Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]
Bijaksanan merencanakan masadepan

Bijaksanan merencanakan masadepan

Sayangilah keluarga Anda dengan memilih asuransi jiwa yang benar-benar menjamin kesehatan dan masa depan Anda dan keluarga. Banyak asuransi yang mengiming-imingi keuntungan, namun pengelolaannya tidak jelas dan ujung-ujungnya nasabah yang dirugikan. More »

Preparing His path

Preparing His path

Time is nearest. More »

Beritakanlah Firman

Beritakanlah Firman

Beritakanlah Firman, baik atau tidak baik waktunya More »

This is default featured slide 5 title

This is default featured slide 5 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Akhir Zaman

 

SEDIKIT MENGUPAS AKHIR JAMAN
Dari berbagai sumber


.” Pendahuluan Sampai saat ini banyak pertentangan pendapat antara orang-orang Kristen tentang bagaimana mengartikan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab mengenai akhir dari zaman Gereja dan kejadian-kejadian yang mengikutinya.
Ilmu tentang hal ini disebut “eskatologi”, berasal dari kata Yunani “eschatos” yang hampir sama dengan bahasa Inggris “escalate” (terangkat ) dan digunakan dalam istilah Theologi untuk menunjuk masa”pengangkatan orang kudus” pada akhir jaman. Lima kali dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan kata ini dalam hubungan dengan kebangkitan orang-orang benar yang telah meninggal: “… Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman” (6:39,40,44,54; 11:24). Dalam konteks ini, “eschatos” menunjuk pada saat KedatanganNya Kedua kali ke dunia. “… pada waktu bunyi nafiri yang terakhir … orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan kita semua akan diubah” (1 Kor 15:52). “Maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:16).
Bacaan yang paling mendukung adalah dalam Kisah Para Rasul 2:16,17 dalam Alkitab terjemahan Amplified: “Ini adalah permulaan dari apa yang difirmankan Allah lewat perantara nabi Yoel … Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia …” Petrus berkata bahwa nubuatan dari nabi Yoel tentang akhir zaman telah mulai pada hari Pentakosta ketika Roh dicurahkan di kamar loteng lima puluh hari setelah penyaliban Yesus. Dalam konteks yang lebih luas, berarti “hari-hari terakhir” dimulai pada saat Pentakosta pada tahun 33 Masehi. Banyak orang yakin bahwa “hari-hari terakhir” akan berakhir saat Yesus datang kembali ke dunia. A. SEMBILAN KEJADIAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI-HARI TERAKHIR Ayat-ayat berikut mencakup hampir semua (sembilan) kejadian-kejadian yang berhubungan dengan hari-hari terakhir. Kehadiran suara “sangkakala” akan menjadi tanda. Pesta terakhir yang dirayakan oleh bangsa Israel tiap tahun pada akhir musim menuai (Hari Raya Tabernakel) dimulai dengan peniupan sangkakala (Im 23:24; Bil 29:1). Perayaan ini memiliki suatu arti nubuatan yang menggambarkan hari-hari terakhir dari zaman Gereja. Ini adalah beberapa hal yang akan terjadi: 1. Kedatangan Kristus Kembali
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangka-kala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:15, 16). “Sesungguhnya, Aku akan menyatakan suatu rahasia; kita tidak akan mati semuanya tapi kita semuanya akan diubahkan.”
“Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir sebab nafiri akan berbunyi dan 2. Orang-orang Mati Akan Dibangkitkan “Orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan 3. Orang-orang Yang Hidup Akan Diubahkan “Kita semua akan diubah” (1 Kor 15:51,52). “Lalu malaikat yang ke tujuh meniup sangkakalanya; dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam Sorga, katanya, 4. Kristus Memerintah “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita. Dia yang diurapiNya, dan Ia (Kristus) akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Why 11:15). 5. Bangsa-bangsa Marah “dan semua bangsa telah marah, tetapi 6. Kemurkaan Allah “amarahMu telah datang dan 7. Penghukuman Orang-orang Mati “saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan 8. Upah Diberikan “Untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan namaMu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan 9. Orang-orang Berdosa Dibinasakan “Untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi” (Why 11:18). Kesembilan hal di atas adalah peristiwa-peristiwa utama yang mengikuti masa penghabisan dari Gereja dan kedatangan masa Kerajaan seribu tahun. B. MELIHAT PADA ESKATOLOGI (TINJAUAN TERHADAP ESKATOLOGI) 1. Jangan Terlalu Tercekam Ada banyak catatan-catatan dalam beberapa Alkitab bahasa Inggris yang memberikan pengertian-pengertian tentang hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman (eskatologi) (saya hanya menyebutkan dua saja, yaitu terjemahan Scofield dan Dakes). Ketika mempelajari Perjanjian Baru anda akan menemukan adanya rasa keingintahuan pada murid-murid Yesus tentang akhir zaman. “Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-muridNya kepadaNya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka, katakanlah kepada kami, bilamana itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat 24:3). Jawaban Yesus yang paling penting tentang hal ini dapat ditemukan dalam Matius 24:14: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya”. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “bangsa-bangsa” adalah ethnos yang berarti semua kelompok ethis bukan Yahudi (kafir). Penterjemah-penterjemah bahasa Inggris menggunakan semua kata-kata berikut ini untuk mengartikan kata ethnos tersebut: Orang-orang kafir, tidak bertuhan, bangsa, bangsa-bangsa, umat. Di negara-negara Barat, para missiologis sekarang mengartikan ethnos sebagai “kelompok orang”. Beberapa komentar menekankan bahwa akhir zaman itu tergantung pada Injil yang dikabarkan pada semua kelompok orang. Yesus secara terus menerus berusaha untuk membelokkan perhatian murid-muridNya dari “hal-hal yang indah yang akan segera terjadi” kepada “hal-hal yang dibutuhkan sekarang dan sekarang”. Dalam Kisah Para Rasul 1, kita membaca usaha Yesus untuk mempersiapkan murid-muridNya bagi pekerjaan yang sudah tersedia di hadapan mereka (penginjilan dunia). Dia memberi mereka perintah-perintah untuk menerima kuasa Roh. Apakah jawaban mereka? Sama seperti sebagian besar pemimpin gereja, mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan eskatologi. Mereka tidak terlalu tertarik pada tanggung jawab mereka saat ini. Perhatikanlah Kisah Para Rasul 1:6: “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? “JawabNya, Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (ayat 7,8). TanggapanNya merupakan teguran halus pada keingin-tahuan mereka yang manusiawi tentang masa depan dan sikap apatis mereka tentang program Allah yang sekarang bagi zaman Gereja. “… Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu …” Tugas serius ada dihadapan mereka. Mereka seharusnya menjadi “… saksi-saksi (Yunani = “martir-martir”) bagi Dia di hampir semua tempat di bumi ini”. Sangatlah jelas bahwa Yesus menaruh perhatian yang jauh lebih besar pada keselamatan orang-orang yang terhilang saat ini daripada membangkitkan rasa ingin tahu yang duniawi tentang hal-hal ini masa depan (eskatologi). Yesus tidak ingin para pemimpin Gereja itu mengembangkan pemberian keterangan-keterangan yang lebih lanjut, tapi tidak pasti tentang hari-hari terakhir. Jauh lebih baik jika anda berada “di dalam pekerjaan Bapa anda” (Luk 2:49), “… dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, dimana nama Kristus telah dikenal orang” (Rm 15:20). 2. Pandangan-pandangan Eskatologi Yang Berbeda a. “Dalam Sejarah Tersebut”. Ada banyak pandangan-pandangan yang bertentangan. Pandangan “telah disebutkan dulu”, atau “Dalam Sejarah Tersebut”, menyatakan bahwa nubuatan dari Kitab Wahyu contohnya, semata-mata diperuntukkan bagi zaman dari saat Yohanes, yang mendapatkan wahyu itu hidup. Mereka yang memegang faham ini percaya bahwa apa yang ditulis dan di catat Yohanes dalam Wahyu (Apocalypse) sudah digenapi saat itu, jadi tak ada hubungannya dengan keadaan saat kita hidup sekarang ini. Para sarjana-sarjana aliran “liberal” (yang sebagian besar tidak percaya pada mujizat-mujizat yang ditulis dalam Alkitab) pada umumnya mendukung faham ini. b. “Sepanjang Sejarah”. Pandangan kesejarahan, atau “sepanjang sejarah” melihat visi dari Kitab Wahyu sebagai kilasan peristiwa yang akan terjadi dalam sejarah sejak dari zaman Yohanes sampai akhir dari masa Gereja. Kelompok Reformasi Protestan sebagian besar mendukung pandangan ini. Beberapa dari orang-orang yang berfaham ini percaya bahwa satu dari tujuh jemaat dalam Wahyu 2 dan 3 mewakili tujuh masa yang akan terjadi secara berurutan dari zaman Yohanes hingga dari masa akhir zaman Gereja. Sebagai contohnya: apa yang kita baca tentang Gereja pertama dari tujuh jemaat itu (Efesus) menyatakan bagaimana keadaan Gereja pada abad pertama, setelah masa hidup Yohanes. Apa yang ditulis tentang Gereja yang terakhir dari tujuh Gereja tersebut (Laodikea) menyatakan bagaimana keadaan gereja pada akhir zaman, sesaat sebelum Yesus datang kembali ke dunia. Gereja-gereja yang lain akan mewakili zaman-zaman di antara Efesus (Gereja yang pertama) dan Laodikea (Gereja yang terakhir). Berikut adalah sebuah contoh dari penjelasan seorang penulis tentang pandangan ini. “Ke tujuh surat ini ditulis bagi jemaat-jemaat yang benar-benar ada dalam sejarah pada akhir dari abad pertama di propinsi di Asia sekarang adalah Turki bagian Barat.” “Surat-surat ini dikirimkan pada ke tujuh jemaat tersebut. Kota-kota dan jemaat-jemaat yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu benar-benar ada.” “Pada saat itu tentu saja ada banyak gereja-gereja Kristen lainnya, seperti yang ada di kota-kota Roma, Korintus, Kolose dan sebagainya”. “Ke tujuh gereja ini, disediakan Allah sebagai suatu mikro kosmos (contoh/model miniatur/kecil) dari semua gereja di segala zaman, karena itu mereka adalah wakil seluruh gereja. Masalah-masalah yang dihadapi oleh ke tujuh gereja tersebut, akan dihadapi juga oleh gereja-gereja masa sekarang dalam tingkatan yang beragam. Dari surat-surat tersebut kita dapat mempelajari kualitas-kualitas apa yang tak menyenangkan Allah dan apa yang Kristus sarankan untuk pengobatan mereka.” “Beberappa bahkan juga telah melihat suatu kualitas nubuat dalam gereja-gereja ini, yaitu dalam kitab nubuatan ini, gereja-gereja itu merupakan bayangan dari tujuh ciri-ciri dominan gereja di seluruh dunia sepanjang berbagai masa sampai Tuhan datang. Masa-masa yang disebutkan tersebut jika dilihat dari zaman yang terdahulu sampai sekarang adalah sebagai berikut: Efesus – gereja zaman rasul-rasul (30 – 100 M) Smirna – gereja yang dianiaya (100 – 313 M) Pergamus – gereja negara (313 – 590 M) Tiatira – gereja dari ke Pausan (Katolik) (590 – 1517 M) Sardis – gereja reformasi (1517 – 1730 M) Filadelphia – gereja Injili (1730 – pengangkatan) Laodikea – gereja yang murtad (ingkar) (1900 M – kedatangan Tuhan kedua kali) “Kristus menulis pada tujuh gereja setempat ini karena setiap jemaat merupakan gereja yang mengatur diri sendiri. Sebuah gereja lokal bisa berhubungan dengan suatu persekutuan, suatu denominasi, atau suatu kelompok sosial yang lebih besar dan lebih kooperatif, tapi Allah memegang tanggung jawab kepemimpinan dalam pengajaran bagi jemaatNya”. Rahasia pengajaran dari setiap surat adalah mengenali masalah-masalah utama dari setiap gereja, seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan, dan kemudian melihat bagaimana segala sesuatu yang tertulis dalam surat tersebut pernyataan Kristus (penampakan), peringatan dan janji-janji akan upah dari Kristus dihubungkan dengan masalah-masalah tadi. c. “Di Atas Sejarah”. Pandangan yang puitis, atau, “Di atas sejarah”, melihat sang nabi (Yohanes) menggambarkan dengan cara yang dramatis kemenangan Allah yang meyakinkan atas segala kuasa kegelapan. Hal ini sedikit sekali atau sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masa depan atau dengan sejarah. Semua penampakan merupakan suatu “drama” dari kemenangan akhir dari kebaikan atas kejahatan. 3. Perbedaan Pandangan Tentang Kerajaan Seribu Tahun Kata dari bahasa Inggris millennium artinya “jangka waktu seribu tahun”. Perioda seribu tahun ini disebutkan enam kali dalam Wahyu 20. Pandangan-pandangan tentang masa seribu tahun inilah yang biasanya menyebabkan paling banyak pertentangan apabila seseorang itu berbicara tentang hal-hal yang terakhir atau akhir zaman/hari-hari terakhir. Hal itu berpusat sekitar penafsiran mengenai pemerintahan Kristus pada kerajaan seribu tahun (Why 20). Apakah Kristus datang sebelum masa seribu tahun (pandangan premillennial)? Atau setelah akhir zaman (pandangan postmillennial)? Atau apakah masa seribu tahun itu sebenarnya hanya suatu kiasan saja bukan suatu hal yang benar-benar nyata (pandangan amillennial)? Para penafsir yang terdahulu kolot dibagi menjadi empat bagian: (postmillennial) setelah seribu tahun; 1000 tahun sebagai kiasan (amillennial); perkecualian/dispensasi sebelum seribu tahun (dispensational premillennial); dan pra seribu tahun secara sejarah (historical premillennial). Keempat kelompok ini adalah kelompok yang beraliran harafiah, apabila kata “harfiah” itu boleh di terjemahkan sebagai “mengartikan kata-kata seperti yang telah ditetapkan secara normal dan yang sesuai”. Di antara penafsir yang berhaluan kolot pun dibedakan antara literalis yang beraliran keras dan yang beraliran moderat. a. Aliran Post Millennialisme (Setelah seribu tahun). Paham yang populer pada permulaan abad ke dua puluh disebut sebagai masa sesudah seribu tahun (aliran postmillennialisme). Kelompok ini yakin akan adanya perkembangan Gereja Kristen oleh kuasa Roh sampai keadaan seribu tahun itu berlangsung di atas bumi. b. Kelompok Yang Tidak Percaya Pada Masa Seribu Tahun. Paham lain yang dipegang oleh banyak ahli-ahli Alkitab disebut sebagai kelompok yang tidak percaya pada masa seribu tahun (amillennialisme). Kelompok ini percaya bahwa nubuatan-nubuatan bagi Israel digenapi di dalam Gereja. Dan apabila benar demikian, maka tidak lagi diperlukan masa seribu tahun di bumi ini. c. Aliran Sebelum Masa Seribu Tahun (Premillennialisme). Ada berbagai pandangan premillennialisme: 1) Premillennialisme Dengan Perkecualian (Dispensational Premillennialisme) memberikan interpretasi yang sangat harafiah, terutama mengenai bangsa Israel, Gereja dan masa yang akan datang. Dalam faham ini, Israel dan Gereja, merupakan dua umat yang terpisah, tidak untuk disatukan atau dicampur adukkan, karena Allah mempunyai dua program: satu bagi Israel dan satu lagi bagi Gereja. Program teokratis Allah untuk Israel terganggu saat Israel menolak Kristus. Karena itu Allah berpaling pada Gereja untuk menyelesaikan tujuan PenyelamatanNya. Hal ini akan dipenuhi (diselesaikan) pada saat masa seribu tahun. Kemudian Allah akan mempersingkat program teokratisNya pada Israel dengan dipulihkannya pemerintahan Monarkhi Daud yang akan memerintah bangsa-bangsa atas bumi, di Palestina. Akan ada tahta secara harfiah, pemulihan tempat ibadah secara harafiah, pemulihan imamat menurut Perjanjian Lama secara harfiah dan tata cara pengorbanan yang juga secara harfiah. Semua janji-janji dari Perjanjian Lama akan secara harfiah digenapi. Aliran ini memisahkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan kelompok-kelompok umat (Israel atau Gereja). Aliran ini memegang teguh faham bahwa tak mungkin satu ayat dapat berlaku pada dua kelompok yang berbeda pada saat yang sama. Pandangan mengenai pengangkatan sebelum masa penganiayaan timbul dari konsep mereka tentang Gereja tak mungkin gereja masih ada di bumi, karena tujuan-tujuan Allah bagi bumi ini adalah untuk kembali memulihkan pemerintahan Kristus di bumi secara harfiah sehubungan dengan pandangan mereka tentang perjanjian Allah dengan Abraham (Abrahamic) dan Daud (Davidic). 2) Paham Pengangkatan Sebelum Masa Aniaya. Paham ini merupakan pengecualian didasarkan pada prinsip yang memisahkan Gereja dari rencana penyelamatan yang menyeluruh (total) dari Allah. Gereja harus “diangkat” (diambil) keluar dari dunia sebelum “aniaya besar”, karena Gereja bukan merupakan bagian dari Kerajaan 1000 tahun. Kerajaan 1000 tahun akan mengawali tingkat dari pemulihannya lewat sisa-sisa Israel yang bertahan dalam masa aniaya. Gereja dipindahkan dari dunia dengan cara Pengangkatan (dibawa pergi). Masa tujuh tahun aniaya yang mengikutinya dibagi menjadi dua periode, masing-masing lamanya tiga setengah tahun. Dalam melewati periode pertama, bangsa Israel memasuki perjanjian dengan antikris, yang akhirnya mengingkari janji itu. Periode kedua dimulai ketika setan mempersenjatai antikris dan “masa kesulitan Yakub” akan dituangkan ke atas bumi. Selama masa tujuh tahun penganiayaan ini, Injil Kerajaan (dan dalam teori ini dibedakan dari Injil kasih karunia) diberitakan. Sisa Israel yang terpilih, berjumlah 144.000, tetap bertahan melewati aniaya yang akan membentuk Kerajaan dan pada kerajaan ini Kristus akan kembali setelah masa tujuh tahun. Menurut aliran ini masa pemerintahan seribu tahun ditetapkan untuk orang-orang Yahudi, sebagai penggenapan rencana Allah bagi bangsa Israel; merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dari Perjanjian Lama secara harfiah. Kristus akan nyata-nyata duduk diatas tahta dan semua bangsa akan berada dibawah kekuasaan Israel. Beberapa aliran mengatakan bahwa Gereja akan kembali ke bumi pada awal pemerintahan seribu tahun dan berada di atas bumi selama masa ini. Namun yang lain mengatakan bahwa Gereja akan tinggal di kota suci, yang akan beredar (seperti sebuah satelit) di atas bumi. Gereja Allah harus dibangun kembali dan persembahan-persembahan korban harus dilakukan lagi. Hubungan antara sistem pengorbanan hewan dengan kematian Kristus adalah suatu “peringatan”, jadi bukan suatu “pengharapan”. “Pengharapan yang indah” bagi para dispensationalis (kelompok perkecualian) tampaknya adalah bahwa Kristus akan mengangkat “Gereja Parentikal”, sehingga Ia dapat memerintah melalui Israel, bukan melalui Gereja. (Gereja disebut “parentikal”, karena menurut aliran ini,Gereja merupakan sebuah fenomena sementara, yang hanya muncul (ada) antara Hari Pentakosta dan Masa Seribu Tahun). Dalam pandangan ini, gereja yang terorganisir di muka bumi adalah gereja yang ingkar. Para dispensationalis awalnya membedakan “Gereja yang benar” dengan “Kekristenan yaitu gereja yang terorganisir”. “Gereja yang benar” terdiri hanya dari orang-orang yang lahir baru, dan orang-orang yang diselamatkan. Hanya sedikit dari orang-orang yang menamakan dirinya Kristen termasuk golongan ini. Jadi “Gereja yang benar” dapat digambarkan sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Kristus, bukan mereka yang terdaftar sebagai anggota suatu organisasi gereja. 3) Premillennialisme Sejarah adalah aliran yang berada diantara amillennialisme dan dispensationalisme. Aliran ini berusaha untuk menggabungkan aliran yang berpandangan Kisah Sejarah (yang lampau) dan aliran yang mempunyai pandangan nubuatan dari kitab Wahyu. Binatang yang disebutkan dalam Wahyu 13, mula-mula tercermin dalam kekaisaran Romawi, tapi akhirnya sebagai pribadi antikris yang muncul di akhir zaman. Wahyu 19 dengan istilah simbolis apokaliptik, menggambarkan kedatangan Kristus yang Kedua itu untuk menghancurkan kejahatan dari setan yang berada di Roma dan dalam diri antikris. Ini digambarkan sebagai peperangan yang bergelimang darah, tetapi senjata satu-satunya adalah Firman yang keluar dari mulut Mesias yang berkemenangan (Why 19:15). Masa Seribu Tahun adalah masa peralihan (interval) untuk mencapai pemerintahan Penebusan Allah (Kerajaan Allah). 4. Konsep-konsep Kunci Untuk Mempelajari Beberapa konsep untuk dipertimbangkan dalam mempelajari hal-hal terakhir adalah: Kedatangan Kristus Yang Kedua; Masa Pemerintahan Seribu Tahun; Pengangkatan; Masa Aniaya; pengadilan Tahta Putih. Konsep-konsep di atas bukan merupakan catatan lengkap mengenai berbagai pandangan yang berbeda, juga tidak merupakan sesuatu yang harus diputuskan seorang yang mempelajari Alkitab. Sebaiknya, siswa Alkitab diberi kebebasan untuk mempelajari, berdoa dan dalam bimbingan Roh Kudus. Dengan adanya sintesis-sintesis yang beragam itu (penggabungan berbagai pandangan) hampir setiap ahli Alkitab mempunyai pandangannya sendiri tentang eskatologi (hal-hal Terakhir). Satu hal yang telah dibuktikan oleh sejarah: bahwa jarang sekali seseorang benar dalam meramalkan kejadian-kejadian tentang “akhir zaman” itu dan meramalkan apa yang digambarkan Alkitab sebagai “hari-hari terakhir” itu. 5. Tiga Hal Yang Pasti Tiga hal yang dapat kita pastikan terjadi adalah: a. Kesetiaan Membawa Upah (Ganjaran). Apabila kita menyibukkan diri kita dengan apa yang telah Ia minta untuk kita lakukan selama zaman Gereja, maka akhirnya kita akan menerima penghargaan (penghormatan): “… Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu” (Mat 25:23). b. Yang menantikan Dia Akan Melihat Dia. Apabila kita terus menerus “mencari” Dia, kita akan menjumpai Dia. “… Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi, tanpa menanggung dosa untuk menganugrahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (Ibr 9:28 pme). JANGAN menantikan antikris, nantikanlah Yesus! c. Saatnya Adalah Saat Allah, Bukan Saat Kita. Allah akan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan tujuanNya sendiri dan pada saat yang ditentukanNya sendiri. Ia tidak akan berkonsultasi dengan “daftar nubuatan” kita, apabila Ia telah siap untuk melakukan apa yang Alkitab katakan dalam Kitab Wahyu mengenai akhir zaman. 6. Penghangusan Penghangusan dimulai ketika malaikat menyerukan, “Tidak akan ada penundaan lagi!” (Why 10:6 niv). “Lalu malaikat yang ke tujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” “Dan semua bangsa telah marah, tetapi amarahMu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hambaMu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan namaMu, kepada orang-orang kecil dan besar dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi” (Why 19:7,9). C. PAHAM/PANDANGAN DISPENSATIONAL PREMILLENIUM DITOLAK Paham “Dispensational Premillenium”, yang mengganti tempat Gereja dengan Israel, dan yang membangun kembali bait suci orang Yahudi, keimamatan orang Lewi dan pengorbanan binatang, pasti goncang/tidak kokoh. 1. Yesus Mengubah Keimamatan Allah bersumpah bahwa Yesus akan mengubah keimamatan dari Lewi menjadi Imam dengan peraturan Melkisedek SELAMANYA.

“Sebab kalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu” (Ibr 7:12). “Sebab tentang Tuhan diberi kesaksian (dari Yesus), Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek” (Ibr 7: 17; Mzm 110:4). “Tetapi, karena Ia (Yesus) tetap selama-lamanya, imamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain” (Ibr 7:24). “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). 2. Pengorbanan Yesus Adalah Untuk Segala Zaman Pengorbanan Yesus, bukan merupakan sesuatu yang dapat digantikan oleh korban binatang “sebagai peringatan”. “Yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban (Perjanjian Lama) untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban” (Ibr 7:27 tlb). 3. Perjanjian Baru Yang Mengganti Perjanjian Lama Perjanjian Lama digantikan oleh Perjanjian Baru dengan janji-janji yang lebih baik, keimamatan yang lebih baik dan pengorbanan yang lebih baik. “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah melekat kepada kemusnahannya” (Ibr 8:13 tlb). “… Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua” (Ibr 10:9). Ayat-ayat ini jelas menolak pandangan-pandangan dari paham “Dispensational Premillennialis”. Tampaknya kita tidak akan melihat bait suci Yahudi dengan pengorbanan-pengorbanan binatang lagi. Yesus telah menyatakannya lebih dahulu tentang akhir dari tempat ibadah tersebut dan kehancurannya (Luk 21,6). Lalu apakah gunanya bait suci yang dipulihkan itu? “Tetapi Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia, …” (Kis 4:48; 17:24). 4. Imamat Berkerajaan Yang Memerintah Bersama Kristus “Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia …” (2 Tim 2:12). “… karena Engkau telah disembelih dan dengan darahmu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi” (Why 5:9,10 niv). Mereka yang memerintah bersama dengan Kristus disebut imam-imam yang rajani. Imam-imam yang rajani ini adalah mereka yang rela menderita untuk Kristus. Mereka berasal dari semua suku bangsa, bahasa dan bangsa (Dalam bahasa Yunani = ethnos berarti kelompok etnis kafir). Kedua belas rasul Anak Domba mempunyai hubungan khusus dengan kedua belas suku bangsa Israel. “… apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28). Namun demikian, apabila sudah sampai pada bangsa-bangsa Kafir, peluang untuk memerintah dan pelayanan keimamatan itu dilakukan bersama-sama dengan segala bangsa yang memang layak.

“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan BapaKu di atas takhta-Nya” (Why 3:21). Ayat di atas dituliskan bagi sidang di Laodikea. “… kirimkanlah kepada ketujuh jemaat di Asia … dan ke Laodikea” (Why 1:11). Sidang ini umumnya terdiri dari bangsa-bangsa Kafir di Asia. Dan apabila mereka menang, mereka dijanjikan tempat di takhta bersama Kristus.

Ini meragukan gagasan bahwa ada kelompok geopolitik yang disebut Israel akan memerintah dunia. Orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang berada dalam hubungan yang benar dengan Kristus akan memerintah bersama Dia. Mereka akan merupakan (menjadi) imam-imam yang berkerajaan (seperti Melkisedek). .

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *