Yesus. Profesor agama dari Universiti Princeton, Dr. Elaine Pagels menulis, ‘Siapapun yang mencapai gnosis bukan lagi seorang Kristen tetapi Kristus”. Dengan ini, Yesus bukanlah Anak Tuhan yang Kudus yang mati untuk dosa dunia tetapi seorang guru yang menngajarkan ilmu kebajikan kepada pengikutnya yang layak menerimanya.Falsafah Gnostik adalah berbeda dari ajaran-ajaran Perjanjian Lama dan Baru. AlKitab menentang ajaran Gnostik berkenaan dengan doktrin asas sifat-sifat Tuhan, Yesus, kebendaan duniawi, dosa, keselamatan dan kehidupan akhirat. Para Yahudi dan Kristian menentang ajaran Gnostik sebagai ajaran sesat begitu juga Gnostik yang menentang ajaran Kristian. Injil Yudas mengajar falsafah Gnostik. Seperti risalah Gnostik yang lain, persamaan Injil Yudas dengan Perjanjian Baru hanyalah sedikit sahaja. Injil Yudas ini bercanggah dengan Perjanjian Baru dalam 2 perkara besar:

    Kandungan dalam Injil Yudas
    Falsafah Gnostik bertolak belakang dengan Alkitabiah Kristen dan Injil Yudas menggambarkan Gnostik dan bukanlah teologi AlKitabiah. Contohnya, falsafah Gnostik yang menggambarkan misi Yesus digambarkan dalam Injil Yudas ini.

    Dr. Marvin Meyer, seorang professor AlKitab dari Kolej Chapman, merumuskan misi utama Yesus berdasarkan injil ini.

    “Kematian Yesus dalam Injil Yudas ini bukanlah suatu tragedi mahupun jahat untuk pengampunan dosa-dosa.. Kematian adalah jalan keluar dari kewujudan fizikal absurd yang bukanlah suatu perkara yang ditakuti. Jauh dari kesedihan, tujuan kematiaan Yesus membebaskanNya dari tubuhnya supaya Dia dapat pulang ke rumahNya di syurga dan dengan mengkhianati Yesus, Yudas membantu kawannya untuk melucutkan diri dari tubuhnya dan membebaskan diri dalamnya

    Misi Yesus dalam Perjanjian Baru jelas ternyata. Dia datang untuk mati bagi penebusan dosa-dosa dunia dan menguasai kubur melalui kebangkitan tubuhNya. Bertentangan dengan Injil Yudas yang mengajar Yesus yang ingin mati untuk membebaskan diriNya dari pemenjaraan tubuhNya.

    Selain itu, ajaran asas Gnostik ialah masalah manusia bukanlah dosa tetapi kejahatan. Yesus bukanlah Penyelamat tetapi hanyalah seorang guru yang mengajarkan ilmu kebajikan kepada orang yang layak menerimanya. Yudaslah yang dianggap yang layak menerima ilmu ini. Dr Meyer menulis,

    “Bagi Gnostik, masalah asas bagi manusia bukanlah dosa tetapi kejahatan dan jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini bukanlah melalui iman tetapi melalui ilmu. Dalam Injil Yudas, Yesus menyampaikan kepada Yudas dan pembaca-pembaca injil ini – ilmu yang dapat menghapuskan kejahatan dan membawa kesadaran pada diri sendiri dan Tuhan”

    Ajaran Gnostik juga berpandangan dunia fisik ini jahat. Tuhan tidak mencipta dunia fisik ini. Tetapi Dia mencipta malaikat-malaikat yang kelak akan mencipta, menjaga ketenteraman dan menguasai dunia jasmani ini. Oleh sebab kebendaan itu tidak suci, maka Tuhan tidak memasukki secara langsung ke dalam ciptaan jasmani ini. Dalam Injil Yudas, Yesus bertanya kepada pengikutnya, “Bagaimanakah kamu mengenali Aku” Mereka tidak menjawabnya betul. Sebaliknya Yudas menjawab, “Saya tahu siapakah kamu dan dari mana kamu datang. Engkau datang dari alam kekal Barbelo”

    Barbelo dalam ajaran Gnostik ialah emanasi Tuhan pertama, yang biasanya disebut sebagai ibu dan ayah. Oleh sebab Tuhan tidak memasukki dunia yang tidak suci ini, alam perantara Barbelo dimana dunia jasmani ini dicipta tanpa mencemarkan Tuhan.

    Jelasnya, Barbelo adalah istilah Gnostik dan asing dari ajaran Kristian. Yesus menyatakan dalam Yohanes 3:13 bahawa Dia datang dari syurga. Ayat Yunaninya ialah houranos. Penulis Perjanjian Baru melihat Yesus duduk si sebelah kanan BapaNya. Yesus tinggal di syurga yang kekal bersama dengan BapaNya.

    Sebab-sebab Injil Yudas bukan sebahagian dari Perjanjian Baru

    Ada beberapa sebab kita tidak menganggap Injil Yudas sebagai alkitabiah yang diilhamkan. Pertama, ia ditulis terlalu lewat tanpa hubungan dengan para rasul. Para Rasul Kristus diberikan ilham dan kuasa untuk menulis kitab suci. Syarat-syarat kemasukkan ke dalam kanon* Perjanjian Baru ialah ia perlu ditulis oleh rasul Kristus atau orang yang terdekatnya. Memandangkan hubungan dengan rasul diperlukan, ia seharusnya ditulis pada abad pertama. Terdapat banyak bukti keempat-empat Injil dalam Perjanjian Baru ditulis pada abad pertama. Injil Yudas ditulis pada pertengahan abad kedua maka ia terlalu lewat untuk dimasukkan ke dalam kanon.

    Kedua, alkitabiah yang diilhamkan itu mestilah konsisten dengan wahyu Tuhan yang terdahulu. Tuhan adalah Tuhan yang benar dan bukan sebaliknya. Maka firmanNya tidak bercanggah dengan kebenaran. Falsafah Gnostik dalam Yudas ini tidak konsisten dengan ajaran Perjanjian Lama dan Baru.

    Perjanjian Lama mengajar Tuhan mencipta dunia fizikal dan Adam serta Hawa (Kejadian 1-3). Dalam Kejadian yang mengisahkan semua ciptaan Tuhan adalah baik. Ini bercanggah dengan ajaran Gnostik, Tuhan menciptakan dunia fizikal ini dan mengisytiharkannya baik.

    Ada beberapa sebab kita tidak menganggap Injil Yudas sebagai alkitabiah yang diilhamkan. Pertama, ia ditulis terlalu lewat tanpa hubungan dengan para rasul. Para Rasul Kristus diberikan ilham dan kuasa untuk menulis kitab suci. Syarat-syarat kemasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru ialah ia perlu ditulis oleh rasul Kristus atau orang yang terdekatnya. Memandangkan hubungan dengan rasul diperlukan, ia seharusnya ditulis pada abad pertama. Terdapat banyak bukti keempat-empat Injil dalam Perjanjian Baru ditulis pada abad pertama. Injil Yudas ditulis pada pertengahan abad kedua maka ia terlalu lewat untuk dimasukkan ke dalam kanon.

    Kedua, alkitabiah yang diilhamkan itu mestilah konsisten dengan wahyu Tuhan yang terdahulu. Tuhan adalah Tuhan yang benar dan bukan sebaliknya. Maka firmanNya tidak bercanggah dengan kebenaran. Falsafah Gnostik dalam Yudas ini tidak konsisten dengan ajaran Perjanjian Lama dan Baru.

    Perjanjian Lama mengajar Tuhan mencipta dunia fizikal dan Adam serta Hawa (Kejadian 1-3). Dalam Kejadian yang mengisahkan semua ciptaan Tuhan adalah baik. Ini bercanggah dengan ajaran Gnostik, Tuhan menciptakan dunia fizikal ini dan mengisytiharkannya baik.

    Ajaran Gnostik juga mengajarkan Tuhan tidak mencipta dunia fizikal ini sebab bahan-bahan dunia ini tidak suci, maka Tuhan menciptakan aeon-aeon dan malaikat-malaikat. Makhluk-makhluk inilah yang menciptakan alam fizikal. Dalam Injil Yudas, Yesus mendedahkah kejadian dunia ini, kemanusiaan dan para aeon dan para malaikat. Para malaikat ini yang membawa ketenteraman pada kucar-kacir. Salah satu malaikat-malaikat, namanya Saklas yang menciptakan Adam dan Hawa. Injil ini memberitahu:

    “Biarlah 12 malaikat-malaikat dijadikan untuk menguasai huru hara dan alam ghaib. Dan lihatlah dari awan datangnya malaikat yang mukanya berpancar cahaya dengan api serta penampilannya dicemari dengan darah. Namanya ialah Nebro yang bermaksud pemberontak. Saklas, malaikat yang lain itu juga datang dari awan. Nebro mencipta enam malaikat-malaikat lain begitu juga dengan Saklas untuk menjadi pembantu masing-masing. Maka terjadi 12 belas malaikat-malaikat ini dan masing-masing mempunyai bahagiannya dalam syurga.

    Ia juga mengatakan,

    “Saklas memberitahu malaikat-malaikatnya, “Marilah kita mencipta manusia yang menyerupai kami dan imej kami. Mereka mencipta Adam dan isterinya Hawa dalam awan yang dipanggil Zoe”

    Ini amat bercanggah dengan ajaran dalam Perjanjian Lama dimana Tuhanlah yang menciptakan dunia ini. Tuhanlah juga yang mencipta Adam dari tanah dan isterinya Hawa dari Adam.

    Injil Yudas juga bercanggah dengan ajaran Perjanjian Baru juga. Ia mengajar tubuh itu jahat dan Yesus ingin membebaskan diriNya dari tubuh fizikalNya. Yesus mengarahkan Yudas, “Tetapi engkau (Yudas) akan melebihi dari mereka. Engkau akan mengorbankan orang yang berpakaiankanku” Melalui kematian Yesus dengan bantuan Yudas akan membebaskan rohNya untuk bersatu dengan Tuhan.

    Perjanjian Baru mengajarkan bahawa Yesus tidak pernah ingin membebaskan diriNya dari tubuhNya. Faktanya, Yesus mengajar bahawa kebangkitanNya adalah kebangkitn fizikal (Yohanes 2:19-22). Dalam Lukas 24:39, Yesus menjelaskan kepada para pengikutNya bahawa Dia mempunyai tubuh fizikalNya. “Lihatlah tangan-Ku dan lihatlah kaki-Ku. Aku sendirilah ini! Sentuhlah Aku dan lihatlah, sebab hantu tidak berdaging dan tidak bertulang, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Dalam Yohanes 20 dan 21, Yesus juga mendedahkan tubuhNya yang disalibkan itu dibangkitkan. Dia juga menjemput Thomas dalam bab 20 untuk menyentuh bilur-Nya. Jika Yesus bangkit sebagai roh, Dia bersalah karena menipu para pengikutNya.

    Paulus mengajar dalam 1 Korintus 15 berkenaan dengan kebangkitan tubuh. Dia menerangkan bahawa Yesus bangkit dari maut dan sebanyak 500 orang saksi yang bersaksi akan fakta ini. Dia juga menerangkan kebangkitan tubuh itu ialah tubuh fisik tetapi berlainan dengan tubuh kita di dunia ini. Semasa kebangkitan, tubuh umat Kristian akan dimuliakan. Ini jelas menolak ajaran Gnostik yang ingin membebaskan diri dari tubuh yang tidak suci. Paulus tidak mengajar umat Kristian untuk membebaskan diri dari tubuh mereka malah menantikan kebangkitan tubuh (1 Tesalonika 4:13-18).
    Kesimpulan
    Sungguhpun dengan adanya gembar-gempur dari pihak media, Injil Yudas ini sama sekali tidak membuktikan kebenarannya. “Injil” ini sangatlah lemah baik dalam penulisan maupun muatannya. Skrip ditulis sesudah abad kedua dan ia tidak ditulis oleh Rasul Yesus atau orang terdekat dengan rasul. Ajaran-ajarannya juga bertolak belakang Perjanjian Lama dan Baru. Informasi yang sedikit dibentangkan itu tidak layak dijadikan bahan bersejarah. Injil Yudas memberikan kita gambaran yang lebih kepada permulaan Gnostik. Ia tidak membentangkan fakta sejarah Yesus yang boleh meneguhkan Perjanjian Baru jua.

     

.

Kisah nyata, iman yang memindahkan gunung (Simon dari Mesir)

KUMPULAN KISAH IMAN
KIRIMAN PARA KONTRIBUTOR
Non denominasi


IMAN MEMINDAH GUNUNG, KISAH NYATA DI ABAD 20



Saint Simon si Penyamak Kulit (St. Sama’an, dalam bahasa Arab) lived towards the end of the tenth Century when Egypt was ruled by the Fatimid Caliph, Al- Muizz and Anba Abram adalah kepala gereja Koptik. At the time, the Copts (Christians) in Egypt were engaged in handicrafts. St Simon worked in one of the crafts widespread in Babylon (Old Cairo) which was tanning, a craft still known there till this day.
This profession involved also other crafts that depend on the process, from where he carried several titles related to skins; St Simon the Tanner, the Cobber, the Shoemaker.
The Monastery, located on the opposite side of the road leading to the Citadel contains seven Churches and Chapels hidden in a series of caves in the Mokattam (Muqattam) hills.
The Monastery was erected and dedicated to him a thousand years after his miracle and his death. It lies behind “Mansheiyet Nasser”, the Zabbalin village (garbage collectors). This village was erratically established in 1969 when the Governor decided to move all the garbage collectors of Cairo to one of the hills of the Mokattam. There, they built themselves primitive houses of tin. The number of trash collectors living in the area reached about 15.000 in 1987. This number has doubled now.
Reaching the monastery is quiet a difficult approach. Amazingly, the people there will point you in the right direction knowing your destination without even been asked. The Monastery is reached through the narrow village streets, trash carts passing you by along with piles of rubbish, plastics and tins on the sides of the alleys with people sorting them out. Even if described in detail, the Zabbalin village is a hard place to picture, far from one’s imagination; it can only be grasped on site.
At the far end of the village, awaits you an unexpected, stunning place; a vast open space lying in the bosom of the hills, with dramatic colored carvings all over the mountain. The carvings were done by a Polish Artist who begun working there several years ago. They represent stories from the Bible such as the Holy Family journey and the Nativity scene.
Kathedral utama di sana dinamai Perawan Maria dan St Simon in commemoration of the legend of transferring Gunung Mokattam pada bulan November 1979 when Simon the Tanner dipilih untuk menggenapi nubuatan mujizat ini.
Menurut penuturan Coptic, Kalifah Al Muizz,, was fond of literacy gatherings and inviting different religious leaders to debate in his presence with neither anger nor contention.

In one of those meetings in which Pope Abram and a Jew named Jacob Ibn Killis were present, the Pope got the upper hand in the debate. Plotting to take revenge, Ibn Killis quoted the verse where the Lord Jesus said in Mt 17:20: “If you have faith as small as a mustard seed, you can say to the mountain, Move from here to there, and it will move, nothing will be impossible for you” and demanded him to prove that his religion is right by means of this.
The Caliph saw in this an opportunity to remove the mountain that was spoiling his view. At the same time, if they proved unable to do so, it would be the proof that the religion of the Christians was wrong and he would be done away with them completely or so goes the Legend.

Akhir Zaman

 

SEDIKIT MENGUPAS AKHIR JAMAN
Dari berbagai sumber


.” Pendahuluan Sampai saat ini banyak pertentangan pendapat antara orang-orang Kristen tentang bagaimana mengartikan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab mengenai akhir dari zaman Gereja dan kejadian-kejadian yang mengikutinya.
Ilmu tentang hal ini disebut “eskatologi”, berasal dari kata Yunani “eschatos” yang hampir sama dengan bahasa Inggris “escalate” (terangkat ) dan digunakan dalam istilah Theologi untuk menunjuk masa”pengangkatan orang kudus” pada akhir jaman. Lima kali dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan kata ini dalam hubungan dengan kebangkitan orang-orang benar yang telah meninggal: “… Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman” (6:39,40,44,54; 11:24). Dalam konteks ini, “eschatos” menunjuk pada saat KedatanganNya Kedua kali ke dunia. “… pada waktu bunyi nafiri yang terakhir … orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan kita semua akan diubah” (1 Kor 15:52). “Maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:16).
Bacaan yang paling mendukung adalah dalam Kisah Para Rasul 2:16,17 dalam Alkitab terjemahan Amplified: “Ini adalah permulaan dari apa yang difirmankan Allah lewat perantara nabi Yoel … Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia …” Petrus berkata bahwa nubuatan dari nabi Yoel tentang akhir zaman telah mulai pada hari Pentakosta ketika Roh dicurahkan di kamar loteng lima puluh hari setelah penyaliban Yesus. Dalam konteks yang lebih luas, berarti “hari-hari terakhir” dimulai pada saat Pentakosta pada tahun 33 Masehi. Banyak orang yakin bahwa “hari-hari terakhir” akan berakhir saat Yesus datang kembali ke dunia. A. SEMBILAN KEJADIAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI-HARI TERAKHIR Ayat-ayat berikut mencakup hampir semua (sembilan) kejadian-kejadian yang berhubungan dengan hari-hari terakhir. Kehadiran suara “sangkakala” akan menjadi tanda. Pesta terakhir yang dirayakan oleh bangsa Israel tiap tahun pada akhir musim menuai (Hari Raya Tabernakel) dimulai dengan peniupan sangkakala (Im 23:24; Bil 29:1). Perayaan ini memiliki suatu arti nubuatan yang menggambarkan hari-hari terakhir dari zaman Gereja. Ini adalah beberapa hal yang akan terjadi: 1. Kedatangan Kristus Kembali
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangka-kala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:15, 16). “Sesungguhnya, Aku akan menyatakan suatu rahasia; kita tidak akan mati semuanya tapi kita semuanya akan diubahkan.”
“Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir sebab nafiri akan berbunyi dan 2. Orang-orang Mati Akan Dibangkitkan “Orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan 3. Orang-orang Yang Hidup Akan Diubahkan “Kita semua akan diubah” (1 Kor 15:51,52). “Lalu malaikat yang ke tujuh meniup sangkakalanya; dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam Sorga, katanya, 4. Kristus Memerintah “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita. Dia yang diurapiNya, dan Ia (Kristus) akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Why 11:15). 5. Bangsa-bangsa Marah “dan semua bangsa telah marah, tetapi 6. Kemurkaan Allah “amarahMu telah datang dan 7. Penghukuman Orang-orang Mati “saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan 8. Upah Diberikan “Untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan namaMu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan 9. Orang-orang Berdosa Dibinasakan “Untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi” (Why 11:18). Kesembilan hal di atas adalah peristiwa-peristiwa utama yang mengikuti masa penghabisan dari Gereja dan kedatangan masa Kerajaan seribu tahun. B. MELIHAT PADA ESKATOLOGI (TINJAUAN TERHADAP ESKATOLOGI) 1. Jangan Terlalu Tercekam Ada banyak catatan-catatan dalam beberapa Alkitab bahasa Inggris yang memberikan pengertian-pengertian tentang hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman (eskatologi) (saya hanya menyebutkan dua saja, yaitu terjemahan Scofield dan Dakes). Ketika mempelajari Perjanjian Baru anda akan menemukan adanya rasa keingintahuan pada murid-murid Yesus tentang akhir zaman. “Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-muridNya kepadaNya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka, katakanlah kepada kami, bilamana itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat 24:3). Jawaban Yesus yang paling penting tentang hal ini dapat ditemukan dalam Matius 24:14: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya”. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “bangsa-bangsa” adalah ethnos yang berarti semua kelompok ethis bukan Yahudi (kafir). Penterjemah-penterjemah bahasa Inggris menggunakan semua kata-kata berikut ini untuk mengartikan kata ethnos tersebut: Orang-orang kafir, tidak bertuhan, bangsa, bangsa-bangsa, umat. Di negara-negara Barat, para missiologis sekarang mengartikan ethnos sebagai “kelompok orang”. Beberapa komentar menekankan bahwa akhir zaman itu tergantung pada Injil yang dikabarkan pada semua kelompok orang. Yesus secara terus menerus berusaha untuk membelokkan perhatian murid-muridNya dari “hal-hal yang indah yang akan segera terjadi” kepada “hal-hal yang dibutuhkan sekarang dan sekarang”. Dalam Kisah Para Rasul 1, kita membaca usaha Yesus untuk mempersiapkan murid-muridNya bagi pekerjaan yang sudah tersedia di hadapan mereka (penginjilan dunia). Dia memberi mereka perintah-perintah untuk menerima kuasa Roh. Apakah jawaban mereka? Sama seperti sebagian besar pemimpin gereja, mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan eskatologi. Mereka tidak terlalu tertarik pada tanggung jawab mereka saat ini. Perhatikanlah Kisah Para Rasul 1:6: “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? “JawabNya, Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (ayat 7,8). TanggapanNya merupakan teguran halus pada keingin-tahuan mereka yang manusiawi tentang masa depan dan sikap apatis mereka tentang program Allah yang sekarang bagi zaman Gereja. “… Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu …” Tugas serius ada dihadapan mereka. Mereka seharusnya menjadi “… saksi-saksi (Yunani = “martir-martir”) bagi Dia di hampir semua tempat di bumi ini”. Sangatlah jelas bahwa Yesus menaruh perhatian yang jauh lebih besar pada keselamatan orang-orang yang terhilang saat ini daripada membangkitkan rasa ingin tahu yang duniawi tentang hal-hal ini masa depan (eskatologi). Yesus tidak ingin para pemimpin Gereja itu mengembangkan pemberian keterangan-keterangan yang lebih lanjut, tapi tidak pasti tentang hari-hari terakhir. Jauh lebih baik jika anda berada “di dalam pekerjaan Bapa anda” (Luk 2:49), “… dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, dimana nama Kristus telah dikenal orang” (Rm 15:20). 2. Pandangan-pandangan Eskatologi Yang Berbeda a. “Dalam Sejarah Tersebut”. Ada banyak pandangan-pandangan yang bertentangan. Pandangan “telah disebutkan dulu”, atau “Dalam Sejarah Tersebut”, menyatakan bahwa nubuatan dari Kitab Wahyu contohnya, semata-mata diperuntukkan bagi zaman dari saat Yohanes, yang mendapatkan wahyu itu hidup. Mereka yang memegang faham ini percaya bahwa apa yang ditulis dan di catat Yohanes dalam Wahyu (Apocalypse) sudah digenapi saat itu, jadi tak ada hubungannya dengan keadaan saat kita hidup sekarang ini. Para sarjana-sarjana aliran “liberal” (yang sebagian besar tidak percaya pada mujizat-mujizat yang ditulis dalam Alkitab) pada umumnya mendukung faham ini. b. “Sepanjang Sejarah”. Pandangan kesejarahan, atau “sepanjang sejarah” melihat visi dari Kitab Wahyu sebagai kilasan peristiwa yang akan terjadi dalam sejarah sejak dari zaman Yohanes sampai akhir dari masa Gereja. Kelompok Reformasi Protestan sebagian besar mendukung pandangan ini. Beberapa dari orang-orang yang berfaham ini percaya bahwa satu dari tujuh jemaat dalam Wahyu 2 dan 3 mewakili tujuh masa yang akan terjadi secara berurutan dari zaman Yohanes hingga dari masa akhir zaman Gereja. Sebagai contohnya: apa yang kita baca tentang Gereja pertama dari tujuh jemaat itu (Efesus) menyatakan bagaimana keadaan Gereja pada abad pertama, setelah masa hidup Yohanes. Apa yang ditulis tentang Gereja yang terakhir dari tujuh Gereja tersebut (Laodikea) menyatakan bagaimana keadaan gereja pada akhir zaman, sesaat sebelum Yesus datang kembali ke dunia. Gereja-gereja yang lain akan mewakili zaman-zaman di antara Efesus (Gereja yang pertama) dan Laodikea (Gereja yang terakhir). Berikut adalah sebuah contoh dari penjelasan seorang penulis tentang pandangan ini. “Ke tujuh surat ini ditulis bagi jemaat-jemaat yang benar-benar ada dalam sejarah pada akhir dari abad pertama di propinsi di Asia sekarang adalah Turki bagian Barat.” “Surat-surat ini dikirimkan pada ke tujuh jemaat tersebut. Kota-kota dan jemaat-jemaat yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu benar-benar ada.” “Pada saat itu tentu saja ada banyak gereja-gereja Kristen lainnya, seperti yang ada di kota-kota Roma, Korintus, Kolose dan sebagainya”. “Ke tujuh gereja ini, disediakan Allah sebagai suatu mikro kosmos (contoh/model miniatur/kecil) dari semua gereja di segala zaman, karena itu mereka adalah wakil seluruh gereja. Masalah-masalah yang dihadapi oleh ke tujuh gereja tersebut, akan dihadapi juga oleh gereja-gereja masa sekarang dalam tingkatan yang beragam. Dari surat-surat tersebut kita dapat mempelajari kualitas-kualitas apa yang tak menyenangkan Allah dan apa yang Kristus sarankan untuk pengobatan mereka.” “Beberappa bahkan juga telah melihat suatu kualitas nubuat dalam gereja-gereja ini, yaitu dalam kitab nubuatan ini, gereja-gereja itu merupakan bayangan dari tujuh ciri-ciri dominan gereja di seluruh dunia sepanjang berbagai masa sampai Tuhan datang. Masa-masa yang disebutkan tersebut jika dilihat dari zaman yang terdahulu sampai sekarang adalah sebagai berikut: Efesus – gereja zaman rasul-rasul (30 – 100 M) Smirna – gereja yang dianiaya (100 – 313 M) Pergamus – gereja negara (313 – 590 M) Tiatira – gereja dari ke Pausan (Katolik) (590 – 1517 M) Sardis – gereja reformasi (1517 – 1730 M) Filadelphia – gereja Injili (1730 – pengangkatan) Laodikea – gereja yang murtad (ingkar) (1900 M – kedatangan Tuhan kedua kali) “Kristus menulis pada tujuh gereja setempat ini karena setiap jemaat merupakan gereja yang mengatur diri sendiri. Sebuah gereja lokal bisa berhubungan dengan suatu persekutuan, suatu denominasi, atau suatu kelompok sosial yang lebih besar dan lebih kooperatif, tapi Allah memegang tanggung jawab kepemimpinan dalam pengajaran bagi jemaatNya”. Rahasia pengajaran dari setiap surat adalah mengenali masalah-masalah utama dari setiap gereja, seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan, dan kemudian melihat bagaimana segala sesuatu yang tertulis dalam surat tersebut pernyataan Kristus (penampakan), peringatan dan janji-janji akan upah dari Kristus dihubungkan dengan masalah-masalah tadi. c. “Di Atas Sejarah”. Pandangan yang puitis, atau, “Di atas sejarah”, melihat sang nabi (Yohanes) menggambarkan dengan cara yang dramatis kemenangan Allah yang meyakinkan atas segala kuasa kegelapan. Hal ini sedikit sekali atau sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masa depan atau dengan sejarah. Semua penampakan merupakan suatu “drama” dari kemenangan akhir dari kebaikan atas kejahatan. 3. Perbedaan Pandangan Tentang Kerajaan Seribu Tahun Kata dari bahasa Inggris millennium artinya “jangka waktu seribu tahun”. Perioda seribu tahun ini disebutkan enam kali dalam Wahyu 20. Pandangan-pandangan tentang masa seribu tahun inilah yang biasanya menyebabkan paling banyak pertentangan apabila seseorang itu berbicara tentang hal-hal yang terakhir atau akhir zaman/hari-hari terakhir. Hal itu berpusat sekitar penafsiran mengenai pemerintahan Kristus pada kerajaan seribu tahun (Why 20). Apakah Kristus datang sebelum masa seribu tahun (pandangan premillennial)? Atau setelah akhir zaman (pandangan postmillennial)? Atau apakah masa seribu tahun itu sebenarnya hanya suatu kiasan saja bukan suatu hal yang benar-benar nyata (pandangan amillennial)? Para penafsir yang terdahulu kolot dibagi menjadi empat bagian: (postmillennial) setelah seribu tahun; 1000 tahun sebagai kiasan (amillennial); perkecualian/dispensasi sebelum seribu tahun (dispensational premillennial); dan pra seribu tahun secara sejarah (historical premillennial). Keempat kelompok ini adalah kelompok yang beraliran harafiah, apabila kata “harfiah” itu boleh di terjemahkan sebagai “mengartikan kata-kata seperti yang telah ditetapkan secara normal dan yang sesuai”. Di antara penafsir yang berhaluan kolot pun dibedakan antara literalis yang beraliran keras dan yang beraliran moderat. a. Aliran Post Millennialisme (Setelah seribu tahun). Paham yang populer pada permulaan abad ke dua puluh disebut sebagai masa sesudah seribu tahun (aliran postmillennialisme). Kelompok ini yakin akan adanya perkembangan Gereja Kristen oleh kuasa Roh sampai keadaan seribu tahun itu berlangsung di atas bumi. b. Kelompok Yang Tidak Percaya Pada Masa Seribu Tahun. Paham lain yang dipegang oleh banyak ahli-ahli Alkitab disebut sebagai kelompok yang tidak percaya pada masa seribu tahun (amillennialisme). Kelompok ini percaya bahwa nubuatan-nubuatan bagi Israel digenapi di dalam Gereja. Dan apabila benar demikian, maka tidak lagi diperlukan masa seribu tahun di bumi ini. c. Aliran Sebelum Masa Seribu Tahun (Premillennialisme). Ada berbagai pandangan premillennialisme: 1) Premillennialisme Dengan Perkecualian (Dispensational Premillennialisme) memberikan interpretasi yang sangat harafiah, terutama mengenai bangsa Israel, Gereja dan masa yang akan datang. Dalam faham ini, Israel dan Gereja, merupakan dua umat yang terpisah, tidak untuk disatukan atau dicampur adukkan, karena Allah mempunyai dua program: satu bagi Israel dan satu lagi bagi Gereja. Program teokratis Allah untuk Israel terganggu saat Israel menolak Kristus. Karena itu Allah berpaling pada Gereja untuk menyelesaikan tujuan PenyelamatanNya. Hal ini akan dipenuhi (diselesaikan) pada saat masa seribu tahun. Kemudian Allah akan mempersingkat program teokratisNya pada Israel dengan dipulihkannya pemerintahan Monarkhi Daud yang akan memerintah bangsa-bangsa atas bumi, di Palestina. Akan ada tahta secara harfiah, pemulihan tempat ibadah secara harafiah, pemulihan imamat menurut Perjanjian Lama secara harfiah dan tata cara pengorbanan yang juga secara harfiah. Semua janji-janji dari Perjanjian Lama akan secara harfiah digenapi. Aliran ini memisahkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan kelompok-kelompok umat (Israel atau Gereja). Aliran ini memegang teguh faham bahwa tak mungkin satu ayat dapat berlaku pada dua kelompok yang berbeda pada saat yang sama. Pandangan mengenai pengangkatan sebelum masa penganiayaan timbul dari konsep mereka tentang Gereja tak mungkin gereja masih ada di bumi, karena tujuan-tujuan Allah bagi bumi ini adalah untuk kembali memulihkan pemerintahan Kristus di bumi secara harfiah sehubungan dengan pandangan mereka tentang perjanjian Allah dengan Abraham (Abrahamic) dan Daud (Davidic). 2) Paham Pengangkatan Sebelum Masa Aniaya. Paham ini merupakan pengecualian didasarkan pada prinsip yang memisahkan Gereja dari rencana penyelamatan yang menyeluruh (total) dari Allah. Gereja harus “diangkat” (diambil) keluar dari dunia sebelum “aniaya besar”, karena Gereja bukan merupakan bagian dari Kerajaan 1000 tahun. Kerajaan 1000 tahun akan mengawali tingkat dari pemulihannya lewat sisa-sisa Israel yang bertahan dalam masa aniaya. Gereja dipindahkan dari dunia dengan cara Pengangkatan (dibawa pergi). Masa tujuh tahun aniaya yang mengikutinya dibagi menjadi dua periode, masing-masing lamanya tiga setengah tahun. Dalam melewati periode pertama, bangsa Israel memasuki perjanjian dengan antikris, yang akhirnya mengingkari janji itu. Periode kedua dimulai ketika setan mempersenjatai antikris dan “masa kesulitan Yakub” akan dituangkan ke atas bumi. Selama masa tujuh tahun penganiayaan ini, Injil Kerajaan (dan dalam teori ini dibedakan dari Injil kasih karunia) diberitakan. Sisa Israel yang terpilih, berjumlah 144.000, tetap bertahan melewati aniaya yang akan membentuk Kerajaan dan pada kerajaan ini Kristus akan kembali setelah masa tujuh tahun. Menurut aliran ini masa pemerintahan seribu tahun ditetapkan untuk orang-orang Yahudi, sebagai penggenapan rencana Allah bagi bangsa Israel; merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dari Perjanjian Lama secara harfiah. Kristus akan nyata-nyata duduk diatas tahta dan semua bangsa akan berada dibawah kekuasaan Israel. Beberapa aliran mengatakan bahwa Gereja akan kembali ke bumi pada awal pemerintahan seribu tahun dan berada di atas bumi selama masa ini. Namun yang lain mengatakan bahwa Gereja akan tinggal di kota suci, yang akan beredar (seperti sebuah satelit) di atas bumi. Gereja Allah harus dibangun kembali dan persembahan-persembahan korban harus dilakukan lagi. Hubungan antara sistem pengorbanan hewan dengan kematian Kristus adalah suatu “peringatan”, jadi bukan suatu “pengharapan”. “Pengharapan yang indah” bagi para dispensationalis (kelompok perkecualian) tampaknya adalah bahwa Kristus akan mengangkat “Gereja Parentikal”, sehingga Ia dapat memerintah melalui Israel, bukan melalui Gereja. (Gereja disebut “parentikal”, karena menurut aliran ini,Gereja merupakan sebuah fenomena sementara, yang hanya muncul (ada) antara Hari Pentakosta dan Masa Seribu Tahun). Dalam pandangan ini, gereja yang terorganisir di muka bumi adalah gereja yang ingkar. Para dispensationalis awalnya membedakan “Gereja yang benar” dengan “Kekristenan yaitu gereja yang terorganisir”. “Gereja yang benar” terdiri hanya dari orang-orang yang lahir baru, dan orang-orang yang diselamatkan. Hanya sedikit dari orang-orang yang menamakan dirinya Kristen termasuk golongan ini. Jadi “Gereja yang benar” dapat digambarkan sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Kristus, bukan mereka yang terdaftar sebagai anggota suatu organisasi gereja. 3) Premillennialisme Sejarah adalah aliran yang berada diantara amillennialisme dan dispensationalisme. Aliran ini berusaha untuk menggabungkan aliran yang berpandangan Kisah Sejarah (yang lampau) dan aliran yang mempunyai pandangan nubuatan dari kitab Wahyu. Binatang yang disebutkan dalam Wahyu 13, mula-mula tercermin dalam kekaisaran Romawi, tapi akhirnya sebagai pribadi antikris yang muncul di akhir zaman. Wahyu 19 dengan istilah simbolis apokaliptik, menggambarkan kedatangan Kristus yang Kedua itu untuk menghancurkan kejahatan dari setan yang berada di Roma dan dalam diri antikris. Ini digambarkan sebagai peperangan yang bergelimang darah, tetapi senjata satu-satunya adalah Firman yang keluar dari mulut Mesias yang berkemenangan (Why 19:15). Masa Seribu Tahun adalah masa peralihan (interval) untuk mencapai pemerintahan Penebusan Allah (Kerajaan Allah). 4. Konsep-konsep Kunci Untuk Mempelajari Beberapa konsep untuk dipertimbangkan dalam mempelajari hal-hal terakhir adalah: Kedatangan Kristus Yang Kedua; Masa Pemerintahan Seribu Tahun; Pengangkatan; Masa Aniaya; pengadilan Tahta Putih. Konsep-konsep di atas bukan merupakan catatan lengkap mengenai berbagai pandangan yang berbeda, juga tidak merupakan sesuatu yang harus diputuskan seorang yang mempelajari Alkitab. Sebaiknya, siswa Alkitab diberi kebebasan untuk mempelajari, berdoa dan dalam bimbingan Roh Kudus. Dengan adanya sintesis-sintesis yang beragam itu (penggabungan berbagai pandangan) hampir setiap ahli Alkitab mempunyai pandangannya sendiri tentang eskatologi (hal-hal Terakhir). Satu hal yang telah dibuktikan oleh sejarah: bahwa jarang sekali seseorang benar dalam meramalkan kejadian-kejadian tentang “akhir zaman” itu dan meramalkan apa yang digambarkan Alkitab sebagai “hari-hari terakhir” itu. 5. Tiga Hal Yang Pasti Tiga hal yang dapat kita pastikan terjadi adalah: a. Kesetiaan Membawa Upah (Ganjaran). Apabila kita menyibukkan diri kita dengan apa yang telah Ia minta untuk kita lakukan selama zaman Gereja, maka akhirnya kita akan menerima penghargaan (penghormatan): “… Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu” (Mat 25:23). b. Yang menantikan Dia Akan Melihat Dia. Apabila kita terus menerus “mencari” Dia, kita akan menjumpai Dia. “… Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi, tanpa menanggung dosa untuk menganugrahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (Ibr 9:28 pme). JANGAN menantikan antikris, nantikanlah Yesus! c. Saatnya Adalah Saat Allah, Bukan Saat Kita. Allah akan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan tujuanNya sendiri dan pada saat yang ditentukanNya sendiri. Ia tidak akan berkonsultasi dengan “daftar nubuatan” kita, apabila Ia telah siap untuk melakukan apa yang Alkitab katakan dalam Kitab Wahyu mengenai akhir zaman. 6. Penghangusan Penghangusan dimulai ketika malaikat menyerukan, “Tidak akan ada penundaan lagi!” (Why 10:6 niv). “Lalu malaikat yang ke tujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” “Dan semua bangsa telah marah, tetapi amarahMu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan namaMu, kepada orang-orang kecil dan besar dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi” (Why 19:7,9). C. PAHAM/PANDANGAN DISPENSATIONAL PREMILLENIUM DITOLAK Paham “Dispensational Premillenium”, yang mengganti tempat Gereja dengan Israel, dan yang membangun kembali bait suci orang Yahudi, keimamatan orang Lewi dan pengorbanan binatang, pasti goncang/tidak kokoh. 1. Yesus Mengubah Keimamatan Allah bersumpah bahwa Yesus akan mengubah keimamatan dari Lewi menjadi Imam dengan peraturan Melkisedek SELAMANYA.

“Sebab kalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu” (Ibr 7:12). “Sebab tentang Tuhan diberi kesaksian (dari Yesus), Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek” (Ibr 7: 17; Mzm 110:4). “Tetapi, karena Ia (Yesus) tetap selama-lamanya, imamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain” (Ibr 7:24). “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). 2. Pengorbanan Yesus Adalah Untuk Segala Zaman Pengorbanan Yesus, bukan merupakan sesuatu yang dapat digantikan oleh korban binatang “sebagai peringatan”. “Yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban (Perjanjian Lama) untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban” (Ibr 7:27 tlb). 3. Perjanjian Baru Yang Mengganti Perjanjian Lama Perjanjian Lama digantikan oleh Perjanjian Baru dengan janji-janji yang lebih baik, keimamatan yang lebih baik dan pengorbanan yang lebih baik. “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah melekat kepada kemusnahannya” (Ibr 8:13 tlb). “… Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua” (Ibr 10:9). Ayat-ayat ini jelas menolak pandangan-pandangan dari paham “Dispensational Premillennialis”. Tampaknya kita tidak akan melihat bait suci Yahudi dengan pengorbanan-pengorbanan binatang lagi. Yesus telah menyatakannya lebih dahulu tentang akhir dari tempat ibadah tersebut dan kehancurannya (Luk 21,6). Lalu apakah gunanya bait suci yang dipulihkan itu? “Tetapi Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia, …” (Kis 4:48; 17:24). 4. Imamat Berkerajaan Yang Memerintah Bersama Kristus “Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia …” (2 Tim 2:12). “… karena Engkau telah disembelih dan dengan darahmu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi” (Why 5:9,10 niv). Mereka yang memerintah bersama dengan Kristus disebut imam-imam yang rajani. Imam-imam yang rajani ini adalah mereka yang rela menderita untuk Kristus. Mereka berasal dari semua suku bangsa, bahasa dan bangsa (Dalam bahasa Yunani = ethnos berarti kelompok etnis kafir). Kedua belas rasul Anak Domba mempunyai hubungan khusus dengan kedua belas suku bangsa Israel. “… apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28). Namun demikian, apabila sudah sampai pada bangsa-bangsa Kafir, peluang untuk memerintah dan pelayanan keimamatan itu dilakukan bersama-sama dengan segala bangsa yang memang layak.

“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan BapaKu di atas takhta-Nya” (Why 3:21). Ayat di atas dituliskan bagi sidang di Laodikea. “… kirimkanlah kepada ketujuh jemaat di Asia … dan ke Laodikea” (Why 1:11). Sidang ini umumnya terdiri dari bangsa-bangsa Kafir di Asia. Dan apabila mereka menang, mereka dijanjikan tempat di takhta bersama Kristus.

Ini meragukan gagasan bahwa ada kelompok geopolitik yang disebut Israel akan memerintah dunia. Orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang berada dalam hubungan yang benar dengan Kristus akan memerintah bersama Dia. Mereka akan merupakan (menjadi) imam-imam yang berkerajaan (seperti Melkisedek). .

.